Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pendaki Tembus 1.000 Orang Saat Libur Sekolah, BPBD Purbalingga Ingatkan Bahaya Karhutla di Gunung Slamet

1.000 Pendaki Padati Gunung Slamet1.000 Pendaki Padati Gunung Slamet
NAIK GUNUNG: Para pendaki mengikuti arahan petugas di Pos Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, saat libur sekolah

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Memasuki musim libur sekolah yang bertepatan dengan musim kemarau, aktivitas pendakian di Gunung Slamet melalui jalur Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga mengalami peningkatan signifikan.

Kondisi tersebut membawa dampak positif bagi sektor wisata alam, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga pun meningkatkan upaya pencegahan dengan memperketat pengawasan serta memberikan edukasi kepada seluruh pendaki sebelum memasuki kawasan hutan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang identik dengan meningkatnya potensi kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, menjelaskan bahwa setiap akhir pekan selama libur sekolah, jumlah pendaki yang melintasi jalur Bambangan diperkirakan mencapai 700 hingga 1.000 orang.

Tingginya aktivitas manusia di kawasan hutan dinilai dapat meningkatkan peluang munculnya titik api apabila tidak disertai kesadaran menjaga lingkungan.

Menurutnya, seluruh pendaki wajib mengikuti sosialisasi yang dilaksanakan di Pos Pendakian Bambangan sebelum memulai perjalanan menuju puncak Gunung Slamet.

Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan pemahaman mengenai bahaya kebakaran hutan, penyebab utama karhutla, hingga langkah-langkah pencegahan yang harus dipatuhi selama berada di kawasan pendakian.

BPBD menegaskan bahwa menjaga kelestarian Gunung Slamet merupakan tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, seluruh pendaki diminta menaati setiap aturan yang telah ditetapkan demi mencegah terjadinya kebakaran hutan yang dapat merusak ekosistem sekaligus membahayakan keselamatan pendaki.

Dalam sosialisasi tersebut, pendaki diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, memastikan api unggun benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi, serta tidak melakukan pembakaran sampah di area hutan.

Selain itu, masyarakat juga diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan asap, titik api, maupun indikasi kebakaran di sepanjang jalur pendakian.

Revon menegaskan bahwa kegiatan edukasi tersebut merupakan bagian dari komitmen BPBD Kabupaten Purbalingga dalam mengurangi risiko kebakaran hutan selama musim kemarau.

Pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pemadaman ketika api sudah membesar.

Kewaspadaan terhadap karhutla tidak hanya dilakukan di Purbalingga. Sejumlah daerah di Indonesia juga mulai meningkatkan status siaga menghadapi musim kemarau.

Di Provinsi Sumatera Selatan misalnya, BPBD setempat mencatat telah terjadi 237 kasus kebakaran hutan dan lahan hingga awal Juli 2026.

Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan, sedikitnya terdapat 43 titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah tersebut.

Delapan kabupaten di Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga karhutla, yakni Muara Enim, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Musi Rawas Utara, dan Ogan Komering Ulu.

Sementara empat daerah lainnya, yaitu Lahat, Musi Rawas, OKU Timur, dan OKU Selatan, juga didorong segera menetapkan status serupa menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, mengatakan penetapan status siaga menjadi langkah penting agar pemerintah daerah dapat memperkuat koordinasi lintas instansi, menyiapkan personel, peralatan, serta dukungan anggaran dalam menghadapi potensi kebakaran hutan.

Menurutnya, hampir seluruh wilayah memiliki risiko karhutla ketika musim kemarau tiba.

Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama mengingat proses pemadaman membutuhkan biaya besar, waktu yang panjang, serta sumber daya yang tidak sedikit.

Hasil patroli udara dan darat terbaru bahkan menemukan sedikitnya 15 titik api yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Banyuasin, Musi Banyuasin, hingga Kota Palembang.

Untuk mendukung penanganan darurat, BPBD Sumatera Selatan telah menyiapkan satu pesawat Cessna untuk patroli udara, satu helikopter patroli, dan tiga helikopter water bombing guna mengantisipasi meluasnya kebakaran.

Melihat kondisi tersebut, BPBD Purbalingga mengajak seluruh pendaki Gunung Slamet agar lebih peduli terhadap kelestarian alam.

Disiplin mematuhi aturan pendakian dan menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi langkah sederhana namun sangat penting dalam menjaga ekosistem hutan tetap lestari.

Dengan meningkatnya jumlah wisatawan selama musim liburan, kolaborasi antara pemerintah, pengelola jalur pendakian, relawan, dan para pendaki menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya karhutla.  (tya/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kapal Tanker Pertamina Dapat Lampu Hijau

Selat Hormuz Kembali Ramai, Ekspor Minyak Mentah Tembus 10 Juta Barel per Hari

Berita Selanjutnya
Lelah Dihina, Permak Hidung dan Mata

Lelah Fisiknya Selalu Dihina, Elly Sugigi Operasi Hidung dan Kelopak Mata