BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO — Dalam rangka menyambut Natal 2025, Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto tidak hanya memaknai perayaan ini sebagai kegiatan keagamaan semata melainkan juga sebagai momentum untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan umat dan masyarakat luas.
Melalui tema tobat ekologis yang diangkat tahun ini, gereja berupaya menegaskan kembali pentingnya menjaga relasi harmonis antara manusia dan alam, sebuah hubungan yang tak terpisahkan dari kehidupan bersama.
Pesan utama dari perayaan Natal kali ini adalah pentingnya tobat ekologis, sebuah kesadaran untuk memperbaiki sikap dan perilaku manusia terhadap alam.
Hal ini sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab moral demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Sugeng Walujo, Ketua Panitia Natal Katedral Kristus Raja Purwokerto, menjelaskan bahwa pesan ini menggarisbawahi kewajiban setiap individu untuk menjaga dan merawat lingkungan.
Menurut Sugeng, kerusakan alam yang terjadi saat ini tidak dapat dipisahkan dari perilaku manusia sendiri. Dampaknya akan kembali dirasakan oleh manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
“Alam ini perlu dijaga. Kalau tidak dijaga ya rusak, dan akhirnya kita juga yang menanggung akibatnya. Tobat ekologis ini mengandung maksud bahwa menjaga alam bukan untuk satu dua golongan, tapi untuk semua. Sepanjang hidup kita harus menjaga ekologi,” ujarnya pada Rabu (24/12).
Sebagai manifestasi nyata dari pesan tersebut, panitia Natal menerapkan konsep ramah lingkungan dalam seluruh dekorasi dan ornamen gereja.
Semua ornamen Natal di Katedral Kristus Raja Purwokerto dibuat dari barang-barang bekas dan limbah yang masih dapat dimanfaatkan.
Panitia secara sengaja tidak menggunakan barang baru, sebagai bentuk ajakan untuk hidup lebih hemat sekaligus mengurangi budaya konsumsi dan penggunaan barang sekali pakai.
“Semua ornamen dibuat dari barang bekas, memanfaatkan limbah dan tidak memakai barang baru. Sekarang apa-apa harus serba hemat. Kita harus kembali menghargai alam dan tidak memakai barang sekali buang. Bahkan ada ornamen dari bekas karung semen,” jelas Sugeng.
Nuansa kepedulian terhadap lingkungan semakin terasa melalui konsep dekorasi gereja yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jika biasanya terdapat satu pohon Natal besar yang menjadi pusat perhatian umat, pada perayaan Natal 2025 hal tersebut digantikan dengan puluhan pohon Natal berukuran sedang yang dikirimkan langsung dari masing-masing keluarga jemaat.
Setiap pohon dihias secara sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan keluarga serta dilengkapi dengan foto-foto keluarga masing-masing.
Konsep ini dimaksudkan sebagai simbol kebersamaan sekaligus penegasan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari unit terkecil yakni keluarga.
Selain membawa pesan ekologis, perayaan Natal tahun ini tetap mengusung tema besar “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”.
Tema tersebut dipilih sebagai pengingat akan pentingnya peran keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern termasuk perkembangan teknologi yang kerap berdampak pada renggangnya relasi antaranggota keluarga.
“Titik beratnya adalah tema keluarga. Karena kondisi saat ini, di dalam anggota keluarga biasanya mulai renggang. Maka perlu direkatkan lagi,” tambah Sugeng.
Perayaan Natal di Katedral Kristus Raja Purwokerto digelar dalam beberapa kali misa untuk mengakomodasi tingginya jumlah umat yang hadir.
Pada malam Natal, misa dilaksanakan dua kali yakni pukul 18.00 WIB dan 21.00 WIB dengan jumlah umat diperkirakan mencapai 1.800 hingga 2.000 orang. Antusiasme umat terlihat tinggi sejak sore hari dengan gereja dan area sekitarnya dipadati jemaat.
Sementara itu pada Hari Natal misa dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu pukul 06.00 WIB pukul 08.00 WIB khusus misa keluarga serta pukul 17.00 WIB dengan jumlah umat yang hadir diperkirakan berkisar antara 1.200 hingga 1.500 orang menunjukkan partisipasi aktif umat dalam merayakan Natal secara khidmat dan tertib.
Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh umat dilakukan penyisiran oleh tim Gegana Polresta Banyumas menggunakan metal detector sebelum misa berlangsung.
Langkah ini dilakukan sebagai prosedur pengamanan standar guna memastikan perayaan Natal berjalan aman dan kondusif.
Panitia juga telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung mulai dari penataan tempat duduk hiasan gereja tarub hingga sistem pengamanan terpadu. Persiapan tersebut dilakukan secara matang mengingat tingginya jumlah umat yang hadir serta pentingnya menjaga kekhusyukan ibadah selama perayaan Natal berlangsung.
Jamaat Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto menyambut baik inisiatif gereja dalam mengedepankan pesan tobat ekologis sebagai bagian dari perayaan Natal tahun ini.
Kesadaran akan pentingnya menjaga alam demi keberlanjutan generasi mendatang menjadi sorotan utama bagi banyak umat Katolik yang hadir.
Dengan adanya pemanfaatan barang-barang bekas sebagai ornamen Natal serta kontribusi aktif setiap keluarga jemaat melalui pohon Natal kecil karya mereka sendiri mencerminkan semangat kebersamaan sekaligus tanggung jawab kolektif dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Sugeng Walujo berharap agar pesan tobat ekologis ini tidak hanya berhenti pada momen perayaan tetapi juga terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap individu terutama di lingkup keluarganya masing-masing. (dms/stch/fam)
















