BANYUMASEKSPRES.ID, Gagal jantung di Indonesia menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD), Indonesia menempati posisi kedua di Asia dalam prevalensi gagal jantung setelah China.
Posisi ini menunjukkan masih tingginya beban penyakit kardiovaskular di Tanah Air. Tingginya kasus gagal jantung tidak muncul secara tiba-tiba.
Kondisi tersebut umumnya merupakan hasil dari berbagai penyakit dan faktor risiko yang berlangsung dalam waktu lama.
Masalahnya, sebagian masyarakat belum menyadari adanya gangguan kesehatan karena jarang melakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula, maupun kolesterol.
Akibatnya, penyakit yang sebenarnya dapat dikendalikan sejak awal berkembang secara perlahan hingga memengaruhi kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.

Gagal Jantung Merupakan Tahap Akhir Berbagai Penyakit Jantung
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, menjelaskan bahwa gagal jantung menjadi manifestasi akhir dari berbagai penyakit jantung.
Artinya, seseorang tidak selalu mengalami gagal jantung karena satu penyebab saja. Beragam faktor risiko berlangsung lama dan tidak tertangani menyebabkan fungsi jantung menurun secara bertahap.
Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari. Selain itu, inilah penyebab potensi sakit jantung diusia muda.
Pasien gagal jantung memiliki risiko mengalami perburukan kondisi sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit secara berulang. Beberapa kondisi yang dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi jantung .
Hal ini antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, efek tertentu dari pengobatan kanker, hingga komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan.
Hipertensi Menjadi Salah Satu Faktor yang Perlu Diwaspadai
Salah satu faktor risiko utama yang perlu dikendalikan adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ketika tekanan darah terus berada pada tingkat tinggi, jantung harus bekerja lebih keras agar darah dapat dipompa ke seluruh tubuh.
Apabila berlangsung selama bertahun-tahun tanpa pengobatan dan pengawasan yang tepat, beban tersebut dapat menyebabkan perubahan pada otot jantung.
Dalam jangka panjang, kemampuan jantung untuk bekerja secara optimal dapat mengalami penurunan. Masalahnya, hipertensi kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Seseorang bisa merasa sehat meskipun tekanan darahnya berada di atas batas normal. Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting.
Diabetes dan Kolesterol Juga Berpengaruh
Selain hipertensi, diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat memengaruhi jaringan dan fungsi otot jantung.
Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah diabetic cardiomyopathy. Kadar kolesterol yang tinggi juga perlu diperhatikan.
Penumpukan kolesterol pada pembuluh darah dapat berkontribusi terhadap terbentuknya plak yang mempersempit aliran darah.
Jika pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan, suplai darah dan oksigen ke otot jantung dapat terganggu.
Dalam kondisi tertentu, kerusakan pada jaringan jantung dapat terjadi dan akhirnya memengaruhi kemampuan organ tersebut dalam menjalankan fungsinya.
Karena itu, pemeriksaan gula darah dan kolesterol sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah merasakan keluhan.
Pola Makan dan Kurang Aktivitas Fisik Ikut Meningkatkan Risiko
Faktor gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Pola makan yang banyak mengandung garam dan lemak meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan.
Hal ini termasuk tekanan darah tinggi dan gangguan kadar kolesterol. Di sisi lain, kurang bergerak atau jarang melakukan aktivitas fisik membuat seseorang lebih rentan mengalami berbagai faktor risiko penyakit jantung.
Kebiasaan tersebut berisiko apabila disertai pola hidup dalam waktu lama. Bukan berarti setiap orang yang memiliki pola makan kurang sehat atau jarang berolahraga pasti mengalami gagal jantung.
Namun, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya faktor risiko yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan jantung.
Pentingnya Deteksi Dini untuk Mencegah Gagal Jantung
Salah satu persoalan dalam penanganan penyakit jantung adalah masih adanya pasien yang baru mengetahui kondisinya setelah fungsi jantung mengalami penurunan.
Rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin menjadi salah satu faktor yang perlu diperbaiki.
Masyarakat dapat memulai pencegahan dengan memantau tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala.
Menjaga berat badan, menerapkan pola makan seimbang, aktif bergerak, tidak merokok, serta mengikuti anjuran dokter apabila memiliki penyakit tertentu juga penting dilakukan.
Terlebih bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular, pemeriksaan kesehatan sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas.
Pada akhirnya, tingginya angka gagal jantung di Indonesia menunjukkan pentingnya pencegahan sejak dini. Gagal jantung dapat merupakan hasil dari akumulasi berbagai faktor risiko yang berlangsung lama.
Dengan mengenali dan mengendalikan faktor tersebut lebih awal, risiko kerusakan jantung dapat ditekan dan kualitas hidup dapat lebih terjaga. (*/nds)














