Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Festival Gunung Slamet #9 Purbalingga Targetkan Perputaran Uang 3,5 Miliar, UMKM dan Pariwisata Bergeliat

Perputaran Ekonomi Diklaim Tembus Rp 3,5 MiliarPerputaran Ekonomi Diklaim Tembus Rp 3,5 Miliar
DONGKRAK EKONOMI: Prosesi kirab budaya pada Festival Gunung Slamet (FGS) #9 di D'Las Serang, Kecamatan Karangreja

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Festival Gunung Slamet (FGS) #9 kembali digelar di kawasan wisata D’Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Selain menjadi agenda pelestarian budaya, festival tahunan ini juga diyakini mampu memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui peningkatan sektor pariwisata, UMKM, hingga hasil pertanian lokal.

Pemerintah Kabupaten Purbalingga menargetkan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya.

Berdasarkan hasil evaluasi, FGS tahun lalu berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung dengan nilai perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan angka tersebut menjadi modal optimisme agar penyelenggaraan Festival Gunung Slamet #9 mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Tahun ini kita berharap jumlah pengunjung lebih banyak sehingga dampak ekonominya semakin besar. Harapannya para petani sayur yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Desa Serang juga semakin sejahtera,” ujar Fahmi saat menghadiri hari kedua Festival Gunung Slamet #9, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, festival budaya tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Kehadiran ribuan wisatawan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, pedagang lokal, pengelola wisata, hingga para petani yang menjadi pemasok berbagai produk unggulan daerah.

Untuk menarik lebih banyak wisatawan, panitia menghadirkan beragam rangkaian kegiatan budaya, hiburan, serta tradisi khas masyarakat lereng Gunung Slamet.

Seluruh agenda dirancang agar pengunjung dapat menikmati kekayaan budaya sekaligus mengenal potensi wisata Desa Serang.

“Harapannya kegiatan ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat. Air juga menjadi simbol kehidupan agar ke depan kehidupan masyarakat semakin baik,” tambah Fahmi.

Salah satu prosesi yang menjadi daya tarik utama Festival Gunung Slamet adalah ritual pengambilan air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip.

Mata air tersebut memiliki nilai historis sekaligus menjadi simbol kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, menjelaskan bahwa prosesi pengambilan air tahun ini juga melibatkan generasi muda sebagai bagian dari upaya regenerasi pelestarian budaya lokal.

Ia menjelaskan, setelah banjir bandang beberapa waktu lalu, lokasi mata air Tuk Sikopyah mengalami sedikit pergeseran.

Namun sumber air tetap berada pada jalur yang sama sehingga kini justru lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Ini menjadi hikmah dari bencana alam. Mata air tetap mengalir dan lebih mudah diakses masyarakat. Penyatuan air dari seluruh lodong juga mengandung makna bahwa sekecil apa pun doa masyarakat, ketika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bersama,” jelasnya.

Dalam prosesi tersebut, air dari mata air Tuk Sikopyah dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu serta satu Kendi Pratolo.

Selanjutnya, air diarak menuju lokasi festival oleh para pemuda dan pemudi Desa Serang yang mengenakan pakaian adat.

Kirab budaya semakin semarak dengan kehadiran 16 gunungan hasil bumi yang berisi berbagai jenis sayuran dan buah hasil panen warga dari delapan RW di Desa Serang.

Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian sekaligus harapan akan panen yang semakin melimpah pada masa mendatang.

Sesampainya di kawasan D’Las Serang, dilakukan prosesi penyatuan air dari seluruh lodong bambu dan Kendi Pratolo ke dalam satu wadah besar.

Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga bersama para tamu undangan serta tokoh adat.

Setelah didoakan oleh sesepuh adat, masyarakat dipersilakan mengambil air Tuk Sikopyah yang diyakini membawa berkah.

Tak lama kemudian, warga juga berebut gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur dan harapan memperoleh rezeki yang melimpah.

Rangkaian Festival Gunung Slamet #9 ditutup dengan makan bersama menggunakan menu khas Desa Serang, yakni Nasi 3G.

Kuliner tradisional tersebut terdiri atas nasi jagung, gandul atau tumis pepaya, gundil berupa tempe goreng, serta gereh atau ikan asin.

Melalui penyelenggaraan Festival Gunung Slamet #9, Pemerintah Kabupaten Purbalingga berharap sektor pariwisata terus berkembang, budaya lokal tetap lestari, serta perekonomian masyarakat semakin meningkat.

Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, festival ini diharapkan menjadi salah satu agenda unggulan yang mampu memperkuat posisi Purbalingga sebagai destinasi wisata budaya di Jawa Tengah. (tya/stch/dda)

Berita Sebelumnya
ASUS Pad

Asus Pad Curi Perhatian Penggemar Tablet Dengan Baterai 9.000 mAH

Berita Selanjutnya
Warga Berebut Gunungan di Grebek Sura

Festival Grebek Sura Banjarnegara 2026 Angkat Budaya Lokal dan Dongkrak Wisata Desa