Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BPBD Banyumas Tegaskan Banjir Lumpur Susulan Bukan Lahar Dingin Gunung Slamet

Banjir Lumpur Susulan Bukan Lahar Dingin SlametBanjir Lumpur Susulan Bukan Lahar Dingin Slamet
BUKAN LAHAR DINGIN: Penanganan darurat banjir lumpur di Telaga Sunyi oleh BPBD Banyumas dan unsur terkait, Senin (26/1/2026) siang, sebelum kembali diterjang luapan banjir lumpur susulan pada sore hari

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Hujan deras di wilayah hulu kembali memicu banjir lumpur susulan yang melanda Kabupaten Banyumas pada Senin (26/1) sore.

Fenomena ini mengikuti pola cuaca ekstrem yang sebelumnya juga terjadi di Purbalingga.

Banjir lumpur tersebut terutama terlihat dari aliran Sungai Pelus di kawasan hulu hingga Sungai Banjaran dan sejumlah sungai di wilayah perkotaan.

Abdul Ladjis, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas, mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi di daerah hulu membawa material lumpur dan tanah ke badan sungai.

“Update sore ini, terjadi hujan cukup deras di wilayah hulu sehingga memicu banjir lumpur susulan,” ujarnya kepada awak media.

Abdul Ladjis menekankan bahwa peristiwa ini murni disebabkan oleh faktor cuaca dan tidak ada kaitannya dengan aktivitas Gunung Slamet.

“Ini murni banjir lumpur dan tanah, bukan lahar dingin. Tidak ada erupsi Gunung Slamet. Kejadian lahar dingin terakhir terjadi pada tahun 2014,” tegasnya.

BPBD Banyumas juga mencatat adanya peningkatan debit air Sungai Banjaran yang disertai dengan aliran lumpur pekat akibat hujan di wilayah hulu.

Meskipun demikian, Abdul Ladjis menyebutkan bahwa kondisi di Banyumas relatif lebih ringan dibandingkan dengan dampak banjir bandang yang terjadi di Purbalingga.

Di kawasan hulu Sungai Pelus, Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, banjir lumpur juga berdampak cukup signifikan.

Material lumpur, tanah, pasir serta ranting pohon terbawa arus menutup sebagian aliran sungai termasuk di kawasan Telaga Sunyi yang terkenal sebagai destinasi wisata alam.

Menanggapi situasi darurat ini, BPBD Banyumas langsung bergerak cepat melakukan penanganan mulai pukul 09.10 WIB hingga selesai.

Fokus penanganan diarahkan pada pembersihan material sisa banjir yang menutup aliran Sungai Pelus di sekitar Telaga Sunyi.

“Update terkini menunjukkan bahwa hujan deras di hulu menyebabkan banjir lumpur dan tanah,” ungkap Abdul Ladjis pada Senin (26/1).

Sekali lagi ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan lahar dingin dan sama sekali tidak terkait dengan erupsi Gunung Slamet.

Hasil penanganan sementara menunjukkan bahwa aliran Sungai Pelus mulai kembali lancar.

Namun demikian, masih terdapat beberapa titik yang dipenuhi endapan pasir dan ranting pohon sehingga membutuhkan pembersihan lanjutan.

BPBD Banyumas memastikan akan melanjutkan penanganan pada Selasa (27/1) untuk memastikan aliran sungai benar-benar normal serta meminimalkan risiko terjadinya banjir susulan.

Dalam upaya penanganan banjir lumpur ini, BPBD Banyumas menggandeng berbagai pihak terkait seperti Perum Perhutani Banyumas Timur, Palawi, Base Camp Pendakian Gunung Slamet via Juang, Jagawana, pengelola Telaga Sunyi serta masyarakat setempat.

Kerja sama lintas sektor ini menjadi kunci penting dalam mengatasi dampak bencana serta menjaga keselamatan warga.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai pun diimbau agar tetap waspada mengingat potensi hujan masih dapat terjadi sewaktu-waktu di wilayah hulu.

Peringatan ini penting agar warga dapat mempersiapkan diri dan mengantisipasi kemungkinan banjir susulan akibat perubahan cuaca yang cepat dan tak terduga.

Banjir lumpur yang terjadi kali ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam terutama bagi masyarakat yang bermukim dekat dengan daerah rawan bencana seperti bantaran sungai atau lereng pegunungan. (zet/dda)

Berita Sebelumnya
283 Desa Belum Punya Gerai KDMP

Terkendala Lahan dan Regulasi, 283 Desa di Kebumen Belum Miliki Gerai KDMP

Berita Selanjutnya
Volume Sampah Tinggi Tak Seimbang Armada

Sampah di Pasar Kutasari Kian Menggunung, DLH Purbalingga Akui Terbatas Armada Pengangkutan