Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Cek Fakta, Fenomena Aphelion Matahari Sebabkan Cuaca Dingin? Ini Jawaban Ilmiahnya

Ilustrasi matahari menyinari bumi aphelionIlustrasi matahari menyinari bumi aphelion

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Di tengah suhu udara yang terasa lebih sejuk di sejumlah wilayah Indonesia, muncul kembali pertanyaan yang kerap mencuat setiap pertengahan tahun: Benarkah fenomena Aphelion Matahari menjadi penyebab cuaca dingin?

Fenomena astronomi tahunan ini memang bertepatan dengan musim kemarau, namun apakah ada kaitan langsung antara aphelion dan penurunan suhu udara?

Untuk menjawabnya, penting memahami apa itu fenomena aphelion, kapan terjadinya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap iklim dan cuaca di Indonesia.

Apa Itu Aphelion?

Aphelion adalah titik dalam orbit Bumi di mana planet ini berada pada jarak terjauhnya dari Matahari.

Orbit Bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna, sehingga jaraknya terhadap Matahari berubah sepanjang tahun. Sebaliknya, titik terdekat disebut perihelion, yang biasanya terjadi pada awal Januari.

Pada tahun ini, fenomena Aphelion terjadi pada Jumat, 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB, berdasarkan data dari situs pemantau astronomi In The Sky.

Saat itu, jarak Bumi ke Matahari mencapai sekitar 152.087.738 kilometer, atau sekitar 2,5 juta kilometer lebih jauh dari jarak rata-rata normalnya yang sekitar 149,6 juta kilometer.

Cek Fakta: Apakah Fenomena Aphelion Sebabkan Cuaca Dingin?

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menegaskan bahwa fenomena aphelion Matahari tidak menjadi penyebab langsung cuaca dingin di Indonesia.

Meskipun Bumi sedang berada di titik terjauh dari Matahari, dampaknya terhadap suhu udara di permukaan relatif sangat kecil.

Menurut BMKG, cuaca dingin yang saat ini dirasakan lebih disebabkan oleh musim kemarau dan hembusan angin muson dari arah selatan. Dalam hal ini, angin Monsun Dingin Australia memainkan peran utama.

Angin ini bertiup dari Benua Australia yang tengah memasuki musim dingin, membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Mengapa Udara Terasa Lebih Dingin?

Selain angin muson, faktor lainnya adalah langit cerah dan minim awan yang umum terjadi saat musim kemarau.

Kondisi ini membuat radiasi panas dari permukaan Bumi lebih cepat terlepas ke luar atmosfer, terutama pada malam hari. Akibatnya, suhu permukaan turun drastis, khususnya menjelang pagi.

Fenomena ini menyebabkan suhu udara malam hari di dataran tinggi bisa menyentuh angka 10–12°C, bahkan lebih rendah di wilayah pegunungan.

Di tempat-tempat seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi ini bisa memicu kemunculan embun upas atau embun es, yang kerap disalahartikan sebagai dampak aphelion.

Fakta di Lapangan: Fenomena yang Tidak Berbahaya

Perlu digarisbawahi bahwa fenomena aphelion sepenuhnya alami dan tidak membahayakan.

Tidak ada kaitan antara aphelion dengan anomali cuaca ekstrem, gempa bumi, atau bencana lainnya sebagaimana sempat beredar di sejumlah kanal tidak resmi.

Aphelion hanya mencerminkan posisi Bumi dalam orbitnya, bukan penyebab perubahan cuaca jangka pendek.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya.

Fenomena aphelion memang terjadi di awal Juli setiap tahun, tetapi faktor cuaca dingin lebih berkaitan dengan siklus iklim regional dan pergerakan angin musiman.

Dampak yang Sering Disalahpahami

Beberapa gejala yang sering muncul dan dikira sebagai efek aphelion antara lain:

  • Suhu udara lebih rendah dari biasanya di malam hingga pagi hari.
  • Terjadinya kabut pagi dan embun es di dataran tinggi dan pegunungan.
  • Minimnya curah hujan, udara kering, dan kadang terasa berdebu.
  • Perubahan kenyamanan termal di rumah-rumah tanpa isolasi panas yang baik.

Padahal, semua gejala di atas merupakan ciri khas musim kemarau dan angin muson dingin, bukan efek dari jarak Bumi ke Matahari.

Jadi, apakah ada kaitannya Aphelion Matahari dan cuaca dingin yang beberapa waktu belakangan ini mulai dirasakan? penjelasannya sangat jelas: fenomena aphelion bukanlah penyebab turunnya suhu udara di Indonesia.

Meski terjadi pada awal Juli, fenomena ini tidak cukup kuat untuk mengubah iklim atau suhu secara signifikan.

Sebaliknya, musim kemarau, hembusan angin dingin dari Australia, serta kondisi langit cerah menjadi faktor utama cuaca yang lebih sejuk saat ini.

Aphelion tetap menjadi bagian dari siklus alam tahunan yang menarik, tapi bukan penyebab cuaca dingin yang kini dirasakan masyarakat. (*stch)

Berita Sebelumnya
Calon pendaftar beasiswa lpdp tahap 2 tahun 2025 harus mengetahui beberapa aturan baru agar berpeluang lolos seleksi

Aturan Baru Beasiswa LPDP Tahap 2 2025: Syarat Esai hingga Kampus Tujuan Diperketat

Berita Selanjutnya
Unduh aplikasi timo bisa dapat saldo dana gratis

Cara Dapat Saldo DANA di Aplikasi Timo, Cukup Balas Chat Langsung Cair Rp50 Ribu