BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Mitigasi bencana menjadi agenda penting di Banjarnegara, daerah yang tidak asing dengan ancaman bencana.
Terlebih lagi, sebagian besar wilayahnya masuk dalam kategori rawan longsor, sehingga pemerintah daerah harus mengandalkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk relawan.
Pada Sabtu, 18 April 2026, ratusan relawan dari berbagai organisasi berkumpul di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara.
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah langkah strategis untuk memperkuat koordinasi di tengah meningkatnya potensi bencana.
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali menegaskan bahwa peran relawan sangat krusial dalam penanganan bencana di wilayahnya.
“Relawan memiliki peran penting dalam penanganan bencana di Banjarnegara. Kami sangat mengapresiasi dedikasi dan semangat kemanusiaan yang terus dijaga,” ujarnya dengan penuh semangat.
Dalam penjelasannya, Wakhid menyebutkan bahwa sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara teridentifikasi sebagai zona merah rawan longsor.
Kondisi ini menuntut adanya kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat.
“Ini kerja bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan relawan dan masyarakat menjadi kunci,” kata Wakhid menekankan pentingnya gotong-royong dalam penanganan bencana.
Dalam situasi seperti ini, ketergantungan pada relawan menjadi semakin nyata. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan bagian integral dari sistem penanggulangan bencana yang lebih luas.
Di lapangan, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan jumlah personel relawan yang tersedia, tetapi juga kecepatan respons mereka terhadap situasi darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aji Piluroso mengingatkan akan pentingnya kekompakan antarrelawan, terutama di tengah cuaca yang belum stabil.
“Soliditas harus dijaga. Dengan cuaca ekstrem seperti sekarang, relawan harus lebih sigap dan meningkatkan komunikasi, terutama dengan pemerintah desa,” ungkap Aji.
Komunikasi yang efektif dan cepat sering kali menjadi faktor penentu antara terjadinya bencana yang dapat dicegah dan bencana yang meluas.
Informasi awal dari lapangan sangat penting untuk memungkinkan penanganan dilakukan lebih dini.
“Setiap detik itu berharga saat menghadapi bencana,” tambahnya.
Sebagai contoh konkret, saat terjadi hujan deras yang berpotensi menyebabkan longsor, informasi mengenai lokasi-lokasi rawan harus segera disampaikan kepada semua pihak terkait agar tindakan preventif dapat dilakukan secepat mungkin.
Ini menegaskan betapa pentingnya peranan relawan dalam menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah serta dalam mempercepat respons terhadap keadaan darurat.
Relawan sering kali bekerja tanpa pamrih, menunjukkan rasa kemanusiaan yang tinggi serta komitmen untuk membantu sesama di saat-saat sulit.
Mereka adalah garda terdepan ketika bencana terjadi, siap untuk memberikan pertolongan pertama maupun membantu evakuasi penduduk dari daerah berisiko tinggi.
Dalam konteks ini, dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa relawan memiliki akses kepada pelatihan, perlengkapan yang memadai, serta informasi terkini mengenai risiko bencana.
Keberadaan program-program pelatihan bagi relawan juga menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat kapabilitas mereka menghadapi situasi darurat.
Hal ini mencakup pelatihan mengenai teknik penyelamatan dan evakuasi serta pemahaman tentang mitigasi risiko bencana.
Dengan demikian, para relawan dapat lebih siap menghadapi tantangan nyata di lapangan.
Dalam diskusi tersebut, Wakhid juga menyentuh pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya mitigasi bencana secara keseluruhan.
Kesadaran akan potensi risiko di lingkungan masing-masing menjadi langkah awal bagi setiap individu untuk ikut ambil bagian dalam menjaga keselamatan bersama.
“Kesadaran masyarakat tentang risiko longsor perlu ditingkatkan,” ujar Wakhid menjelaskan bahwa edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara merespons jika terjadi ancaman bencana sangatlah penting.
Masyarakat perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk melindungi diri mereka dan keluarga ketika situasi darurat terjadi.
Selain itu, peningkatan infrastruktur juga menjadi bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana di Banjarnegara.
Pemerintah daerah terus berupaya melakukan perbaikan jalan dan pembangunan saluran drainase agar dapat mengurangi risiko terjadinya longsor akibat hujan lebat.
Infrastruktur yang baik akan mendukung mobilitas relawan saat hendak memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Sisi lain dari upaya mitigasi ini adalah penguatan jaringan komunikasi antarrelawan dan lembaga terkait lainnya.
BPBD Banjarnegara telah menerapkan sistem komunikasi berbasis teknologi guna mempermudah pertukaran informasi antarrelawan saat terjadi bencana alam.
Langkah ini dinilai sangat efektif dalam mempercepat proses pengambilan keputusan serta respons terhadap situasi darurat.
Dalam kesempatan tersebut, Aji Piluroso juga menekankan pentingnya dukungan dari sektor swasta dan komunitas lokal untuk turut berkontribusi dalam kegiatan mitigasi bencana ini.
Kolaborasi lintas sektoral dianggap mampu memperkaya sumber daya serta meningkatkan efektivitas penanggulangan risiko bencana. (jud/stch/dda)
















