BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dalam suasana hangat penuh semangat, ratusan warga dari beragam latar belakang agama, suku, dan ras berkumpul dalam sebuah pertemuan lintas iman yang diadakan di Aula Gereja Giri Tirta, Paroki Santo Antonius Banjarnegara, pada Jumat (13/3/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk dialog serta silaturahmi bagi masyarakat di Kabupaten Banjarnegara.
Koordinator Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Paroki Santo Antonius Nugroho menjelaskan bahwa kegiatan pertemuan lintas iman ini bukanlah hal baru bagi masyarakat setempat.
Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 2008, bahkan sebelum pembangunan Aula Giri Tirta dilakukan.
Pada awalnya, acara ini dikenal dengan nama Komunitas Pelangi, yang merupakan sebuah forum yang mempertemukan warga dengan berbagai latar belakang keyakinan.
“Disebut Pelangi karena kita berbeda-beda, tetapi perbedaan warna itu justru menciptakan keindahan. Dari situlah kegiatan ini lahir dan kami berusaha menjaganya tetap berlangsung setiap tahun,” ungkap Nugroho.
Pertemuan lintas iman ini dianggap sangat penting dalam merawat komunikasi antarumat beragama serta menjaga suasana kebersamaan di tengah masyarakat yang multikultural.
Dalam konteks keberagaman yang ada di Banjarnegara, Nugroho menekankan bahwa saling memahami dan menghargai perbedaan adalah langkah fundamental untuk menciptakan harmoni sosial.
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.
Ia mengatakan bahwa keberagaman yang ada seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
“Perbedaan agama, suku, dan ras adalah gambaran masyarakat kita. Itu bukan sesuatu yang memisahkan, tetapi justru menguatkan kita sebagai warga Banjarnegara,” ujarnya saat hadir dalam acara tersebut.
Sementara itu, Bupati Amalia Desiana menilai bahwa pertemuan lintas iman ini merupakan momen penting untuk mempererat kembali hubungan antarwarga.
“Jujur saya merasa bahagia. Sudah lama rasanya kita tidak merasakan kebersamaan yang begitu hangat seperti ini. Hari ini kita bisa duduk bersama tanpa sekat,” kata Amalia dengan nada penuh rasa syukur.
Dalam sambutannya, Amalia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah persatuan, terutama isu-isu yang datang dari luar daerah.
“Banjarnegara memiliki fondasi toleransi yang kuat. Kita harus menjaga itu bersama-sama,” tambahnya.
Poin yang disampaikan oleh Bupati Amalia menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan antarwarga dalam menghadapi tantangan zaman.
Lebih lanjut, Amalia menyoroti pentingnya keadilan sosial sebagai bagian dari upaya menjaga kedamaian di masyarakat, termasuk dalam hal penyaluran bantuan sosial.
“Keadilan sosial adalah kunci dari kedamaian masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat di Banjarnegara.
Selain dialog dan silaturahmi, kegiatan pertemuan lintas iman tersebut juga diisi dengan doa bersama oleh para pemuka agama sebagai bentuk kepedulian terhadap konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Ini menunjukkan bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, semua peserta sepakat untuk bersatu dalam doa demi kedamaian dan harmoni global.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, para peserta melakukan refleksi tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Diskusi pun muncul mengenai tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi oleh masyarakat saat ini, termasuk bagaimana cara mengatasi potensi konflik yang bisa muncul akibat misinformasi atau provokasi dari pihak-pihak tertentu.
Dalam konteks interaksi antarwarga, salah satu peserta pertemuan menyampaikan harapannya akan semakin banyak kesempatan serupa di masa depan untuk memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama.
“Mengadakan acara seperti ini secara rutin sangatlah penting agar kita selalu ingat bahwa meski berbeda keyakinan, kita tetap satu dalam kemanusiaan,” ujarnya.
Tradisi pertemuan lintas iman yang terus dijaga oleh Paroki Santo Antonius bukan hanya sekadar ajang berkumpul tetapi juga merupakan simbol keberhasilan komunitas Banjarnegara dalam menjalani hidup berdampingan secara harmonis meski dengan segala perbedaan yang ada. (jud/stch/dda)
















