Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Inilah Rekapan Trend Transaksi Digital di Indonesia Oleh Visa

Tren Transaksi Digital Indonesia 2025, Rekapan Lengkap dari VisaTren Transaksi Digital Indonesia 2025, Rekapan Lengkap dari Visa

BANYUMASEKSPRES.ID, Perkembangan teknologi keuangan di Indonesia terus menunjukkan laju yang impresif. Maraknya penggunaan digital yang serba masif menunjukkan kebutuhan transaksi yang praktis.

Memasuki tahun 2026, kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi dan melakukan perjalanan mengalami perubahan signifikan, seiring meningkatnya adopsi pembayaran digital.

Visa, sebagai perusahaan pembayaran global, memaparkan lima tren utama yang diprediksi akan membentuk perilaku pembayaran masyarakat Indonesia di tahun mendatang berdasarkan laporan terbaru Green Shoots Radar.

Visa menilai bahwa mobilitas masyarakat Indonesia yang semakin tinggi, baik untuk perjalanan domestik maupun luar negeri, turut mendorong kebutuhan sistem pembayaran yang aman, praktis, dan  lintas negara.

Konsumen kini mengharapkan pengalaman transaksi yang konsisten, baik saat berada di dalam negeri maupun ketika bepergian ke luar negeri.

Hal ini menunjukkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari gaya hidup modern masyarakat Indonesia.

Visa Rilis Rekapan Tren Transaksi Digital Indonesia

Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia kini bepergian dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi.

Mereka menginginkan kemudahan serta keamanan transaksi yang setara dengan yang biasa dirasakan di dalam negeri.

Oleh karena itu, inovasi di sektor pembayaran menjadi kunci untuk mendukung kebutuhan konsumen yang semakin dinamis.

Pertumbuhan Dompet Digital

Tren pertama yang disoroti Visa adalah pesatnya pertumbuhan penggunaan dompet digital. Saat ini, dompet digital telah bertransformasi menjadi metode pembayaran utama dalam kehidupan sehari-hari.

Rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan hingga tiga aplikasi dompet digital sekaligus, baik untuk membayar transportasi, makanan, belanja online, hingga tagihan rutin.

Fenomena ini menegaskan pergeseran kuat dari transaksi tunai ke pembayaran non-tunai yang dinilai lebih praktis dan minim kontak fisik.

Maraknya Dominasi Belanja Online

Tren kedua adalah dominasi social commerce dalam aktivitas belanja online. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce mobile tercepat di Asia Tenggara.

Sebanyak 86 persen konsumen aktif menggunakan aplikasi belanja, sementara hampir setengahnya melakukan transaksi langsung melalui platform media sosial.

Integrasi fitur pembayaran dalam aplikasi dan media sosial membuat proses belanja menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus mendorong peningkatan transaksi digital.

Generasi Z juga menjadi motor penggerak perubahan lanskap finansial di Indonesia. Visa mencatat bahwa lebih dari separuh Gen Z memiliki rencana untuk membangun bisnis atau usaha sampingan.

Bahkan dalam pembayarannya sudah bisa dilakukan secara paylater seperti dalam platform Tiktok yang bisa diikuti dengan persyaratan dan tips tertentu.

Pembayaran QR Code

Generasi ini sangat akrab dengan teknologi dan mengandalkan pembayaran digital seperti dompet elektronik dan QR code.

Selain itu, Gen Z mengharapkan solusi pembayaran yang dapat digunakan secara global, terutama saat melakukan perjalanan ke luar negeri, sehingga fleksibilitas menjadi faktor utama dalam memilih metode pembayaran.

Pengelolaan Keuangan Sejak Masa Muda

Selain itu, media sosial kini memegang peran besar dalam membentuk keputusan finansial masyarakat.

Rekomendasi dari komunitas digital, kreator konten, dan influencer semakin memengaruhi cara seseorang mengelola keuangan, memilih layanan pembayaran, hingga merencanakan perjalanan.

Media sosial bahkan mulai melampaui peran konsultan keuangan tradisional sebagai sumber referensi utama, khususnya bagi generasi muda yang aktif di ruang digital.

Kartu Pembayaran Multi Mata Uang

Tren selanjutnya yang tak kalah penting adalah meningkatnya permintaan terhadap kartu pembayaran multi-mata uang dan solusi transaksi lintas negara.

Wisatawan Indonesia kini menginginkan satu kartu yang dapat digunakan di berbagai negara, mulai dari bandara, transportasi umum, restoran, pusat perbelanjaan, hingga tempat wisata.

Data Visa menunjukkan bahwa kartu kredit masih menjadi pilihan utama untuk transaksi bernilai besar seperti pemesanan hotel dan tiket pesawat, karena tingkat penerimaannya yang luas.

Sementara itu, uang tunai dan kartu debit tetap digunakan untuk transaksi kecil seperti transportasi lokal, belanja harian, dan hiburan.

Namun, penggunaan kartu multi-currency terus meningkat, dengan sekitar 30 persen pelancong Indonesia menggunakannya dalam perjalanan internasional terakhir mereka.

Kartu ini dinilai menawarkan keamanan lebih baik, biaya konversi mata uang yang lebih rendah, serta berbagai manfaat perjalanan yang menunjang pengalaman premium.

Popularitas destinasi seperti Jepang, Singapura, dan Malaysia turut memperkuat kebutuhan akan metode pembayaran global yang fleksibel.

Visa menilai bahwa tren ini akan terus berkembang seiring meningkatnya mobilitas dan literasi digital masyarakat.

Dengan lima tren utama tersebut, tahun 2026 diprediksi menjadi periode penting bagi pertumbuhan ekosistem pembayaran digital di Indonesia, sekaligus membuka peluang inovasi baru di sektor keuangan dan pariwisata.(*/nds)

Berita Sebelumnya
Trans Banyumas Koridor 4 Diluncurkan, Layani Rute Bulupitu–RSUB Kejawar Mulai 1 Januari

Koridor 4 Trans Banyumas Resmi di Launching, Rute Terminal Bulupitu - Terminal RSUB Kejawar Mulai 1 Januari 2026

Berita Selanjutnya
97 Bencana Terjadi Sepanjang

BPBD Catat Kerugian Bencana di Purbalingga Capai 4,74 Miliar Sepanjang 2025