BANYUMASEKSPRES.ID, Solidaritas sosial dinilai sebagai salah satu kunci utama dalam membangun masyarakat Banyumas yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing.
Nilai kebersamaan ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga strategi sosial yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di tingkat daerah.
Penguatan solidaritas antarwarga diyakini mampu menciptakan ketahanan sosial yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan oleh Susi Fatma Yuwita, S.Tr.Sos, selaku Penyuluh Sosial pada Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Banyumas.
Ia menegaskan bahwa peran solidaritas sosial sangat penting dalam mendorong kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, terutama di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berkembang.
Menurut Susi, Kabupaten Banyumas masih dihadapkan pada sejumlah persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
Permasalahan seperti kemiskinan, ketelantaran sosial, disabilitas, hingga dampak kebencanaan masih menjadi tantangan nyata di masyarakat.

Kondisi tersebut tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah saja, melainkan memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Oleh karena itu, solidaritas sosial menjadi penggerak utama dalam upaya penanganan masalah kesejahteraan sosial.
Pendekatan kolaboratif dinilai mampu mengoptimalkan peran pemerintah, komunitas, dan relawan sosial baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten.
Dengan sinergi yang kuat, berbagai program sosial dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Aksi sosial tidak hanya dari warga, bahkan dalam Natal di Katedral Kristus Raja Purwokerto berikan pengingat untuk tobat ekologis dan pesan kepedulian lingkungan.
Sebagai bentuk nyata penguatan solidaritas antarwarga, Dinsospermasdes Kabupaten Banyumas bersama para pilar sosial melaksanakan berbagai kegiatan kolaboratif.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah kerja bakti pembersihan saluran air secara serentak di sejumlah kecamatan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana, khususnya untuk mengantisipasi potensi banjir saat musim hujan.
Kerja bakti tersebut melibatkan berbagai unsur pilar sosial, mulai dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Taruna Siaga Bencana (Tagana), Karang Taruna, hingga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan bahwa solidaritas sosial dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.
Susi menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (24/12/2025) tersebut dilakukan secara serempak di masing-masing kecamatan.
Fokus utama kegiatan adalah membersihkan saluran air untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pilar sosial mencerminkan semangat gotong royong yang masih kuat di Banyumas.
Dalam konteks tugasnya, penyuluh sosial memiliki peran strategis sebagai koordinator dan fasilitator dalam penanganan masalah sosial.
Penyuluh sosial bertugas memberikan penguatan kepada Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), melakukan mediasi sosial.
Serta merespons kondisi darurat melalui asesmen, verifikasi, dan validasi data. Selain itu, kunjungan rumah juga dilakukan untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran.
Menghadapi visi besar Indonesia Emas 2045, Susi menekankan pentingnya penguatan karakter dan nilai-nilai kesejahteraan sosial sejak dini.
Pemberdayaan generasi muda menjadi aspek krusial agar mereka mampu berperan aktif dalam pembangunan sosial.
Pendekatan inklusif juga perlu diterapkan agar kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan masyarakat miskin, tidak tertinggal dalam proses pembangunan.
Keterlibatan pemuda melalui Karang Taruna dan berbagai komunitas sosial diharapkan dapat melahirkan agen perubahan di tengah masyarakat.
Generasi muda dinilai memiliki energi, kreativitas, dan kepedulian yang dapat diarahkan untuk memperkuat solidaritas sosial dan inovasi sosial di tingkat lokal.
Susi berharap masyarakat Banyumas terus menjaga nilai gotong royong, saling membantu, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Menurutnya, semangat kebersamaan dan solidaritas sosial merupakan fondasi yang kokoh dalam mewujudkan Banyumas yang mandiri sekaligus berkontribusi nyata menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.(*/nds)
















