Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Banyumas Diterjang Banjir Bandang Gunung Slamet, 50 Ribu Pelanggan PDAM Terdampak

Banjir Lumpur Kembali, Wisata Tutup LagiBanjir Lumpur Kembali, Wisata Tutup Lagi
TERDAMPAK: Droping air bersih dari PDAM Tirta Satria ke sejumlah pelanggan yang terdampak banjir lumpur di Banyumas, Selasa (27/1/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Banjir bandang bercampur lumpur kembali melanda Kabupaten Banyumas akibat aliran dari lereng Gunung Slamet, Selasa (27/1).

Bencana ini tidak hanya melumpuhkan sektor pariwisata, tetapi juga memperparah krisis air bersih yang dirasakan ribuan warga selama beberapa hari terakhir.

Luapan air bercampur lumpur mulai menggenangi kawasan wisata air Damar Payung di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang.

Peningkatan debit air sungai terjadi setelah hujan intensitas tinggi mengguyur kawasan hulu sejak siang.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas Abdul Ladjis, banjir terpantau mulai sekitar dua jam sebelum sore.

Material lumpur terbawa dari wilayah atas, meskipun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan fisik.

“Untuk Damar Payung memang mulai banjir sekitar dua jam lalu. Namun sampai sekarang belum ada laporan dampak kerusakan, baik terhadap fasilitas wisata maupun permukiman warga,” ujarnya kepada awak media.

BPBD Banyumas memastikan pemantauan terus dilakukan di aliran sungai lainnya.

Abdul Ladjis menegaskan bahwa Kali Pelus hingga Sungai Banjaran masih terpantau aman.

Meski demikian, warga di sekitar bantaran sungai diminta tetap waspada karena potensi hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di kawasan hulu lereng Gunung Slamet.

Banjir lumpur ini bukanlah kejadian pertama. Sehari sebelumnya, Senin (26/1), banjir bandang serupa juga melanda sejumlah sungai.

Bahkan hingga Selasa malam, aliran lumpur masih terlihat di beberapa titik. Kondisi ini mengakibatkan sektor pariwisata Banyumas kembali terpukul.

Sejumlah destinasi wisata alam di kawasan Baturraden harus ditutup sementara karena endapan pasir, lumpur, dan ranting menutupi aliran sungai serta area wisata.

Salah satu lokasi yang terdampak adalah Telaga Sunyi. Akses menuju kawasan wisata tersebut tertutup material lumpur sehingga petugas harus bekerja keras membersihkan area agar aman untuk dikunjungi kembali.

Dampak paling nyata terjadi di Curug Tirtasela. Pegawai Bobocabin Baturraden, Faqih, menjelaskan bahwa banjir dalam beberapa hari terakhir telah mengubah kondisi curug secara signifikan.

“Kondisinya sudah sangat berubah. Sekarang Curug Tirtasela terlihat seperti pantai karena dipenuhi pasir,” kata Faqih.

Di sisi lain, banjir lumpur yang terus berulang juga memperburuk kesulitan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

Sejak Sabtu lalu, ribuan pelanggan Perumda Air Minum Tirta Satria mengalami gangguan pasokan air.

Robby Mauli, warga Sidabowa, menyatakan bahwa aliran air di rumahnya mati total selama dua hari. Kondisi itu memaksanya mencari air ke tempat umum demi kebutuhan sehari-hari.

“Air mati sejak Sabtu, baru mulai normal Minggu malam. Selama mati, saya dan keluarga mandi numpang di pom bensin dan masjid,” ujarnya.

Plt Direktur Perumda Air Minum Tirta Satria Wipi Supriyanto menyebutkan sekitar 50 ribu pelanggan terdampak gangguan layanan air bersih akibat banjir bandang dan lumpur dari lereng Gunung Slamet.

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas kondisi tersebut sambil menjelaskan kendala yang terjadi.

“Ternyata efeknya terhadap kami sangat signifikan. Dari banjir lumpur yang kemarin, beberapa sumber kita terutama yang ada di lereng Gunung Slamet kemasukan lumpur,” kata Wipi.

Menurutnya tingkat kekeruhan air di sumber mata air sangat tinggi sehingga PDAM sempat tidak mampu memproduksi air bersih selama beberapa hari. Distribusi air pun terhenti di sejumlah wilayah.

“Kekeruhannya sangat tinggi. Beberapa hari kemarin kami tidak mampu produksi,” ucapnya dengan prihatin.

Meski sebagian wilayah mulai kembali dialiri air bersih Wipi mengakui belum semua pelanggan menikmati pasokan normal.

Banjir susulan yang terjadi pada Senin kembali menghambat proses pemulihan distribusi air ke pelanggan yang terdampak banjir lumpur tersebut.

“Sekarang mulai jernih tapi masih ada beberapa titik yang belum normal,” jelasnya dengan nada penuh harap.

Selain gangguan layanan PDAM Tirta Satria juga menghadapi kerugian finansial yang cukup besar akibat bencana ini Dalam tiga hari terakhir kerugian dari penjualan air diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta Belum termasuk kerusakan pompa akibat dipaksa beroperasi di tengah kondisi berlumpur

BPBD Banyumas memastikan koordinasi lintas instansi terus dilakukan demi penanganan darurat dan mitigasi risiko lanjutan mengingat potensi hujan susulan di kawasan lereng Gunung Slamet masih tinggi.

Abdul Ladjis menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana agar dapat meminimalisir dampak jika terjadi bencana serupa lagi. (zet/res/dda)

Berita Sebelumnya
Update Jadwal Pencairan TPG 2026 untuk Guru Berdasarkan Status Data di Info GTK

Dana TPG 2026 Cair Dua Tahap, Ini Jadwalnya Menurut Status Info GTK

Berita Selanjutnya
Pangan Bersubsidi DKI Jakarta

Link Daftar Antrean Bansos Pangan Bersubsidi KJP Pasar Jaya Tahap 1 2026