Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Petani 68 Tahun di Kebumen Ditemukan Meninggal di Sawah, Polisi Pastikan Tidak Ada Tanda Kekerasan

Warga Buayan Geger Penemuan JenazahWarga Buayan Geger Penemuan Jenazah
EVAKUASI: Petugas melakukan evakuasi terhadap korban meninggal di area persawahan Desa Wonodadi, Kecamatan Buayan, Rabu (3/6)

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Hadimarsono, seorang warga berusia 68 tahun dari Desa Wonodadi, Kecamatan Buayan, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di area persawahan yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Penemuan jenazah ini terjadi pada Rabu sore, 3 Juni, dan segera mengundang perhatian serta kepanikan di kalangan masyarakat setempat.

Kapolres Kebumen, AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama, mengungkapkan bahwa jenazah korban ditemukan di Blok Siwaru, Desa Geblug, Kecamatan Buayan sekitar pukul 17.15 WIB.

“Korban ditemukan dalam keadaan tergeletak di lahan sawah miliknya. Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh cucunya yang pergi menyusul ke sawah setelah korban tidak kunjung pulang ke rumah hingga sore hari,” ujar Kapolres pada konferensi pers yang digelar pada Kamis, 4 Juni.

Hari itu menjadi hari yang berbeda bagi Hadimarsono. Dengan kebiasaan yang selalu pulang ke rumah untuk beristirahat dan makan siang, kehadirannya yang tak kunjung muncul membuat cucunya khawatir.

Hingga pukul 16.00 WIB, cucunya merasa perlu untuk mengecek keberadaan sang kakek di sawah.

Penemuan Hadimarsono dalam kondisi meninggal dunia lantas memicu laporan kepada perangkat desa setempat.

Merespons laporan tersebut, Tim Inafis Polres Kebumen bersama dengan personel Polsek Buayan dan petugas Puskesmas setempat langsung bergegas menuju lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan olah tempat kejadian perkara.

Setibanya di lokasi kejadian, petugas menemukan sejumlah barang milik korban yang tergeletak di sekitar area sawah tersebut.

Di antara barang-barang tersebut terdapat caping, ember, gayung, alat semprot listrik serta karung berisi bekal makanan dan minuman.

Selain itu, sandal dan obat tanaman juga ditemukan bersamaan dengan uang tunai sebesar Rp80 ribu yang ada di saku celana korban.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau indikasi tindak pidana lainnya di sekitar lokasi penemuan jenazah.

Hal ini menambah keyakinan petugas bahwa kematian Hadimarsono bukan akibat tindakan kriminal.

Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan menunjukkan bahwa korban diperkirakan telah meninggal lebih dari enam jam sebelum dilakukan pemeriksaan oleh tim medis.

Keluarga Hadimarsono menjelaskan bahwa selama ini almarhum memiliki riwayat penyakit tertentu.

Meskipun begitu, penyebab pasti kematian masih menjadi tanda tanya karena pihak keluarga menolak untuk melakukan autopsi terhadap jenazahnya.

“Keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Pihak keluarga juga meminta agar jenazah segera dimakamkan,” ungkap Kapolres I Putu Bagus Krisna Purnama menambahkan.

Keberadaan Hadimarsono sebagai seorang petani tentu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Wonodadi dan sekitarnya.

Kegiatan bertani selama bertahun-tahun memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian lokal serta kehidupan sosial masyarakat desa tersebut.

Kehilangannya tentu meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya serta tetangga-tetangganya.

Dalam konteks pertanian, banyak petani yang menghadapi tantangan kesehatan seiring dengan bertambahnya usia mereka dan kompleksitas pekerjaan di lapangan seperti menghadapi cuaca ekstrem atau risiko kecelakaan saat bekerja di sawah.

Kasus seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya perhatian lebih terhadap kesehatan petani serta perlunya dukungan komunitas dalam membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman.

Seiring dengan berita duka ini menyebar ke seluruh penjuru desa dan wilayah sekitarnya, banyak masyarakat turut merasakan kesedihan yang mendalam atas berpulangnya salah satu tokoh masyarakat mereka.

Proses pemakaman Hadimarsono pun dilaksanakan dengan khidmat dan penuh penghormatan oleh warga setempat.

Kejadian ini juga menimbulkan diskusi mengenai perlunya peningkatan kesadaran tentang kesehatan serta keamanan bagi para petani di daerah pedesaan lainnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Melihat pentingnya profesi petani bagi ketahanan pangan nasional dan lokal, sangatlah krusial untuk memastikan setiap petani mendapatkan perhatian medis yang layak serta pendidikan mengenai kesehatan agar dapat mendeteksi potensi masalah lebih awal sebelum menjadi serius.

Peristiwa tragis ini harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak terkait agar lebih memperhatikan kondisi para petani terutama di daerah-daerah terpencil seperti Desa Wonodadi ini.

Dengan upaya kolektif dari pemerintah daerah hingga komunitas lokal, semoga kedepannya setiap petani mendapatkan perlindungan dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai demi keselamatan mereka saat bekerja. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Harga MinyaKita Masih Stabil

Satgas Pangan Polresta Cilacap Sidak MinyaKita, Harga dan Takaran Dipastikan Sesuai HET

Berita Selanjutnya
Debut Veda di Balaton

Veda Ega Pratama Siap Debut di Sirkuit Balaton, Target Tambah Poin Besar