BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kenaikan harga berbagai komoditas ikan dan makanan laut yang terjadi di Pasar Badhog Bancar, Kabupaten Purbalingga, mulai memberikan dampak negatif terhadap daya beli masyarakat.
Situasi ini semakin mencolok ketika banyak pedagang mengeluhkan penurunan penjualan seiring dengan melonjaknya harga sejumlah jenis ikan dan seafood, yang dimulai sejak bulan Ramadan lalu.
Sifi, seorang pedagang ikan dan seafood yang beroperasi di Pasar Badhog Bancar, menjelaskan bahwa hampir seluruh komoditas yang dijualnya mengalami kenaikan harga.
“Harga ikan terus naik sejak Ramadan. Penjualan juga terasa menurun karena pembeli jadi mengurangi belanja,” ujarnya pada Jumat (5/6/2026).
Menurut Sifi, tren kenaikan harga ini masih berlanjut hingga saat ini dan belum menunjukkan tanda-tanda akan turun dalam waktu dekat.
Penyebab utama dari lonjakan harga ini diduga berasal dari meningkatnya permintaan pasokan ikan guna memenuhi kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Permintaan yang tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan stok yang memadai, sehingga menyebabkan harga berbagai komoditas mengalami kenaikan cukup signifikan.
Sifi memberikan beberapa contoh konkret mengenai perubahan harga yang terjadi.
Harga ikan kembung layang, misalnya, meningkat dari Rp32 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Kenaikan serupa juga dialami oleh udang yang sebelumnya dijual seharga Rp80 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp90 ribu per kilogram.
Selain itu, cumi-cumi yang sebelumnya berada di angka Rp70 ribu per kilogram kini mencapai Rp80 ribu per kilogram.
“Ikan kembung layang naik dari Rp32.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Udang dari Rp80.000 menjadi Rp90.000 per kilogram, sedangkan cumi dari Rp70.000 menjadi Rp80.000 per kilogram,” jelasnya.
Tidak hanya hasil laut yang mengalami kenaikan harga signifikan, ikan konsumsi air tawar juga tidak luput dari fenomena ini.
Ikan mujair yang sebelumnya dijual sekitar Rp35 ribu per kilogram saat ini ikut mengalami kenaikan harga yang cukup mencolok.
Begitu pula dengan harga ikan bawal dan lele yang menunjukkan tren serupa mengikuti kenaikan komoditas perikanan lainnya.
Dalam upaya untuk menjaga ketersediaan stok dagangan meski dalam kondisi pasar yang lesu, Sifi mengandalkan pasokan dari dua wilayah berbeda.
Untuk ikan air tawar seperti mujair dan lele, ia memperoleh pasokan dari sejumlah daerah di Kabupaten Purbalingga.
Sedangkan kebutuhan seafood seperti cumi dan udang dipasok dari kawasan pesisir Kabupaten Cilacap.
Meskipun pasokan masih tersedia untuk memenuhi permintaan, tingginya harga membuat perputaran penjualan tidak sebaik biasanya.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin akan ada dampak lebih lanjut terhadap ekonomi lokal yang bergantung pada perdagangan komoditas tersebut.
Pedagang berharap agar harga-harga kembali stabil sehingga daya beli masyarakat dapat pulih kembali dan aktivitas perdagangan di pasar bisa bergairah seperti sedia kala. (alw/stch/dda)
















