BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kabupaten Banyumas mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dinnakerkop UKM) Banyumas, hingga pertengahan 2025 ini telah terdaftar sekitar 92 ribu pelaku UMKM menetap.
Angka ini menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 89.553.
Selain itu, terdapat sekitar 68 ribu UMKM aktif non menetap yang mayoritas bergerak di sektor kuliner dengan persentase mencapai 70 persen.
Fakta menarik lainnya adalah bahwa 65 persen dari pelaku usaha tersebut adalah perempuan yang berkontribusi besar terhadap roda ekonomi lokal.
Namun demikian, meski mengalami pertumbuhan pesat, pelaku UMKM di Banyumas masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam aspek akses pemasaran dan permodalan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Dinnakerkop UKM meluncurkan sebuah inovasi bernama MEMBER CUANKI. Program ini adalah singkatan dari Membangun Jejaring dan Cara Berjualan Menggunakan Katalog Inyong.
“Inovasi ini lahir dari keluhan dan kendala para pelaku UMKM,” terang Ani Widosari, Kepala Bidang UMKM Dinnakerkop UKM Banyumas.
Ani menjelaskan bahwa banyak pelaku usaha yang ingin produknya dapat masuk ke jejaring hotel atau instansi tetapi mengalami kesulitan dalam menjangkau pasar tersebut.
Dengan adanya CUANKI, hanya dengan memindai QR code saja, katalog UMKM langsung muncul.
“Sekarang sudah ada produk yang masuk ke 13 hotel di kota,” tambahnya.
Katalog CUANKI menjadi alat efektif untuk mempermudah promosi produk lokal serta memperluas jejaring pemasaran UMKM di Banyumas.
Selain itu, dinas mendorong kolaborasi antara pelaku usaha dengan pihak hotel maupun instansi agar produk-produk UMKM lebih banyak digunakan dalam kegiatan serta konsumsi harian.
Tidak hanya fokus pada promosi, Dinas UKM juga mengimplementasikan langkah-langkah internal guna mendukung pelaku usaha.
Salah satunya adalah kebijakan yang mewajibkan setiap pegawai membeli produk UMKM setiap bulan. Langkah lain termasuk memberikan pelatihan rutin, pendampingan usaha hingga akses pinjaman dana bergulir bagi mereka yang membutuhkan modal tambahan.
Beberapa produk unggulan dari UMKM Banyumas bahkan berhasil menembus pasar luar daerah hingga mencapai wilayah perbatasan Malaysia di Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk lokal Banyumas mempunyai daya saing tinggi di pasar yang lebih luas.
Ke depannya, Dinas menargetkan agar para pelaku UMKM dapat naik kelas melalui berbagai cara seperti perbaikan kemasan, peningkatan kualitas produk hingga penguatan branding.
Semua langkah ini diambil untuk meningkatkan daya saing produk lokal menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.
“Kuncinya tetap terletak pada kualitas dan peminatan pasar,” ujar Ani menambahkan.
Ia menekankan pentingnya terus mendorong inovasi dan perbaikan dalam bisnis-bisnis kecil tersebut. Ani juga memberikan dorongan semangat kepada para pelaku UMKM pemula untuk tidak menyerah dan terus berinovasi.
“Tetap semangat dan jangan takut mencoba,” ujarnya penuh keyakinan.
“Inovasi adalah kunci, dan UMKM akan terus menjadi penggerak ekonomi rakyat,” tutupnya dengan optimisme terhadap masa depan sektor usaha mikro kecil di Kabupaten Banyumas. (zet/stch)
















