Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kemenkes Siapkan 10.000 Alat Rontgen AI untuk Puskesmas, Percepat Deteksi TBC

Kemenkes Siapkan 10.000 RontgenKemenkes Siapkan 10.000 Rontgen
MENINJAU: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ketika meinjau skrining TB di kawasan Penjaringan, Kamis (13/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan 10.000 unit alat rontgen untuk didistribusikan ke puskesmas di seluruh Indonesia.

Perangkat tersebut akan digunakan untuk memperluas skrining tuberkulosis (TBC) sekaligus mempercepat deteksi penyakit di tengah masyarakat.

Penyediaan alat rontgen di puskesmas diharapkan membuat masyarakat lebih mudah melakukan pemeriksaan awal TBC.

Dengan begitu, warga tidak harus datang ke rumah sakit hanya untuk mendapatkan pemeriksaan dasar.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengadaan alat rontgen tersebut dilakukan untuk memperkuat layanan deteksi dini TBC di tingkat fasilitas kesehatan pertama.

Hal tersebut disampaikan Budi saat meninjau pelaksanaan skrining TBC dan program Cek Kesehatan Gratis di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah serta kawasan permukiman padat di Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8).

“Dengan bantuan teman-teman dari Bank Dunia, kita dapat uang untuk beli rontgen. Sebanyak 10.000 unit mau kita bagi ke puskesmas, seperti halnya alat USG,” kata Budi di kawasan Penjaringan, Kamis.

Menurut Budi, alat rontgen yang disiapkan Kemenkes memiliki karakteristik yang berbeda dengan perangkat berukuran besar yang umumnya berada di rumah sakit.

Perangkat tersebut dirancang agar lebih mudah digunakan dan dibawa ke berbagai lokasi.

Kemudahan mobilitas menjadi salah satu keunggulan alat tersebut.

Dengan ukuran yang relatif kecil, perangkat rontgen dapat dibawa menuju lokasi yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan, termasuk kawasan dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

“Rontgen ini adalah cara yang paling bagus untuk skrining TB, dan alat yang kita gunakan sudah memakai Artificial Intelligence (AI) sehingga hasilnya bisa langsung terlihat. Alatnya juga kecil, bisa dibawa menggunakan motor,” jelas Budi.

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada perangkat rontgen tersebut diharapkan membantu proses skrining TBC menjadi lebih cepat.

Teknologi tersebut dapat membantu membaca hasil pemeriksaan sehingga tenaga kesehatan memiliki dukungan tambahan dalam proses deteksi awal.

Dengan 10.000 unit alat rontgen yang akan disebar ke puskesmas, cakupan pemeriksaan TBC diharapkan semakin luas.

Masyarakat juga dapat memperoleh akses pemeriksaan lebih dekat tanpa harus selalu mendatangi rumah sakit.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan penemuan kasus TBC.

Deteksi lebih awal penting agar pasien yang membutuhkan penanganan dapat segera mendapatkan layanan kesehatan.

Selain memperluas penggunaan alat rontgen, Kemenkes juga meningkatkan kegiatan skrining TBC di lingkungan yang dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah pondok pesantren.

Kepadatan tempat tinggal di lingkungan pesantren menjadi salah satu alasan skrining TBC perlu diperluas.

Para santri umumnya tinggal dan melakukan berbagai aktivitas secara bersama-sama sehingga potensi penularan penyakit menular melalui udara perlu diantisipasi.

Budi mengatakan pemerintah menargetkan skrining TBC dapat dilakukan di seluruh pondok pesantren di Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan membantu menemukan kasus lebih cepat sekaligus mencegah penularan yang lebih luas.

“ Ternyata ada 42.000 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 7 juta. Karena pesantren itu padat tempat tinggalnya dan bersama-sama, insiden TB (Tuberkulosis) menjadi lebih besar,” ungkap Budi.

Besarnya jumlah pondok pesantren dan santri membuat lingkungan tersebut menjadi salah satu sasaran penting dalam program skrining TBC.

Pemeriksaan secara lebih luas diharapkan dapat membantu pemerintah memperoleh gambaran kondisi kesehatan masyarakat di lingkungan pesantren.

Selain pesantren, Kemenkes juga melakukan skrining di kawasan permukiman padat penduduk.

Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan skrining yang ditinjau langsung oleh Menteri Kesehatan.

Kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi menjadi perhatian karena interaksi masyarakat yang intens dapat meningkatkan risiko penularan penyakit tertentu, termasuk TBC.

Melalui pemeriksaan yang lebih mudah dijangkau, masyarakat diharapkan tidak menunggu sampai mengalami gejala berat untuk memeriksakan kondisi kesehatan.

Skrining dapat membantu menemukan dugaan kasus lebih awal sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan.

Distribusi alat rontgen ke puskesmas juga diharapkan memperkuat kemampuan fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam melakukan pemeriksaan.

Selama ini, keterbatasan perangkat menjadi salah satu tantangan ketika pemeriksaan membutuhkan fasilitas yang lebih lengkap.

Dengan perangkat yang lebih kecil dan mudah dibawa, pemeriksaan juga berpotensi dilakukan secara lebih fleksibel.

Alat tersebut dapat digunakan untuk mendukung kegiatan skrining di berbagai wilayah sesuai kebutuhan.

Kemenkes kini menyiapkan distribusi 10.000 unit alat rontgen tersebut ke puskesmas di seluruh Indonesia.

Penggunaan teknologi AI dalam perangkat diharapkan dapat mendukung tenaga kesehatan dalam melakukan skrining TBC secara lebih cepat dan luas.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pemeriksaan di lingkungan dengan kepadatan tinggi, termasuk pondok pesantren dan permukiman padat.

Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus dan mengurangi risiko penularan TBC.

Dengan kombinasi antara alat rontgen berbasis AI, pemeriksaan di puskesmas, dan perluasan skrining TBC, Kemenkes berharap deteksi penyakit dapat dilakukan lebih cepat.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan masyarakat hingga ke tingkat daerah. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jalan A Yani Jadi Sasaran Penataan Parkir

Parkir Sembarangan Bikin Macet di Cilacap, Satlantas dan Dishub Turun Tangan

Berita Selanjutnya
Dua Pekan Berlalu, Polisi Masih Tunggu Labfor

2 Pekan Usai Tribun VIP GOR Satria Ambruk, Polisi Belum Tetapkan Tersangka