Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Hotspot Karhutla Nasional Turun, OMC Mulai Tunjukkan Hasil di Wilayah Prioritas

OMC Mulai Efektif Tangani KarhutlaOMC Mulai Efektif Tangani Karhutla
PERSIAPAN: Operasi Modifikasi Cuaca untuk penanganan karhutla

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mulai menunjukkan perkembangan positif.

Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) terpantau menurun di sejumlah provinsi prioritas setelah pemerintah mengintensifkan berbagai metode penanganan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan pengendalian karhutla tidak dilakukan hanya dengan satu metode.

Pemerintah menggabungkan OMC, operasi pemadaman darat, operasi udara seperti water bombing, patroli, serta langkah penegakan hukum.

Menurut Suharyanto, OMC menjadi salah satu metode yang dinilai efektif karena hujan yang dihasilkan dapat membantu membasahi wilayah rawan kebakaran dalam cakupan yang luas.

Meski demikian, OMC tetap harus berjalan beriringan dengan operasi pemadaman lainnya.

“Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko,” ujar Suharyanto, seperti dikutip dalam laporan Antara.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Sabtu (12/9/2026) pukul 21.04 WIB, jumlah hotspot high confidence secara nasional tercatat sebanyak 567 titik.

Angka tersebut turun 121 titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya.

Namun, kondisi di lapangan masih dinamis sehingga penurunan hotspot belum berarti seluruh persoalan karhutla telah selesai.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla, Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot terbanyak.

Meski demikian, jumlahnya mengalami penurunan cukup signifikan, yakni dari 271 titik menjadi 197 titik.

Kalimantan Selatan juga menunjukkan penurunan. Jumlah hotspot high confidence di provinsi tersebut turun dari 47 titik menjadi hanya tujuh titik.

Sementara itu, Riau dan Jambi tercatat nihil hotspot high confidence dalam pemantauan tersebut.

Kondisi ini menjadi perkembangan positif di tengah upaya pemerintah mengendalikan karhutla di wilayah yang memiliki potensi kebakaran cukup tinggi.

Di tengah penurunan hotspot di beberapa wilayah, peningkatan justru terjadi di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.

Kalimantan Barat mencatat kenaikan hotspot high confidence dari 51 titik menjadi 91 titik. Sedangkan Sumatera Selatan meningkat dari 11 titik menjadi 62 titik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perkembangan karhutla dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi cuaca, kelembapan, angin, serta bahan bakar di lapangan.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat patroli, pengecekan lapangan atau groundcheck, serta operasi pemadaman di wilayah yang mengalami peningkatan hotspot.

Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa angka hotspot tidak dapat secara langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit.

Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu titik deteksi.

Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah untuk membantu penanganan karhutla adalah Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.

Di Kalimantan Barat, OMC berlangsung pada 5–14 September 2026.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak sembilan sortie penerbangan telah dilakukan dengan menggunakan total 7.200 kilogram bahan semai berupa natrium klorida atau NaCl.

Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah sasaran. Dari rangkaian operasi tersebut, diperkirakan menghasilkan volume hujan sekitar 87,9 juta meter kubik.

Namun, angka tersebut merupakan estimasi hasil hujan dari operasi dan perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan masih dilakukan setelah rangkaian OMC selesai.

Hujan yang turun di wilayah sasaran diharapkan dapat meningkatkan kelembapan dan membantu membasahi lahan yang sebelumnya kering.

Kondisi lahan yang lebih basah kemudian dapat mendukung efektivitas tim pemadam yang bekerja di darat.

Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah berlangsung pada 6–15 September 2026.

Hingga 11 September, sebanyak tujuh sortie penerbangan telah dilakukan dengan total penggunaan 5.600 kilogram NaCl.

Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau.

Pelaksanaan OMC di Kalimantan Tengah menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian karhutla, terutama karena provinsi tersebut masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas pada pemantauan 12 September.

Penurunan hotspot dari 271 menjadi 197 titik menunjukkan adanya perkembangan positif.

Namun, pemerintah tetap perlu mempertahankan patroli dan pemadaman karena kondisi karhutla dapat kembali berubah ketika cuaca dan kondisi lahan berubah.

Hujan hasil OMC memang dapat membantu membasahi wilayah yang terdampak karhutla.

Namun, metode tersebut bukan berarti menggantikan seluruh proses pemadaman.

Pada lahan gambut, penanganan membutuhkan pembasahan dan pendinginan secara berkelanjutan.

Kondisi bawah permukaan membuat proses pemadaman harus diikuti pemantauan untuk memastikan tidak ada titik panas yang kembali berkembang.

Karena itu, operasi udara dan operasi darat tetap menjadi bagian yang saling melengkapi.

Water bombing digunakan untuk membantu menangani bagian api yang sulit dijangkau, sementara personel di darat melakukan pembasahan, pendinginan, patroli, dan pengecekan lokasi.

BNPB sebelumnya juga menegaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan secara terpadu, mulai dari pencegahan, deteksi dini, patroli, groundcheck, pemadaman, pendinginan, hingga pemantauan potensi munculnya kembali titik api.

Penurunan hotspot nasional menjadi sinyal positif dalam upaya pengendalian karhutla.

Namun, pemerintah tetap perlu mewaspadai wilayah yang mengalami peningkatan titik panas, terutama Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.

Dinamika tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan strategi yang dilakukan secara berkelanjutan.

OMC dapat membantu meningkatkan potensi hujan dan membasahi lahan, sementara water bombing, pemadaman darat, patroli, dan groundcheck diperlukan untuk menangani kondisi di lapangan.

Selain aspek pemadaman, penegakan hukum juga menjadi bagian dari penanganan karhutla.

Pemerintah tidak hanya berupaya mengendalikan api, tetapi juga melakukan langkah hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran atau menyebabkan kebakaran.

Dengan kombinasi berbagai metode tersebut, pemerintah berharap risiko meluasnya karhutla dapat ditekan dan kondisi lahan di wilayah prioritas semakin terkendali. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Angkudes Terganjal Pajak dan KIR

Batas Usia Angkudes Banyumas Belum Diperpanjang, Sopir Terganjal PKB dan KIR

Berita Selanjutnya
PPPK Paruh Waktu

Kabar Terbaru PPPK, Sanksi Potong Gaji Hanya Berlaku pada Pelanggaran Sengaja