Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

381.054 Anak Sekolah di Cilacap Jadi Sasaran Cek Kesehatan Gratis

381.054 anak sekolah jadi sasaran ckg381.054 anak sekolah jadi sasaran ckg
Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, dr. Novita Kukilowati, memberikan penjelasan mengenai Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Pada tanggal 14 Juli, tepat di awal tahun ajaran baru, Kabupaten Cilacap mulai melaksanakan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang ditujukan bagi anak sekolah. Namun, pelaksanaan program tersebut belum sepenuhnya siap dilakukan hingga saat ini.

Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan sasaran program ini.

Sebanyak 381.054 anak sekolah yang tersebar di berbagai lembaga pendidikan negeri maupun swasta, termasuk madrasah, akan menjadi fokus program.

Secara lebih rinci, target program mencakup 36.470 anak PAUD, 8.315 siswa RA, 142.976 anak SD, dan 34.145 anak MI.

Untuk jenjang SMP, ada 66.223 anak yang menjadi sasaran, serta 19.068 anak MTs dan 19.714 anak SMA yang juga akan diperiksa kesehatannya.

Selain itu, terdapat 8.687 anak MA dan 44.368 anak SMK yang turut menjadi bagian dari inisiatif ini, ditambah dengan 1.088 anak dari SLB.

“Kami tidak hanya memberikan layanan ini untuk anak-anak yang bersekolah saja,” ujar dr. Novita Kukilowati.

Ia menambahkan bahwa pihaknya juga berusaha agar anak-anak yang tidak bersekolah dapat turut mendapatkan pemeriksaan kesehatan serupa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Dinas Kesehatan akan bekerja sama dengan Dinas Sosial dalam mengumpulkan data mengenai anak-anak yang tidak sekolah guna memastikan pemeriksaan kesehatan berlangsung merata dan adil.

“Kami juga sedang menghitung jumlah sasaran untuk mempersiapkan kebutuhan Barang Habis Pakai (BHP) yang diperlukan selama pemeriksaan,” jelas dr. Novita lebih lanjut.

Program pemeriksaan kesehatan ini pada dasarnya mirip dengan program sebelumnya meskipun ada beberapa perbedaan kecil pada jenis tes yang dilakukan sesuai jenjang pendidikan masing-masing.

Untuk jenjang SD atau usia antara 7 hingga 12 tahun, pemeriksaan meliputi pemantauan status gizi, kebiasaan merokok khususnya untuk kelas 5 dan 6, tingkat aktivitas fisik pada kelas 4 sampai kelas 6, serta pemeriksaan tekanan darah dan gula darah.

Selain itu, deteksi Tuberkulosis serta pemeriksaan kesehatan telinga, mata, gigi, jiwa dan hati (Hepatitis B) juga termasuk dalam tes ini. Kesehatan reproduksi untuk siswa kelas 4 hingga kelas 6 serta riwayat imunisasi bagi siswa kelas 1 juga diperiksa.

Beranjak ke tingkat SMP atau usia antara 13 sampai dengan 15 tahun, tes-tes meliputi status gizi dan kebiasaan merokok serta aktivitas fisik di kalangan remaja tersebut.

Pemeriksaan tekanan darah dan gula darah tetap menjadi bagian penting dari program ini bersama dengan deteksi Tuberkulosis.

Selanjutnya ada pula tes talasemia khusus untuk kelas 7 serta anemia pada umumnya di kalangan remaja putri.

Siswa juga menjalani pemeriksaan telinga, mata, gigi serta kesehatan mental mereka termasuk hati (Hepatitis B dan C). Riwayat imunisasi HPV untuk siswi kelas 9 juga diperiksa demi menjamin kesehatan reproduksi mereka.

Sedangkan bagi siswa SMA yang merupakan remaja akhir usia sekolah menengah atas akan menjalani berbagai tes termasuk status gizi mereka serta kebiasaan merokok yang umum terjadi pada usia ini bersama aktivitas fisik harian mereka sendiri-sendiri.

Tes tekanan darah dan kadar gula darah tetap menjadi bagian integral disertai deteksi Tuberkulosis maupun anemia remaja putri dikhususkan bagi para siswi kelas sepuluh bersamaan pengecekan kondisi telinga mata gigi jiwa seperti halnya hepatitis B maupun C terakhir aspek kesehatan reproduksi jadi perhatian utama dalam rangkaian uji coba kali ini.

Menurut dr Novita tujuan besar dari pelaksanaan program CKG ialah upaya skrining dini terhadap potensi gangguan-gangguan kesehatan sehingga jika ditemukan gejala serius maka peserta akan segera dirujuk menuju puskesmas atau rumah sakit terdekat sesuai prosedur medis berlaku.

“Dinas Kesehatan berharap program ini bisa berjalan secara maksimal menjangkau seluruh kalangan tanpa pengecualian baik mereka masih aktif mengikuti kegiatan belajar formal maupun sudah tidak lagi,” pungkasnya mengakhiri. (gia/stch)

Berita Sebelumnya
Wacana bandara husein dibuka lagi

Wacana Bandara Husein Sastranegara Bandung Dibuka Lagi untuk Penerbangan Jet Komersial

Berita Selanjutnya
Embun es kembali bikin "nggreges"

Fenomena Langka Embun Es Muncul, Suhu di Dieng Sempat Capai Nol Derajat Celcius