BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan pesepeda ultra asal Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Sidik Jawara.
Setelah sukses menuntaskan Race Around Djava (RAJ) 2024, tahun ini ia kembali mendaftarkan diri untuk mengikuti salah satu ajang ultra-cycling paling bergengsi dan menantang di Indonesia, yakni Race Around Djava 2026.
Ajang ini bukan balapan sepeda biasa. Para peserta harus menempuh perjalanan sejauh sekitar 3.000 kilometer mengelilingi Pulau Jawa dengan titik start dan finis di Jakarta.
Perlombaan tersebut menguji bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga mental, strategi, manajemen waktu, hingga kemampuan bertahan menghadapi berbagai kondisi cuaca dan medan.
Bagi Sidik, pengalaman mengikuti Race Around Djava sebelumnya menjadi bekal yang sangat berharga.
Pada edisi 2024, ia berhasil menyelesaikan perlombaan sebagai finisher kesembilan, sebuah pencapaian yang membanggakan mengingat tingkat kesulitan balapan tersebut.
“RAJ itu balapan 3.000 kilometer keliling Jawa. Start dari Jakarta, finis juga di Jakarta,” ujar Sidik.
Meski telah berhasil finis pada edisi sebelumnya, perjalanan yang dijalani tidak selalu berjalan mulus.
Salah satu pengalaman paling berkesan sekaligus menegangkan adalah ketika dirinya mengalami microsleep, yakni kondisi tertidur sesaat tanpa disadari akibat kelelahan ekstrem.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.30 dini hari saat ia masih mengayuh sepeda di jalan yang sepi.
Dalam hitungan detik, kesadarannya menghilang hingga tiba-tiba dirinya sudah berada di tengah jalan dan tersentak oleh bunyi klakson dua mobil yang melintas.
“Kalau microsleep bahaya. Pernah microsleep jam 02.30 pagi, tahu-tahu di tengah jalan diklakson dua mobil,” kenangnya.
Pengalaman nyaris mengalami kecelakaan tersebut justru menjadi pelajaran penting baginya.
Kini Sidik jauh lebih disiplin dalam mengatur waktu istirahat selama mengikuti balapan ultra jarak jauh.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam Race Around Djava adalah menentukan kapan harus berhenti dan beristirahat.
Tidak ada aturan khusus mengenai waktu tidur sehingga setiap peserta harus mampu membaca kondisi tubuhnya sendiri.
“Istirahatnya bebas. Selagi masih kuat diusahakan jalan terus. Kalau sudah mengantuk harus sudah istirahat,” tegasnya.
Untuk menghadapi Race Around Djava 2026, Sidik mengaku melakukan persiapan yang jauh lebih matang dibandingkan dua tahun lalu.
Jika sebelumnya ia mengikuti perlombaan dengan perlengkapan yang masih sederhana, kini seluruh kebutuhan balapan telah dipersiapkan secara lebih profesional.
“Dulu persiapan ala kadarnya. Sekarang lebih siap, peralatannya juga lebih siap. Tahun lalu navigasinya saja masih pakai HP,” katanya sambil tersenyum.
Program latihannya juga semakin intensif. Hampir setiap hari Sidik menghabiskan waktu untuk bersepeda, dengan menyisihkan satu hingga dua hari dalam sepekan untuk pemulihan.
Selain latihan rutin, ia juga menjalani sesi long ride sebagai simulasi menghadapi balapan sesungguhnya.
Bahkan dalam waktu dekat, ia berencana mengayuh sepeda dari Banyumas menuju Jakarta sebagai bagian dari persiapan akhir.
“Seminggu full gowes, terus ada yang long ride. Rencana nanti mau ke Jakarta pakai sepeda,” ungkapnya.
Race Around Djava 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 5 hingga 19 September 2026 dengan batas waktu penyelesaian selama 15 hari.
Meski demikian, Sidik memasang target pribadi untuk menyelesaikan perlombaan dalam waktu sekitar 10 hingga 11 hari.
Strategi yang akan diterapkannya adalah menjaga ritme kayuhan dan menempuh rata-rata 300 kilometer setiap hari.
“Strateginya jalan semampunya. Target sehari 300 kilometer. Insyaallah finis 10 atau 11 hari,” jelasnya.
Tahun ini tantangan diperkirakan semakin berat karena rute Race Around Djava disebut akan melewati kawasan Gunung Bromo, yang terkenal memiliki tanjakan panjang dan medan menantang.
“Tahun ini kemungkinan lewat Bromo. Bikin penasaran sekaligus menantang,” katanya.
Hingga saat ini, sekitar 33 peserta telah mendaftarkan diri dalam Race Around Djava 2026. Sidik memilih turun pada kategori Solo dengan biaya pendaftaran sebesar Rp3,5 juta.
Meski demikian, ia mengaku tidak lagi terlalu berfokus mengejar posisi klasemen.
Baginya, tujuan utama mengikuti Race Around Djava adalah mengalahkan batas kemampuan dirinya sendiri.
Bagi Sidik, balapan ultra-cycling bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Lebih dari itu, perjalanan ribuan kilometer tersebut menjadi ruang untuk belajar mengenai disiplin, ketahanan mental, manajemen energi, serta keberanian menghadapi tantangan yang muncul di sepanjang perjalanan.
Dengan persiapan yang semakin matang, pengalaman yang lebih banyak, serta strategi yang lebih terukur, Sidik Jawara berharap mampu kembali menuntaskan Race Around Djava 2026 dengan hasil yang lebih baik sekaligus mengharumkan nama Banyumas di ajang ultra-cycling nasional. (*/stch/dda)














