BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Setelah mengalami kenaikan yang cukup signifikan selama lebih dari dua pekan, harga daging ayam ras di Purwokerto akhirnya mulai menunjukkan tren penurunan.
Perubahan ini memberikan sedikit kelegaan kepada masyarakat yang sebelumnya harus berhadapan dengan harga yang mencapai Rp42.000 per kilogram.
Berdasarkan data dari aplikasi Sistem Informasi Harga Bahan Pokok Banyumas (Sigaokmas) pada Jumat (26/9), harga daging ayam di Pasar Wage telah turun menjadi Rp38.000 per kilogram dari sebelumnya Rp42.000.
Ira, seorang pedagang berusia 50 tahun di Pasar Manis, mengonfirmasi adanya penurunan harga tersebut, “Sudah turun, Mas, dari empat puluh dua ribu per kilogram menjadi tiga puluh delapan ribu per kilogram,” ujarnya kepada awak media Banyumas Ekspres.
Pernyataan Ira menyoroti bagaimana fluktuasi harga ini sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi sehari-hari di kalangan pedagang dan konsumen.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menjelaskan bahwa lonjakan harga sebelumnya bukanlah tanpa alasan.
Menurut Gatot, peningkatan tajam tersebut disebabkan oleh tingginya permintaan daging ayam dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kenaikan itu karena adanya permintaan tambahan kepada distributor untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung program MBG,” jelas Gatot.
Program Makan Bergizi Gratis ini memang membawa dampak signifikan terhadap permintaan bahan pangan di wilayah Banyumas.
Dengan bertambahnya jumlah unit SPPG di daerah tersebut, kebutuhan akan daging ayam dan telur mengalami lonjakan yang cukup tajam.
Kondisi ini langsung mempengaruhi ketersediaan pasokan di pasar umum sehingga memicu gejolak harga yang dirasakan beberapa pekan terakhir.
Untuk mengatasi situasi ini, Dinperindag Kabupaten Banyumas terus berupaya menjalin koordinasi erat dengan para peternak, distributor, dan pedagang setempat.
Tujuannya adalah memastikan agar ketersediaan pasokan tetap terjaga dan harga daging ayam tidak kembali mengalami kenaikan yang drastis.
“Dinperindag terus berkoordinasi untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga daging ayam ras di pasar,” pungkas Gatot.
Upaya pengendalian ini menjadi langkah strategis yang sangat penting bagi kestabilan ekonomi lokal khususnya di sektor pangan.
Koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dengan para pelaku usaha dapat membantu menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran sehingga fluktuasi harga dapat diminimalisasi.
Selain itu, strategi jangka panjang juga perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan seperti saat program MBG berlangsung.
Penguatan kapasitas produksi lokal misalnya dapat menjadi salah satu solusi agar ketergantungan pada pasokan luar daerah berkurang dan kestabilan harga lebih terjamin.
Di sisi lain fenomena ini juga membuka peluang bagi para peternak lokal untuk meningkatkan skala produksi mereka guna memenuhi kebutuhan pasar yang semakin dinamis.
Dukungan dari pemerintah dalam bentuk pelatihan atau bantuan modal usaha bisa menjadi stimulus positif bagi perkembangan industri peternakan di wilayah Banyumas.
Sebagai catatan penting masyarakat perlu diberikan pemahaman terkait dinamika pasar terutama dalam menghadapi perubahan harga komoditas pokok seperti daging ayam.
Edukasi mengenai faktor-faktor penyebab fluktuasi harga serta langkah-langkah antisipatif yang bisa dilakukan oleh konsumen sangat bermanfaat untuk menjaga daya beli mereka tetap stabil.(jeb/dda)
















