BANYUMASEKSPRES.ID, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat dan berpeluang menembus level psikologis 7.000 pada Kamis, 10 Juli 2025. Menurut riset dari Phintraco Sekuritas, pergerakan IHSG hari ini akan berada dalam kisaran resistance di 7.000, pivot di 6.950, dan support di 6.900.
Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk meraih cuan dari sejumlah saham yang direkomendasikan. Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menyebut lima saham yang dinilai menarik untuk diperhatikan, antara lain SCMA, EMTK, MBMA, ACES, dan MDKA.
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu 9 Juli 2025, IHSG ditutup menguat di posisi 6.943,92 atau naik 0,57%. Penguatan indeks ini tidak terlepas dari euforia pasar terhadap penawaran umum perdana saham (IPO) dan sejumlah berita aksi korporasi dari emiten tertentu yang cukup menarik perhatian pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas mencatat bahwa faktor-faktor ini memberikan sentimen positif yang mendorong indeks untuk bergerak lebih tinggi. Meski beberapa sektor masih menghadapi tekanan, seperti otomotif, tetapi sektor-sektor lain justru memperlihatkan ketahanan yang cukup baik.
Di sisi lain, penurunan penjualan mobil selama dua bulan berturut-turut turut menjadi perhatian investor. Penjualan mobil pada Juni 2025 mengalami penurunan sebesar 22,6% secara tahunan (YoY), setelah sebelumnya juga mencatatkan penurunan sebesar 15,1% YoY pada Mei 2025.
Namun begitu, ada kabar positif dari sektor ritel. Penjualan ritel nasional pada Mei 2025 tumbuh sebesar 1,9% YoY, membalikkan tren negatif pada April 2025 yang mengalami penurunan sebesar 0,3% YoY.
“Hal ini karena banyaknya hari libur di bulan Mei 2025 lalu sehingga meningkatkan penjualan ritel di masa liburan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (10/7/2025).
Meski ada perbaikan di sektor ritel, tantangan perdagangan global masih membayangi. Meskipun pemerintah Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) komitmen dagang dengan sejumlah perusahaan Amerika Serikat, namun kebijakan tarif tetap berlaku.
Indonesia dijadwalkan akan dikenakan bea masuk sebesar 32% pada 1 Agustus 2025 mendatang. Hal ini tentu saja berpotensi memberikan tekanan terhadap daya saing ekspor nasional, terutama jika produk sejenis dari negara lain mendapatkan perlakuan tarif yang lebih rendah.
“Hal ini berpotensi menurunkan daya saing Indonesia jika negara lain mendapatkan tarif yang lebih rendah atas produk sejenis,” tegas Phintraco Sekuritas.
Secara teknikal, peluang penguatan IHSG ke level 7.000 juga diperkuat oleh indikator teknikal yang menunjukkan sinyal positif. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dinilai berpotensi membentuk pola golden cross, sementara histogram negatif yang mengecil menunjukkan adanya momentum kenaikan.
Stochastic Relative Strength Index (RSI) juga terus menunjukkan arah naik, menandakan penguatan tren dalam jangka pendek. Selain itu, volume pembelian juga tercatat mengalami peningkatan, menjadi salah satu indikator penting dalam memperkuat potensi penguatan lanjutan IHSG.
“Dengan demikian, IHSG hari ini diprediksi melanjutkan penguatan ke level 6.970-7.000,” papar Phintraco Sekuritas.
Dengan latar belakang teknikal dan fundamental tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham pilihan yang memiliki potensi cuan dalam jangka pendek:
- SCMA, saham media yang tengah bergerak aktif seiring kabar korporasi dan perbaikan kinerja.
- EMTK, emiten yang juga bergerak di sektor media dan teknologi, dinilai berpeluang naik mengikuti arah pergerakan pasar.
- MBMA, perusahaan pertambangan dengan prospek positif jangka menengah karena permintaan terhadap komoditas logam yang terus meningkat.
- ACES, sektor ritel yang kembali menggeliat seiring tren belanja masyarakat yang pulih.
- MDKA, saham di sektor tambang yang masih menjanjikan, terutama dalam konteks permintaan terhadap emas dan logam hijau.
Rekomendasi saham ini ditujukan untuk investor yang ingin memanfaatkan potensi teknikal dan momentum pasar saat IHSG bergerak menuju level psikologis baru. Namun, tetap disarankan bagi para investor untuk melakukan analisis lanjutan sesuai dengan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. (WAN)
















