Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Shireen Sungkar Bagikan Kisah Haru Saat Putrinya Divonis Autisme
Viral! Mal di Tiongkok Disulap Jadi Sawah, Puluhan Orang Berlomba Tanam Padi

Viral! Mal di Tiongkok Disulap Jadi Sawah, Puluhan Orang Berlomba Tanam Padi

Sawah Muncul di Dalam MallSawah Muncul di Dalam Mall

BANYUMASEKSPRES.ID, TIONGKOK – Pengunjung sebuah pusat perbelanjaan di Kota Ningbo, Provinsi Zhejiang, Tiongkok bagian timur, dibuat terkejut dengan pemandangan yang tidak biasa pada 21 Juni 2026.

Atrium yang umumnya dipenuhi deretan toko, restoran, dan pengunjung yang berbelanja mendadak berubah menjadi hamparan sawah berlumpur lengkap dengan genangan air layaknya area persawahan di pedesaan.

Di atas lahan yang sengaja disiapkan tersebut, puluhan peserta tampak sibuk menanam bibit padi.

Mereka mengenakan caping, sepatu bot, dan pakaian yang sesuai untuk bekerja di sawah.

Suasana semakin meriah karena kegiatan tersebut disaksikan langsung oleh ratusan pengunjung mal yang penasaran melihat aktivitas bertani dilakukan di dalam gedung pusat perbelanjaan.

Peserta yang mengikuti kompetisi berasal dari berbagai latar belakang.

Tidak hanya petani yang telah terbiasa bekerja di sawah, tetapi juga warga perkotaan yang selama ini hampir tidak pernah bersentuhan langsung dengan aktivitas pertanian.

Bagi sebagian peserta, kesempatan itu menjadi pengalaman pertama menanam padi secara langsung.

Meski harus berkubang lumpur dan mengotori pakaian, mereka tetap antusias mengikuti setiap tahapan perlombaan.

Beberapa peserta bahkan terlihat tertawa saat berusaha menjaga keseimbangan di atas lumpur yang licin.

Sementara itu, pengunjung lain sibuk mengabadikan momen unik tersebut menggunakan telepon genggam mereka.

Tidak sedikit yang membagikan foto dan video ke media sosial karena menganggap pemandangan sawah di dalam mal sebagai sesuatu yang langka.

Namun, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan untuk mencari siapa yang paling cepat atau paling rapi menanam bibit padi.

Penyelenggara memiliki tujuan yang lebih besar, yakni memperkenalkan kembali budaya bertani kepada masyarakat perkotaan yang semakin jauh dari kehidupan agraris.

Melalui konsep yang tidak biasa, masyarakat diajak memahami bahwa proses menghasilkan beras membutuhkan kerja keras, ketelitian, dan kesabaran sejak tahap penanaman hingga masa panen.

Selama ini, banyak warga kota hanya mengenal beras sebagai produk yang tersedia di supermarket atau pasar tanpa pernah melihat secara langsung bagaimana tanaman padi dibudidayakan di sawah.

Dengan menghadirkan sawah di tengah pusat perbelanjaan, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penanaman padi yang selama ini identik dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Anak-anak yang datang bersama orang tua pun memiliki kesempatan mengenal dunia pertanian secara lebih dekat.

Mereka dapat melihat langsung bentuk bibit padi, tekstur lumpur sawah, hingga cara petani menanam tanaman tersebut secara tradisional.

Kegiatan ini juga digelar di tengah perubahan peta produksi beras dunia.

Berdasarkan data tahun 2025, India berhasil menjadi produsen beras terbesar di dunia dengan total produksi sekitar 150 juta ton.

Jumlah tersebut sedikit melampaui produksi Tiongkok yang mencapai sekitar 145 juta ton pada periode yang sama.

Meski menempati posisi kedua dari sisi total produksi, Tiongkok tetap menunjukkan keunggulan dalam hal produktivitas lahan.

Negara itu mampu menghasilkan panen yang hampir setara dengan India meskipun luas lahan sawah yang dikelola jauh lebih kecil.

Tiongkok diketahui memiliki sekitar 28 juta hektare lahan persawahan, sedangkan India mengelola sekitar 44 juta hektare.

Selisih luas lahan tersebut menunjukkan bahwa sistem budidaya pertanian di Tiongkok mampu menghasilkan produksi yang lebih efisien.

Produktivitas tanaman padi di Tiongkok juga tercatat lebih tinggi. Rata-rata hasil panen mencapai hampir empat ton per hektare, sedangkan India berada pada kisaran 3,5 ton per hektare.

Data tersebut memperlihatkan bahwa setiap hektare lahan pertanian di Tiongkok mampu menghasilkan produksi beras yang lebih besar dibandingkan sejumlah negara produsen utama lainnya.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari berbagai faktor, mulai dari penggunaan teknologi pertanian modern, pengembangan varietas unggul, sistem irigasi yang baik, hingga penerapan metode budidaya yang terus diperbarui. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Putri Bungsu Didiagnosis Autisme

Shireen Sungkar Bagikan Kisah Haru Saat Putrinya Divonis Autisme