BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim liburan Natal dan Tahun Baru 2025-2026 kali ini menunjukkan dinamika yang cukup menarik dalam sektor pariwisata di Banyumas.
Sejumlah objek wisata alam, terutama yang berlokasi di kawasan pegunungan Gunung Slamet seperti Lokawisata Baturraden dan Menggala Ranch di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok mengalami kunjungan yang bersifat fluktuatif.
Salah satu faktor kunci yang memengaruhi arus wisatawan adalah kondisi cuaca yang tidak menentu selama periode liburan ini.
Suyanto, Kepala UPT Lokawisata Baturraden, mengungkapkan pada Jumat (26/12) bahwa jumlah pengunjung hingga siang hari masih relatif terbatas.
“Alhamdulillah belum ramai. Kunjungan sampai saat ini 425 orang,” ucapnya.
Meskipun angka tersebut belum mencatat lonjakan besar, total kunjungan sejak Minggu (21/12) hingga Kamis (25/12) mencapai sekitar 7.000 orang.
Cuaca yang berubah-ubah dianggap sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke lokasi tersebut.
“Faktor cuaca saat ini memang tidak menentu. Ada beberapa kali rombongan bus pariwisata sudah datang, tapi karena hujan akhirnya batal masuk obwis. Biasanya sekitar pukul 11.00 sudah mulai hujan,” jelas Suyanto, menjelaskan dampak langsung dari kondisi cuaca terhadap operasional dan kunjungan wisata.
Suyanto memproyeksikan bahwa puncak kunjungan liburan akan terjadi pada akhir pekan mendatang, tepatnya pada hari Minggu, tanggal 28 Desember.
Prediksi ini didasarkan pada tren kunjungan yang biasanya meningkat pada akhir pekan, terlebih saat periode libur sekolah dan Natal-Tahun Baru bertepatan seperti saat ini.
Menggala Ranch, sebuah objek wisata swasta yang juga berada di Desa Karangtengah, menghadapi situasi serupa.
Menurut Manager Menggala Ranch, Ripto Sudarmo, jumlah kunjungan sejak awal libur sekolah dan Nataru hingga Jumat (26/12) siang telah mencapai 1.233 pengunjung.
Meskipun jumlah ini baru mencapai sekitar 23 persen dari target keseluruhan sebanyak 5.400 wisatawan selama musim liburan.
Ripto mengakui adanya beberapa kendala yang dihadapi oleh pihak pengelola Menggala Ranch dalam mencapai target tersebut. Selain cuaca yang kurang bersahabat, keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri karena kendaraan besar seperti bus pariwisata tidak dapat menjangkau lokasi dengan mudah.
“Cuaca juga sangat berpengaruh, biasanya pukul 12.00 sudah mendung dan sekitar 13.30 hujan sampai sore sehingga operasional harus ditutup,” tambahnya.
Namun demikian, Ripto tetap optimistis bahwa target kunjungan dapat dicapai hingga akhir masa liburan ini. Ia menyoroti dominasi wisatawan dari luar Banyumas seperti Bumiayu dan Cilacap bagian barat serta warga Banyumas yang pulang kampung sebagai pendorong utama arus pengunjung ke Menggala Ranch.
“Sebagian besar pengunjung datang bersama keluarga,” ujarnya menambahkan.
Secara keseluruhan, kedua objek wisata tersebut tetap optimistis menyambut sisa masa liburan dengan berbagai persiapan untuk memastikan kenyamanan dan keamanan para pengunjung meskipun menghadapi tantangan cuaca dan aksesibilitas.
Kehadiran objek wisata alam seperti Lokawisata Baturraden dan Menggala Ranch memang menawarkan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun dari luar daerah ketika musim liburan tiba.
Lokasinya yang berada di kawasan pegunungan memberikan suasana segar dan alami yang menjadi daya tarik utama bagi mereka yang mencari ketenangan sekaligus menikmati keindahan alam.
Bagi Banyumas sendiri sebagai daerah tujuan wisata di Jawa Tengah bagian selatan, keberhasilan dalam menarik jumlah kunjungan wisatawan selama periode libur panjang sangat penting tidak hanya bagi sektor pariwisata namun juga bagi perekonomian lokal secara keseluruhan.
Dengan adanya tantangan cuaca serta aksesibilitas ini, pihak pengelola destinasi wisata tentunya harus semakin cerdas dalam merancang strategi untuk memaksimalkan potensi serta memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung mereka.
Dalam konteks lebih luas mengenai industri pariwisata di Indonesia pasca-pandemi COVID-19, kondisi seperti ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi serta inovasi bagi destinasi-destinasi wisata agar tetap relevan serta kompetitif bahkan ketika menghadapi tantangan-tantangan eksternal semacam itu.
Dengan berbagai upaya dari para pelaku industri pariwisata setempat serta dukungan pemerintah daerah untuk terus mendorong potensi wilayahnya sebagai destinasi unggulan tentunya kita berharap bahwa sektor ini akan mampu bangkit kembali dengan lebih kuat ke depannya. (dms/fam)
















