BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Akses menuju destinasi wisata Telaga Menjer kini semakin mudah diakses dengan dibukanya ruas jalan baru Tlogo–Jengkol.
Ruas ini disiapkan sebagai jalur alternatif guna mengurai kepadatan lalu lintas, terutama pada akhir pekan dan musim liburan yang sering kali menjadi tantangan bagi wisatawan dan penduduk lokal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menyampaikan bahwa pembangunan jalan tersebut tuntas pada akhir Desember 2025.
“Sekarang sudah bisa dimanfaatkan masyarakat. Pembangunan dilakukan bertahap dan selesai akhir Desember kemarin,” ujar Nurudin kepada awak media.
Proyek ini, yang menelan biaya sekitar Rp 10 miliar, adalah upaya strategis untuk memperkuat konektivitas antar wilayah sekaligus mendukung perkembangan pariwisata Telaga Menjer.
Jalan baru ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan yang kerap terjadi di akses utama kawasan tersebut.
Jalan Tlogo–Jengkol memiliki lebar 7 meter dengan badan jalan beton selebar 5 meter dan tambahan senderan serta saluran drainase seluas 2 meter.
Infrastruktur pendukung lainnya termasuk jembatan penghubung sepanjang 8 meter dengan lebar 5 meter.
Proses pembangunan ini melibatkan pengeprasan bukit sepanjang 500 meter.
Langkah ini diambil untuk menggantikan trase lama yang dinilai terlalu ekstrem bagi kendaraan yang melintas.
“Untuk lahan, sepanjang satu kilometer itu merupakan tanah hibah. Sekitar 500 meter dari Indonesia Power dan 500 meter dari masyarakat,” jelas Nurudin, menunjukkan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pihak swasta serta masyarakat dalam proyek infrastruktur ini.
Ke depan, jalan Tlogo–Jengkol akan difungsikan sebagai jalur alternatif utama menuju Telaga Menjer.
Ini merupakan bagian dari strategi untuk mengalihkan beban arus lalu lintas agar tidak terfokus pada satu akses saja.
Dengan demikian, perjalanan menuju Telaga Menjer diharapkan menjadi lebih lancar dan lebih singkat.
Meski telah dapat digunakan oleh masyarakat, pemanfaatan penuh jalan ini menunggu peresmian resmi dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo.
Bupati setempat berencana mengemas peresmian ini dalam bentuk acara yang melibatkan partisipasi masyarakat seperti slow run atau fun run setelah Lebaran mendatang.
Namun demikian, Nurudin memberikan catatan penting terkait potensi bencana alam di wilayah tersebut.
Dia mengingatkan bahwa sejumlah ruas jalan baru di Wonosobo masih memiliki risiko longsor yang signifikan.
Kondisi geografis Wonosobo memang cukup menantang dengan sekitar 75 persen wilayahnya tergolong rawan sedang hingga tinggi terhadap longsor, terutama pada area bertopografi curam.
“Titik rawan longsor hampir merata. Tidak hanya di Tlogo–Jengkol atau Jalur Lingkar Sumbing, wilayah seperti Watumalang juga memiliki risiko,” katanya.
Beliau juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam mitigasi bencana, khususnya dengan menjaga kebersihan dan fungsi saluran drainase selama musim hujan untuk meminimalkan risiko longsor.
Inisiatif ini mencerminkan komitmen DPUPR bersama Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi demi kenyamanan warga dan pengunjung serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata yang lebih terlayani dengan baik. (*/stch/dda)
















