Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Mudik Aman Tanpa Microsleep, Kenali Tanda Tubuh Lelah Saat Mengemudi

Awas 'Ketiduran Sedetik' yang Mematikan: Bahaya Microsleep Saat Mudik LebaranAwas 'Ketiduran Sedetik' yang Mematikan: Bahaya Microsleep Saat Mudik Lebaran
dr. Resa Budi Deskianditya, Sp.N, CHBSP, CQAI (Dosen Neurologi Fakultas Kedokteran UMP)

BANYUMASEKSPRES.ID, Menjelang akhir bulan Ramadhan, perbincangan mengenai rencana mudik semakin hangat.

Masyarakat mulai membahas rute perjalanan yang akan dilalui, oleh-oleh yang patut dibawa, hingga rasa rindu yang tak sabar untuk diluapkan saat tiba di kampung halaman.

Dalam konteks ini, menjaga silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga menjadi suatu perintah yang sangat dianjurkan dalam agama Islam.

Hal ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 1, yang menekankan pentingnya bertakwa kepada Allah SWT serta menjaga hubungan silaturahmi atau persaudaraan.

Bersilaturahmi memiliki tujuan yang mulia, yaitu memperkuat kasih sayang di antara anggota keluarga, menciptakan kedamaian, serta mendatangkan keberkahan dalam rezeki dan umur.

Mudik lebaran bukanlah sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.

Ia merupakan ritual cinta dan tradisi khas Indonesia yang mampu menyatukan jutaan orang, semuanya berfokus pada satu semangat besar: pulang ke pelukan keluarga tercinta.

Namun, bagi mereka yang merencanakan mudik menggunakan kendaraan pribadi, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Di balik kebahagiaan berkumpul dengan sanak saudara, terdapat rute panjang yang membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Jalanan yang padat, waktu tempuh yang bisa memanjang, serta kemacetan menjadi tantangan fisik yang berat bagi para pemudik.

Sayangnya, semangat untuk cepat sampai sering kali membuat pengendara mengabaikan satu aspek penting: kondisi tubuh mereka yang sudah mencapai batas lelah.

Data yang ada menunjukkan bahwa musim mudik kerap kali meninggalkan jejak duka.

Menurut catatan kepolisian dalam Operasi Ketupat 2025, terdapat sekitar 2.637 kejadian kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa berkisar antara 190 hingga 238 orang.

Faktor manusia menjadi penyebab utama kecelakaan tersebut. Kesalahan seperti gagal menjaga jarak aman, kelelahan, mengantuk, serta melanggar batas kecepatan menjadi faktor-faktor signifikan yang memperburuk situasi.

Salah satu ancaman serius yang dapat mengintai pemudik adalah microsleep. Fenomena ini sering kali menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan di jalan raya atau tabrakan beruntun.

Tanpa disadari oleh pengemudi, tubuh bisa “mematikan sistem” sejenak untuk beristirahat pada saat yang sangat tidak tepat—ketika tangan masih menggenggam kemudi dan kaki masih menginjak pedal gas.

Microsleep sendiri dapat dijelaskan sebagai kondisi di mana seseorang tertidur untuk sesaat, biasanya berlangsung antara satu hingga tiga puluh detik.

Ini bukanlah tidur pulas dengan gejala awal seperti menguap lebar. Sebaliknya, microsleep adalah keadaan di mana otak mengalami “mati lampu” mendadak sehingga menyebabkan kehilangan kewaspadaan dan orientasi terhadap lingkungan sekitar.

Jika hal ini terjadi saat sedang mengemudikan kendaraan, akibatnya bisa sangat fatal. Gejala microsleep tidak selalu mudah dikenali.

Jika Anda mulai merasakan mata sering berkedip, pandangan terasa kosong, kesulitan fokus pada rambu-rambu jalan, atau tiba-tiba terkejut karena kondisi kendaraan atau jalanan di depan Anda berubah drastis, itu bukan hanya tanda-tanda mengantuk biasa.

Itu adalah sinyal darurat dari otak bahwa microsleep sedang menyerang. Penting untuk menyadari bahwa meskipun Anda merasa kuat untuk melanjutkan perjalanan, otak Anda sebenarnya sedang berusaha “mematikan diri” secara paksa.

Jadi apa langkah terbaik jika Anda mulai merasakan gejala tersebut? Cara paling efektif untuk menghadapi microsleep bukanlah dengan minum kopi atau mendengarkan musik keras-keras tetapi dengan berhenti dan tidur sejenak.

Jika Anda merasa “berat” pada area mata atau sulit fokus berkendara, segera cari rest area terdekat dan manfaatkan waktu untuk tidur selama lima belas hingga tiga puluh menit (power nap). Tidur sebentar ini sudah cukup untuk menyegarkan kembali kerja otak Anda.

Dalam rangka mencegah microsleep selama perjalanan mudik lebaran ini, pastikan juga untuk mengambil jeda istirahat setiap empat jam sekali dan hindari memaksakan diri untuk berkendara pada jam-jam biologis tidur yakni antara jam satu hingga lima pagi.

Menariknya lagi, data dari Polri menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan (95 persen) justru terjadi di jalan-jalan lurus dan datar.

Hal ini menunjukkan bahwa jalanan yang tampaknya nyaman malah bisa membuat pengemudi terlena dan berisiko terkena microsleep.

Ingatlah selalu bahwa tujuan mudik adalah untuk bertemu dengan keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia.

Perjalanan menuju rumah seharusnya bukan menjadi ajang balapan atau kompetisi untuk sampai secepat mungkin tetapi lebih kepada momen berharga bersama orang-orang terkasih di kampung halaman.

Keluarga Anda menanti kedatangan Anda di rumah bukan di rumah sakit atau tempat duka.

Mari kita jalani tradisi mudik ini dengan bijaksana: kenali kapan tubuh mulai merasa lelah, istirahatkan diri jika perlu dan bawa pulang rasa rindu dengan selamat ke rumah.

Selamat mudik kepada semua pemudik; semoga perjalanan Anda lancar dan penuh kebahagiaan saat berkumpul dengan orang-orang tercinta.(*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Tak Akan Kembali Menunggangi Motor MotoGP

Sudah Pensiun Sejak Grand Prix Valencia 2021, Valentino Rossi Enggan Sentuh Motor MotoGP Lagi

Berita Selanjutnya
Ramadan Cheating Day

Buka Puasa Jadi “Cheating Day”, Begini Cara Fanny Ghassani Jaga Berat Badan