BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap telah memutuskan untuk bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam melakukan kajian mendalam mengenai bencana tanah bergerak yang melanda Desa Dayeuhluhur.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat, termasuk kemungkinan relokasi bagi warga yang terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana sebelum mengirim surat resmi kepada PVMBG.
Peninjauan ini sangat penting untuk melihat kondisi terbaru di lapangan serta memetakan dampak yang ditimbulkan akibat pergerakan tanah tersebut.
“Kita akan tinjau langsung ke lapangan terkait langkah-langkah ke depan, kemudian kita akan bersurat ke PVMBG,” ungkap Taryo dalam pernyataannya pada Senin, 18 Mei.
Dalam proses ini, surat permohonan kajian nantinya akan dikirim oleh Plt Bupati Cilacap.
Hasil dari kajian yang dilakukan oleh PVMBG diharapkan dapat menjadi landasan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan penanganan bencana.
Taryo menekankan pentingnya hasil kajian dari PVMBG sebagai dasar dalam menentukan langkah mitigasi yang harus diambil untuk melindungi keselamatan warga di sekitar lokasi terdampak.
“Nanti yang akan bersurat Bu Plt Bupati, kemudian kajian-kajian dari PVMBG nanti yang akan dijadikan dasar untuk pengambilan langkah ke depan,” tuturnya.
Hasil analisis tersebut juga akan memberikan panduan apakah warga perlu direlokasi atau tidak.
Hal ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi tanah di area bencana masih berpotensi mengalami pergerakan susulan yang dapat membahayakan permukiman warga.
Sebelumnya, bencana tanah bergerak telah terjadi di dua dusun di Desa Dayeuhluhur, yaitu Dusun Cilulu dan Dusun Picungdatar.
Peristiwa tersebut menyebabkan jalan desa amblas dan mengancam keselamatan permukiman warga yang terletak di bawah area retakan tanah.
Di Dusun Cilulu, kejadian tanah bergerak tercatat sudah berlangsung sebanyak tiga kali, menunjukkan adanya pola berulang yang patut dicermati dengan serius.
Sementara itu, Dusun Picungdatar mengalami bencana serupa untuk pertama kalinya, yang mengakibatkan kerusakan pada sedikitnya empat rumah.
Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi tanah guna mencegah risiko yang lebih besar dan memastikan keselamatan warganya.
Upaya mitigasi dan pencegahan menjadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang dan dampaknya dapat diminimalisir.
Menurut Taryo, pemantauan terus dilakukan agar bisa segera mengambil tindakan jika kondisi tanah semakin memburuk.
BPBD Cilacap juga mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana alam lainnya.
Edukasi mengenai tanda-tanda awal terjadinya bencana seperti pergerakan tanah sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Dengan memberikan informasi dan pemahaman yang jelas mengenai bencana tanah bergerak, diharapkan masyarakat dapat mengambil langkah-langkah antisipatif demi keselamatan diri dan keluarga mereka. (jul/stch/dda)
















