Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Tradisi Memetri Bumi di Banyumas Tetap Lestari, Kepala Dusun Wajib Memasak Ingkung Ayam

Ingkung Kepala Dusun Warnai Memetri BumiIngkung Kepala Dusun Warnai Memetri Bumi
TRADISI: Ratusan warga Desa Watuagung berkumpul di area situs Watu Lintang untuk menggelar tradisi memetri bumi, Senin (6/7) Wage

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tradisi memetri bumi di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, kembali digelar dengan tetap mempertahankan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu aturan unik yang masih dijaga hingga kini adalah kewajiban kepala dusun yang sedang menjabat memasak ingkung ayam sebagai hidangan utama dalam prosesi adat tersebut.

Tradisi memetri bumi dilaksanakan pada Senin (6/7) Wage dan dipusatkan di Situs Watu Lintang, yang menjadi lokasi sakral bagi masyarakat setempat.

Ratusan warga dari berbagai kalangan hadir untuk mengikuti rangkaian acara sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki, keselamatan, dan hasil bumi yang diterima selama setahun terakhir.

Salah satu bagian paling menarik dari tradisi ini adalah penyajian ingkung ayam, hidangan khas Jawa yang memiliki makna filosofis sebagai simbol kepasrahan, doa, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Berbeda dengan tradisi pada umumnya, pembuatan ingkung ayam di Desa Watuagung tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.

Berdasarkan aturan adat yang telah diwariskan oleh para leluhur, hanya kepala dusun yang sedang menjabat yang diberi amanah untuk memasak hidangan tersebut.

Kepala Dusun 1 Desa Watuagung, Nuryadi, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan tetap dipertahankan hingga sekarang tanpa mengalami perubahan.

“Sudah turun-temurun, kepala dusun yang menjabat bikin ingkung ayam,” jelas Nuryadi.

Tidak hanya proses memasaknya yang memiliki aturan khusus, ayam yang digunakan sebagai bahan utama juga harus memenuhi ketentuan adat.

Ayam yang dipilih wajib merupakan ayam kampung jantan yang masih berjengger.

Seluruh bahan dan proses memasak dipersiapkan langsung oleh kepala dusun sebagai bentuk tanggung jawab terhadap amanah adat.

Menurut masyarakat setempat, kepatuhan terhadap aturan tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya menjaga keaslian tradisi agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Selain menyajikan ingkung ayam, masyarakat RW 2 Desa Watuagung juga menggelar kenduri bersama dengan menyembelih seekor kambing yang dibeli secara gotong royong melalui sumbangan sukarela warga.

Kepala Desa Watuagung, Tirin, mengatakan tradisi memetri bumi merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur dan terus dijaga oleh masyarakat hingga sekarang.

“Memetri bumi, adat istiadat yang masih kental. Warga ikhlas sodakoh bersama-sama membeli kambing,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Melalui kegiatan gotong royong, masyarakat diajak untuk saling berbagi, memperkuat kebersamaan, dan menjaga kerukunan di lingkungan desa.

Rangkaian kegiatan memetri bumi diawali dengan doa bersama dan tahlil yang dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Prosesi tersebut juga menjadi doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan hasil panen yang melimpah pada masa mendatang.

Acara kemudian ditutup dengan kenduri bersama, di mana seluruh warga menikmati hidangan becek kambing yang dibagikan secara merata kepada masyarakat yang hadir.

Suasana penuh kebersamaan terlihat ketika warga dari berbagai usia berkumpul menikmati hidangan sambil mempererat tali silaturahmi.

Tradisi memetri bumi di Desa Watuagung menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih terus hidup di tengah masyarakat Banyumas.

Selain menjadi bentuk pelestarian adat istiadat, kegiatan ini juga memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan selama bergenerasi.

Melalui pelestarian tradisi seperti memetri bumi, masyarakat berharap nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan semangat persatuan dapat terus diwariskan kepada generasi muda sehingga identitas budaya Banyumas tetap terjaga di masa depan. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
313 Ribu Warga Sudah CKG

23 Puskesmas di Purbalingga Layani Cek Kesehatan Gratis, Target 55 Persen Warga Terlayani

Berita Selanjutnya
SPMB PJJ Bidik 2,4 Juta Anak Putus Sekolah

Kemendikdasmen Luncurkan SPMB PJJ 2026, Solusi Pendidikan untuk 2,4 Juta Anak Tidak Sekolah