BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dalam sebuah insiden yang mengguncang dunia perikanan, seorang anak buah kapal (ABK) KM Uli Jaya 02 meninggal dunia saat melakukan aktivitas melaut di perairan Cimiring, Nusakambangan, Cilacap.
Kejadian ini terjadi pada hari Jumat, 8 Mei, dan menjadi sorotan publik serta masyarakat sekitar.
Korban yang diketahui bernama Slamet Andriyanto, seorang pria berusia 27 tahun yang berasal dari Desa Rangimulya, Kecamatan Warurejo, Kabupaten Tegal, diduga mengalami serangan jantung ketika tengah mencari ikan di atas kapal.
Koordinator SAR Gabungan, Fajar Adi Nugroho menjelaskan bahwa informasi mengenai kejadian tersebut diterima melalui laporan dari Rebo Sanjaya, selaku Tenaga Pelaksana Kegiatan Laut (TPKL).
Laporan itu diterima oleh tim SAR pada pukul 06.04 WIB. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Tim Rescue dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Cilacap langsung bergerak cepat menuju Dermaga 3 PPSC Kabupaten Cilacap untuk melakukan evakuasi.
“Setelah menerima laporan, tim rescue langsung bergerak menuju Dermaga 3 PPSC Cilacap sebagai titik evakuasi korban,” ungkap Fajar Adi Nugroho.
Tindakan responsif ini menunjukkan dedikasi tim SAR dalam menangani situasi darurat di laut.
Tim SAR tiba di lokasi sekitar pukul 06.11 WIB dan bersiaga menunggu kedatangan kapal KM Uli Jaya 02 yang sedang dalam perjalanan membawa korban.
Namun dalam perjalanan kembali ke darat, kapal mengalami kendala mesin yang menghambat laju perjalanan mereka.
Akibat masalah teknis tersebut, kapal baru bisa bersandar di Dermaga 3 PPSC Cilacap pada pukul 09.15 WIB.
Setelah kapal berhasil bersandar dengan selamat, Tim SAR Gabungan segera melakukan proses evakuasi terhadap korban dari atas kapal.
“Korban berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia dan selanjutnya dibawa ke RSUD Cilacap untuk penanganan lebih lanjut,” jelas Fajar.
Proses evakuasi ini menjadi momen yang penuh duka bagi semua pihak yang terlibat.
Usai evakuasi selesai dilakukan, operasi SAR kemudian diusulkan untuk ditutup pada pukul 09.40 WIB dan seluruh unsur yang terlibat kembali ke satuan masing-masing dengan membawa serta kesedihan akibat kehilangan satu nyawa dalam insiden tersebut.
Kejadian ini tidak hanya menyentuh keluarga korban tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat tentang risiko yang dihadapi oleh para pelaut dan petugas di bidang perikanan.
Kematian Slamet Andriyanto menggugah empati mendalam bagi rekan-rekan sesama ABK dan masyarakat setempat.
Mereka menyadari betapa berbahayanya pekerjaan mereka dan pentingnya menjaga kesehatan serta keselamatan saat berada di laut.
Dalam konteks ini, penting bagi komunitas perikanan untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan mental dan fisik para pelaut agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Sementara itu, pihak berwenang terus berupaya untuk meningkatkan prosedur keselamatan selama kegiatan melaut.
Hal ini termasuk melakukan sosialisasi mengenai tanda-tanda awal penyakit yang dapat memicu serangan jantung serta cara-cara pencegahan lainnya kepada semua pelaut dan pekerja di sektor perikanan.
Seiring berkembangnya industri perikanan di Indonesia, kesadaran akan keselamatan kerja menjadi sangat krusial.
Keselamatan bukan hanya tanggung jawab individu tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama antara pemilik kapal dan awaknya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Konsekuensi dari insiden ini juga menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola pelayaran untuk memastikan setiap armada dilengkapi dengan alat-alat medis serta pelatihan bagi para ABK dalam menghadapi situasi darurat seperti serangan jantung atau kecelakaan lainnya. (jul/stch/dda)
















