Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Tradisi Memetri Bumi di Cilacap, Warga Kuripan Lor Arak Tujuh Gunungan Hasil Bumi

Syukur Hasil Bumi, Warga Kuripan Lor Gelar Memetri BumiSyukur Hasil Bumi, Warga Kuripan Lor Gelar Memetri Bumi
TRADISI : Rangkaian tradisi Memetri Bumi diawali dengan kirab tujuh gunungan berisi hasil bumi, seperti sayuran dan buah-buahan

BANYUMASEKSPRES.ID, Berikut hasil rewrite artikel menjadi SEO friendly, minimal 500 kata, tanpa heading, serta tetap mempertahankan substansi berita dan gaya penulisan yang informatif.

Menulis

Tradisi Memetri Bumi kembali digelar oleh masyarakat Desa Kuripan Lor, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya melestarikan budaya warisan leluhur yang telah dijaga secara turun-temurun. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (4/7/2026) tersebut menjadi salah satu tradisi tahunan yang selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat karena mengandung nilai budaya, spiritual, serta mempererat kebersamaan antarwarga.

Rangkaian Tradisi Memetri Bumi diawali dengan kirab tujuh gunungan yang berisi aneka hasil bumi, seperti sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil pertanian lainnya. Gunungan tersebut diarak dari kawasan Panembahan Sumur Gemuling menuju Pendopo Balai Desa Kuripan Lor. Prosesi kirab berlangsung meriah dengan diikuti perangkat desa, tokoh masyarakat, kelompok seni, serta ratusan warga yang memadati sepanjang jalur kirab.

Sesampainya di Pendopo Balai Desa, tujuh gunungan hasil bumi tersebut langsung menjadi pusat perhatian masyarakat. Ratusan warga yang telah menunggu sejak pagi berebut isi gunungan sebagai bagian dari tradisi yang dipercaya membawa berkah.

Bagi masyarakat setempat, hasil bumi yang diperoleh dari gunungan diyakini menjadi simbol doa agar rezeki, kesehatan, dan keberuntungan terus mengalir sepanjang tahun.

Kepala Desa Kuripan Lor, Heni Hernafianto, mengatakan bahwa Memetri Bumi merupakan agenda budaya tahunan yang terus dilestarikan oleh masyarakat.

Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang telah diberikan sekaligus doa bersama agar masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari berbagai musibah maupun mara bahaya.

Menurut Heni, pelaksanaan Memetri Bumi tidak hanya berisi kirab gunungan. Berbagai rangkaian kegiatan telah dimulai sejak sehari sebelumnya dengan melaksanakan ziarah ke makam para leluhur.

Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada pendahulu yang telah berjasa membangun dan menjaga Desa Kuripan Lor hingga dapat berkembang seperti sekarang.

Setelah ziarah makam, masyarakat juga menggelar doa bersama yang dilaksanakan di Pendopo Balai Desa serta kawasan Panembahan Sumur Gemuling.

Melalui kegiatan tersebut, warga memanjatkan doa agar desa tetap diberikan keamanan, ketenteraman, hasil panen yang melimpah, serta kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.

Heni menjelaskan bahwa ziarah kepada para leluhur juga memiliki makna penting sebagai pengingat agar generasi saat ini tidak melupakan sejarah dan jasa para pendahulu.

Selain itu, tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk selalu menjaga sikap, perilaku, serta nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah prosesi kirab dan doa bersama selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan ruwatan bumi.

Tradisi ini menjadi simbol harapan agar desa terbebas dari segala bentuk bencana, gangguan, maupun hal-hal yang dapat menghambat kesejahteraan masyarakat.

Ruwatan bumi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang masih lestari di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Cilacap.

Tidak hanya itu, panitia juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional sebagai hiburan bagi masyarakat.

Salah satu yang menjadi daya tarik utama adalah pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang masih memiliki banyak penggemar di kalangan masyarakat.

Selain wayang kulit, berbagai kesenian tradisional lain seperti begalan dan tari-tarian daerah turut ditampilkan untuk memeriahkan acara sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

Keberadaan berbagai kesenian tradisional tersebut menjadi bagian penting dari pelestarian budaya daerah.

Melalui penyelenggaraan Memetri Bumi, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memberikan ruang bagi para seniman lokal untuk terus berkarya dan mempertahankan eksistensi kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.

Pemerintah Desa Kuripan Lor berharap tradisi Memetri Bumi dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai salah satu identitas budaya masyarakat.

Selain menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian, tradisi ini juga dinilai mampu mempererat hubungan antarwarga melalui semangat gotong royong, kebersamaan, dan saling berbagi.

Dengan tetap dilestarikannya Tradisi Memetri Bumi, Desa Kuripan Lor diharapkan mampu mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur sekaligus memperkuat karakter masyarakat yang guyub, rukun, dan saling menghormati.

Pemerintah desa juga berharap tradisi ini dapat terus menjadi daya tarik budaya yang mendukung perkembangan pariwisata lokal, sehingga memberikan manfaat sosial maupun ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Cilacap. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Portal Pembatas Belum Dipastikan Dicabut

Jembatan Serayu Banyumas Kembali Beroperasi, Nasib Portal Pembatas Ketinggian Masih Tanda Tanya

Berita Selanjutnya
IQOO Pad 5c

iQOO Pad 5c Meluncur di China, Tawarkan Performa Tinggi dan Baterai 10.000 mAh