BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pertanian menargetkan produksi padi pada tahun 2026 mencapai 389.003,07 ton.
Untuk mewujudkan target tersebut, berbagai upaya dilakukan, salah satunya melalui penerapan Gerakan 10 Hari Tanam (G10T) yang diharapkan mampu mempercepat siklus tanam dan panen sehingga produktivitas pertanian meningkat.
Program G10T mulai disosialisasikan kepada para petani di sejumlah wilayah sentra produksi padi.
Salah satu daerah yang menjadi fokus penerapan program ini adalah Kecamatan Sumpiuh, yang diproyeksikan memberikan kontribusi besar terhadap pencapaian target produksi padi Kabupaten Banyumas.
Sosialisasi Gerakan 10 Hari Tanam digelar di Aula Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sumpiuh pada Rabu (1/7).
Kegiatan tersebut diikuti para petani, penyuluh pertanian, gabungan kelompok tani (Gapoktan), serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Yusuf Khanafi, menjelaskan bahwa konsep G10T bertujuan mempercepat seluruh tahapan budidaya padi agar waktu tanam antar-musim menjadi lebih singkat.
Menurutnya, persemaian dilakukan sekitar 10 hari sebelum panen berlangsung, sedangkan pengolahan lahan dimulai maksimal 10 hari setelah panen selesai.
Dengan pola tersebut, petani diharapkan dapat segera memasuki musim tanam berikutnya tanpa kehilangan banyak waktu.
Selain pengaturan jadwal tanam, Dinas Pertanian juga mendorong petani memanfaatkan alat dan mesin pertanian modern untuk mempercepat proses panen, pengolahan lahan, hingga penanaman.
Pemanfaatan mekanisasi pertanian dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan efisiensi usaha tani, mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas lahan.
Melalui kombinasi percepatan waktu tanam dan penggunaan teknologi pertanian, pemerintah berharap target produksi padi tahun 2026 dapat tercapai.
Meski demikian, penerapan Gerakan 10 Hari Tanam masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Sejumlah petani mengakui konsep tersebut cukup baik, tetapi pelaksanaannya memerlukan dukungan bersama agar hasilnya maksimal.
Ketua Gapoktan Karya Tani Desa Karanggedang, Soim Muhsoni, mengungkapkan bahwa sebagian petani sebenarnya sudah mencoba menerapkan pola G10T.
Namun, pelaksanaan yang dilakukan secara individu justru menimbulkan berbagai kendala.
Menurutnya, percepatan tanam yang hanya dilakukan oleh sebagian kecil petani membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan hama, terutama burung dan tikus, karena hamparan sawah belum ditanami secara serempak.
Selain ancaman hama, keterbatasan tenaga kerja untuk kegiatan tanam maupun panen juga masih menjadi persoalan yang dihadapi petani di Banyumas.
Pada musim tanam saat ini, para petani juga mulai melaporkan munculnya serangan hama wereng yang dikhawatirkan dapat mengurangi hasil panen apabila tidak segera dikendalikan.
Soim menilai program G10T memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Namun, keberhasilannya memerlukan keterlibatan seluruh petani dalam satu kawasan agar pola tanam dapat dilakukan secara serempak.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Yusuf Khanafi menegaskan bahwa keberhasilan Gerakan 10 Hari Tanam tidak hanya bergantung pada teknologi atau jadwal tanam, tetapi juga perubahan pola pikir petani serta kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, hingga pemerintah desa menjadi faktor penting agar program berjalan efektif di lapangan.
Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas optimistis G10T mampu menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Melalui penerapan pola tanam yang lebih cepat, penggunaan alat mesin pertanian modern, serta pengendalian hama yang terintegrasi, pemerintah berharap produktivitas sawah terus meningkat sehingga target produksi padi sebesar 389.003,07 ton pada 2026 dapat tercapai.
Selain mendukung ketahanan pangan, keberhasilan program ini juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, memperkuat sektor pertanian Banyumas, serta menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional. (fij/stch/dda)
















