BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kebijakan pemangkasan anggaran, atau yang sering disebut sebagai refocusing, telah memberikan dampak signifikan hingga ke tingkat kelurahan.
Di Kelurahan Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat, anggaran untuk kegiatan nonprioritas dipotong sebesar Rp47 juta.
Hal ini mengharuskan sejumlah pos belanja disesuaikan, tanpa mengganggu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Sekretaris Kelurahan Bantarsoka, Moh. Ari Yulianto, menjelaskan bahwa refocusing anggaran tahun ini berdampak pada berbagai pos belanja, termasuk belanja makan dan minum, perjalanan dinas, serta belanja modal.
“Honorarium narasumber dan transport dihilangkan,” ujarnya dengan tegas.
Ari menambahkan bahwa meskipun terdapat penyesuaian anggaran yang cukup signifikan, seluruh kegiatan yang telah direncanakan tetap akan dilaksanakan.
Namun, pembiayaan kegiatan kini hanya difokuskan untuk kebutuhan air minum. Sementara itu, komponen pengeluaran lainnya telah dihapus dari pos anggaran.
“Seksi Pemberdayaan Masyarakat (Permas) tetap menjalankan berbagai agenda rutin di tengah kebijakan refocusing,” ungkap Ari.
Beberapa kegiatan yang tetap dilaksanakan oleh Seksi Permas antara lain Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk balita dan lansia, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
“Kegiatan berjalan tanpa snack. Tidak ada kegiatan bimbingan teknis,” terang dia.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama, kebijakan pemangkasan anggaran ini memunculkan tantangan tersendiri bagi pelaksana program-program tersebut.
Ari menegaskan bahwa prinsip pelayanan kepada masyarakat tidak mengalami dampak negatif akibat kebijakan ini.
“Efisiensi tidak mengurangi esensi,” pungkasnya.
Kebijakan refocusing anggaran bukanlah hal baru dalam dunia pemerintahan daerah.
Dalam situasi ekonomi yang terus berubah dan ketidakpastian keuangan yang mengancam stabilitas daerah, pemangkasan anggaran menjadi langkah yang sering diambil oleh pemerintah untuk menjaga keberlanjutan layanan publik.
Namun demikian, dampak dari kebijakan ini sangat beragam tergantung pada pelaksanaan di lapangan.
Di Kelurahan Bantarsoka sendiri, pemangkasan ini menciptakan kondisi di mana sejumlah kegiatan harus dilakukan tanpa adanya honorarium bagi narasumber atau konsumsi berupa snack bagi peserta kegiatan.
Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi motivasi dan partisipasi masyarakat dalam menghadiri program-program yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun ada pengurangan dalam hal fasilitas seperti makanan ringan selama acara, upaya untuk menjaga kesehatan masyarakat melalui Posyandu dan program-program lainnya tetap menjadi prioritas utama.
Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah kelurahan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga meskipun dalam keterbatasan dana.
Reaksi dari masyarakat juga beragam terkait kebijakan ini. Beberapa warga memahami situasi keuangan daerah yang mungkin memaksa adanya pengurangan anggaran demi efisiensi.
Namun, ada juga yang merasa khawatir bahwa tanpa adanya honorarium bagi narasumber atau dukungan lainnya, kualitas program-program tersebut bisa menurun.
“Dengan adanya potongan anggaran ini saya harap pelayanan tetap maksimal,” kata salah satu warga setempat saat ditemui oleh awak media Banyumas Ekspres.
Ia berharap agar pemerintah kelurahan bisa mencari solusi agar semua kegiatan tetap berjalan lancar meskipun ada keterbatasan dana.
Refocusing anggaran semacam ini memang membawa tantangan tersendiri bagi setiap kelurahan dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Di saat yang sama, penting bagi pemerintah untuk terus melakukan komunikasi dengan masyarakat agar mereka memahami alasan di balik keputusan-keputusan tersebut.
Kehadiran Seksi Permas juga tidak boleh dianggap remeh dalam konteks ini.
Mereka memiliki peran penting dalam mengedukasi dan memberdayakan masyarakat melalui berbagai program yang lebih bersifat preventif daripada kuratif.
Program-program seperti PSN menjadi sangat relevan di tengah isu kesehatan masyarakat yang akhir-akhir ini semakin sering dibicarakan.
Masyarakat perlu diberdayakan untuk mengenali pentingnya kesehatan lingkungan dan cara pencegahan penyakit melalui edukasi secara langsung di lapangan serta penyuluhan dari petugas kesehatan.
Dalam hal ini Seksi Permas berperan aktif meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, Seksi Permas juga harus beradaptasi dengan kondisi baru tersebut dengan memanfaatkan sumber daya lokal serta membangun sinergi dengan pihak-pihak lain seperti organisasi kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Kerjasama semacam ini bisa menjadi alternatif untuk mendongkrak kualitas pelaksanaan program sekaligus meningkatkan partisipasi warga.
Komitmen dari Sekretaris Kelurahan Bantarsoka untuk mempertahankan prinsip pelayanan kepada masyarakat sangat diapresiasi oleh banyak pihak.
Dengan demikian, harapan akan keberlangsungan pelayanan publik tetap ada meski dalam situasi sulit sekalipun. (*/stch/dda)














