Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BI Purwokerto Bantu Wujudkan Pesantren Mandiri Lewat Budidaya Lele dan Usaha Santri

BI Bantu Wujudkan Pesantren yang Mandiri dan BerdayaBI Bantu Wujudkan Pesantren yang Mandiri dan Berdaya
PANEN: Para santri putra PP Darul Ulum Sirau Kemranjen, Banyumas memanen ikan lele hasil budidaya

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kemandirian pesantren kini menjadi suatu keharusan, sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh KH. Ahmad Syaikhul Ubaid, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Darul Ulum Sirau Kemranjen, Banyumas.

Menurutnya, di era modern ini, kemandirian merupakan aspek penting yang harus diwujudkan oleh setiap pesantren.

“Pesantren adalah lembaga sosial non-profit, namun kita tidak bisa mengabaikan kebutuhan operasional. Di pondok, ada biaya listrik, guru Madin yang harus diperhatikan, serta berbagai kebutuhan lainnya. Bahkan, untuk buang sampah saja sekarang kami harus membayar Rp 2,5 juta per bulan. Oleh karena itu, kemandirian pesantren sangat diperlukan,” ujarnya.

Kebutuhan untuk menjadi mandiri dan berdaya akhirnya mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI), yang mengambil bagian dalam mewujudkan pesantren mandiri melalui berbagai program pemberdayaan.

“Dukungan yang diberikan BI sangat luar biasa, mereka membantu dari aspek permodalan, pelatihan hingga penjualan, semuanya dibimbing dari hulu ke hilir,” jelas KH. Ahmad Syaikhul Ubaid.

Pada tahun 2022 lalu, PP Darul Ulum Sirau Kemranjen menerima bantuan dari BI berupa fasilitas lengkap untuk budidaya lele.

Bantuan ini termasuk kolam lele dan bibit lele serta semua peralatan pendukung budidaya tersebut.

“Kami sudah mulai budidaya lele sejak tahun 2010 dan pada tahun 2022 mendapatkan bantuan dari BI berupa 15 kolam,” ujarnya.

Bantuan tersebut dimanfaatkan dengan serius oleh KH. Ahmad Syaikhul Ubaid dan para santri di PP Darul Ulum Sirau.

Mereka berkomitmen penuh untuk mempelajari dan mengembangkan budidaya lele ini hingga saat ini telah memiliki sekitar 80-90 kolam lele.

“Sekarang jumlah kolam kami sudah mencapai 80-90,” tuturnya.

Peranan BI ternyata sangat signifikan dalam mendukung pemberdayaan pesantren ini karena omzet dari budidaya lele telah mencapai Rp 60 juta per bulan.

“Omzet sekarang mencapai 2,5 hingga 3 ton per bulan dengan harga pasar sekitar Rp 20 ribu per kilo, sehingga kisarannya mencapai Rp 60 juta per bulan,” paparnya.

Tidak hanya menjual lele segar, PP Darul Ulum juga berinovasi dengan menjual produk lele siap goreng atau Lele Lesgo.

“Satu pack berisi satu kilo sudah dibumbui dan tinggal goreng,” ucapnya.

Ke depan, KH. Ahmad Syaikhul Ubaid berencana terus berinovasi dengan menangkap peluang yang ada untuk mengembangkan budidaya lele di pesantrennya lebih jauh lagi.

Salah satu peluang tersebut datang dari eksportir ikan ke Timur Tengah yang berminat pada produk lele fillet dari PP Darul Ulum Sirau.

“Kami telah ditawari eksportir ikan ke Timur Tengah dari Jakarta yang meminta lele fillet sebanyak 200 kg per minggu. Kami masih menyiapkan sumber daya manusia dan peralatannya,” jelasnya.

Hasil dari budidaya lele ini bukan hanya menopang kemandirian pesantren tapi juga memberikan jaminan layanan kesehatan bagi sekitar 500 santri di sana.

“Para santri yang sakit dapat kami obati secara gratis,” tuturnya.

Tahun ini, mereka kembali mendapatkan program pemberdayaan baru dari BI berupa fasilitas greenhouse untuk budidaya cabai sebagai langkah mendukung ketahanan pangan di pesantren tersebut.

“Budidaya cabai ini mendukung ketahanan pangan kami dan mendapatkan bantuan greenhouse penanaman cabai sama seperti bantuan lele yaitu untuk memenuhi kebutuhan pesantren serta mendukung MBG,” pungkasnya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Korban Longsor Situkung Terima Kartu Bantuan Resmi dari PMI

PMI Berikan Kartu Penerima Bantuan Untuk Korban Longsor di Situkung Banjarnegara

Berita Selanjutnya
Sumanto Soroti Potensi Kredit Macet di BKK, Akibat Kejar Target dan Kurang Pengawasan

Sumanto Soroti Potensi Kredit Macet di BKK, Akibat Kejar Target dan Kurang Pengawasan