BANYUMASEKSPRES.ID, Pada balapan MotoGP yang digelar di Sirkuit Motegi pada 4 Oktober, suasana berubah menegangkan ketika motor Ducati yang dikendarai Francesco Bagnaia mengeluarkan asap pekat hanya lima lap menjelang garis finis.
Namun, bagaimanapun juga, Bagnaia tetap melanjutkan balapan tersebut dan berhasil meraih kemenangan keduanya di musim ini.
Peristiwa ini memicu perdebatan sengit mengenai penerapan regulasi dalam ajang MotoGP, terutama terkait keselamatan dan keadilan antar pebalap.
Menurut regulasi yang berlaku dalam MotoGP, apabila terdapat masalah mekanis yang dapat membahayakan pebalap lainnya di lintasan, direktur lomba memiliki kewajiban untuk mengibarkan bendera hitam dengan lingkaran oranye sebagai tanda bahwa pebalap harus segera keluar dari lintasan.
Dalam kasus Bagnaia, hal itu tidak dilakukan. Saat insiden terjadi, Danny Aldridge yang menjabat sebagai direktur teknis kejuaraan segera mendatangi garasi Ducati dan berdiskusi dengan Gigi Dall’Igna, General Manager Ducati.
Setelah mendapatkan penjelasan dari pihak tim, Aldridge bersama race director Simon Crafar memutuskan untuk tidak memberikan sanksi kepada Bagnaia sehingga ia bisa melanjutkan perlombaan hingga akhir.
Keputusan tersebut kemudian memicu protes dari sejumlah pabrikan lainnya. Mereka mempertanyakan mengapa prosedur standar tidak diterapkan secara konsisten, terlebih karena insiden serupa terjadi dua pekan sebelumnya pada MotoGP Austria 2025.
Pada waktu itu, Jack Miller mengalami masalah serupa saat motornya mulai mengeluarkan asap, namun ia terlambat keluar dari lintasan karena mesin masih hidup dan tidak ada peringatan di dashboardnya.
Sebagai akibatnya, Miller dikenai hukuman larangan turun selama 10 menit dalam sesi latihan berikutnya.
Perbedaan perlakuan antara kedua kasus inilah yang mendorong para pabrikan menuntut adanya aturan tertulis yang jelas dan konsisten untuk semua tim tanpa pengecualian.
Seorang manajer tim MotoGP kepada Motorsport.com menjelaskan bahwa asap dari motor Francesco Bagnaia kemungkinan besar disebabkan oleh minyak berlebih yang terbakar akibat panas knalpot.
Proses ini dianggap oleh Ducati sebagai sesuatu yang terkendali sehingga mereka berargumen bahwa situasi tersebut tidak berbahaya.
Namun demikian, sejumlah pabrikan lain memiliki pandangan berbeda. Mereka khawatir bahwa asap yang keluar selama beberapa lap tersebut bisa membentuk endapan minyak di lintasan yang dapat membahayakan pebalap lain.
“Kami tidak tahu nanti seperti apa penanganannya jika hal serupa kembali terjadi,” ujar salah satu sumber terkait.
“Apakah keputusan akan tergantung pada pendapat tim ataukah murni berdasarkan aturan?”
Selain itu, para pabrikan juga menyatakan keberatan karena percakapan antara pejabat IRTA dan Dall’Igna ditampilkan secara langsung di televisi, yang menurut mereka menimbulkan kesan tidak profesional dan melanggar aturan terbaru balapan MotoGP.
Guna mencegah polemik serupa di masa depan, mereka kini mengusulkan adanya saluran komunikasi langsung antara seluruh tim dengan race director agar setiap keputusan dapat diambil secara transparan dan seragam.
Kejadian di Sirkuit Motegi ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait bagaimana pentingnya menerapkan aturan secara adil dan tanpa pandang bulu demi kelangsungan serta kredibilitas ajang balap motor paling bergengsi tersebut.
Berbagai pihak kini menantikan tindak lanjut dari insiden ini apakah akan ada perubahan signifikan dalam penerapan regulasi atau justru sebaliknya yakni mempertegas komitmen semua tim untuk menghormati regulasi yang telah ada demi menjaga keselamatan serta sportivitas dalam setiap balapan. (*/dda)
















