BANYUMASEKSPRES.ID, Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan signifikan.
Pada Rabu (8/7/2026), gunung api aktif tersebut dilaporkan mengalami enam kali erupsi sejak dini hari hingga menjelang siang.
Letusan menghasilkan kolom abu vulkanik yang membumbung ke udara dan menjadi perhatian masyarakat, terutama yang berada di wilayah pesisir sekitar Selat Sunda.
Menyikapi meningkatnya aktivitas vulkanik tersebut, pemerintah bersama para ahli kebencanaan mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.
Seluruh warga, wisatawan, nelayan, maupun pihak lain diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
“Saat ini otoritas telah menetapkan radius bahaya sejauh 3 kilometer dari kawah aktif,” ujarnya.
Menurut Daryono, kawasan dalam radius tersebut berpotensi terdampak lontaran material vulkanik, hujan abu, hingga gas berbahaya yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Selain menjauhi area kawah, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat dipicu oleh aktivitas vulkanik, termasuk apabila terjadi gempa bumi kuat maupun anomali permukaan laut.
Ia mengimbau setiap keluarga memiliki rencana evakuasi mandiri sehingga dapat bertindak cepat apabila kondisi darurat benar-benar terjadi.
“Masyarakat di sepanjang garis pantai harus memiliki rencana evakuasi mandiri jika terjadi gempa kuat atau aktivitas gunung api yang memicu anomali air laut,” jelasnya.
Daryono juga mengingatkan bahaya abu vulkanik yang dapat terbawa angin hingga mencapai kawasan permukiman.
Abu vulkanik tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan dan mata.
Karena itu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, kacamata pelindung, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila terjadi hujan abu.
Selain itu, warga diminta menutup pintu, jendela, ventilasi rumah, dan tempat penampungan air bersih agar abu vulkanik tidak masuk ke dalam rumah maupun mencemari sumber air yang digunakan sehari-hari.
Di tengah maraknya informasi yang beredar melalui media sosial, Daryono juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai kabar yang belum jelas kebenarannya.
Ia meminta masyarakat hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BNPB, maupun instansi pemerintah terkait.
“Validasi laporan aktivitas gunung api melalui kanal resmi untuk memastikan data yang Anda terima adalah fakta terkini,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan PVMBG, Gunung Anak Krakatau mengalami enam kali erupsi mulai pukul 00.11 WIB.
Beberapa letusan menghasilkan kolom abu setinggi antara 100 hingga 250 meter di atas puncak gunung.
Sebaran abu vulkanik terpantau bergerak ke arah utara dan barat laut mengikuti arah angin saat erupsi berlangsung.
Aktivitas tersebut terus dipantau secara intensif menggunakan berbagai instrumen pemantauan vulkanologi.
Hingga saat ini, PVMBG masih menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Status Level III (Siaga).
Status tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik masih cukup tinggi sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan.
Pada level ini, masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki dilarang memasuki atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif karena masih berpotensi terjadi erupsi susulan yang dapat mengeluarkan material pijar, abu vulkanik, maupun gas beracun.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Selama mengikuti arahan petugas dan memperhatikan informasi resmi yang terus diperbarui, risiko terhadap keselamatan dapat diminimalkan.
Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, koordinasi antara pemerintah, petugas pemantauan gunung api, aparat daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung upaya mitigasi bencana.
Kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap zona bahaya, serta akses terhadap informasi resmi diharapkan mampu melindungi masyarakat dari potensi dampak erupsi yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas vulkanik. (*/stch/dda)
















