BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Menjelang puncak musim penghujan tahun 2026, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah tengah melakukan persiapan matang untuk menghadapi berbagai potensi bencana alam.
Dari total 20 kecamatan yang ada, sebanyak 16 kecamatan telah dipetakan sebagai daerah rawan bencana.
Pemetaan ini dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi basah, seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang.
Kepala BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, menjelaskan bahwa pemetaan tersebut didasarkan pada data prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang.
Menurut data tersebut, puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada Februari 2026.
“Dari data BMKG itu, kami kemudian melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam, khususnya bencana hidrometeorologi basah,” ungkap Totok pada Rabu (21/1).
BPBD telah mengidentifikasi wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami bencana selama musim penghujan.
Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat 16 kecamatan yang dikategorikan rawan tanah longsor.
Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Gemawang, Kaloran, Pringsurat, Tretep, Wonoboyo, Kledung, Selopampang, Tlogomulyo, Tembarak, Bansari, Parakan, Kandangan, Bejen, Kedu, dan Candiroto.
Totok menegaskan bahwa tidak semua desa di kecamatan-kecamatan tersebut masuk dalam zona rawan longsor.
“Tidak semua desa di setiap kecamatan rawan longsor. Hanya beberapa desa tertentu yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi,” jelasnya.
Kerawanan longsor di wilayah ini dipicu oleh kondisi geografis yang didominasi pegunungan dan perbukitan yang menyebabkan struktur tanah menjadi labil.
Hal ini meningkatkan risiko longsor terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi lama.
Sementara itu, potensi bencana angin kencang juga menjadi perhatian utama.
Daerah-daerah yang rawan akan angin kencang atau puting beliung meliputi Kecamatan Temanggung, Kedu, Bulu, Selopampang, Kledung serta beberapa wilayah lainnya.
Totok memaparkan bahwa angin kencang umumnya terjadi di wilayah perbatasan antara area perkebunan dan permukiman karena minimnya vegetasi penghalang yang dapat mengurangi hembusan angin.
Sebagai langkah preventif dan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat setempat terhadap ancaman bencana alam ini BPBD Kabupaten Temanggung terus berupaya menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan dini kepada masyarakat.
“Masyarakat khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana harus lebih waspada. Jika hujan berlangsung lama dan muncul tanda-tanda bencana sebaiknya segera mengungsi ke tempat yang lebih aman,” pesan Totok.
Perlu diketahui bahwa bencana alam pada dasarnya bisa terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa pandang bulu.
Oleh karena itu memahami karakteristik wilayah tempat tinggal serta mengikuti arahan dari pihak berwenang merupakan langkah bijak untuk meminimalisir dampak negatif dari bencana tersebut.
Bupati Temanggung juga telah menyerukan kepada seluruh camat untuk aktif berkoordinasi dengan BPBD serta instansi terkait lainnya guna memastikan kesiapan logistik maupun sumber daya manusia dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana selama musim penghujan mendatang.
Selain itu koordinasi intensif dengan aparat TNI Polri serta organisasi kemasyarakatan juga dilakukan guna memperkuat sinergitas dalam penanganan darurat apabila terjadi situasi krisis akibat bencana hidrometeorologi basah ini.
Upaya mitigasi lainnya termasuk peninjauan ulang terhadap sistem drainase di daerah-daerah rawan banjir serta peningkatan kapasitas penampungan air sungai agar mampu menampung debit air hujan yang meningkat drastis selama musim penghujan. (*/dda)
















