BANYUMASEKSPRES.ID, Nurani Lukita Martini, sosok yang dapat dikatakan sebagai Kartini masa kini, telah menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berprestasi di berbagai bidang, termasuk olahraga.
Di saat suasana pagi masih sepi, Lukita sudah berada di ruang latihan, siap menghadapi tantangan di hadapannya.
Barbel dan alat fitness bukan hanya sekadar peralatan baginya, melainkan simbol dari perjalanan panjang yang ia pilih untuk membuktikan bahwa seorang ibu dari lima anak pun dapat meraih prestasi.
Dalam profesinya sebagai personal trainer, langkah Lukita diperluas dengan cara yang tidak hanya memberikan dampak pada kliennya tetapi juga pada dirinya sendiri.
Ia menyadari bahwa dunia binaraga selama ini seringkali dipandang sebagai arena laki-laki. Namun, tekad dan semangatnya membuatnya berani menantang norma tersebut.
“Kalau kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai personal trainer, saya lebih banyak memotivasi dan mentoring ibu-ibu supaya giat olahraga,” ungkapnya dengan penuh semangat pada Selasa (21/4/2026).
Perempuan kelahiran Purwokerto pada 1 Maret 1986 ini merasakan perubahan signifikan dalam kesadaran hidup sehat di kalangan ibu rumah tangga.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pendamping latihan yang tepat, kehadirannya menjadi penting.
Ia bukan sekadar pelatih; ia adalah penyemangat bagi banyak perempuan lainnya. Bagi Lukita, olahraga tidak hanya berkaitan dengan fisik semata.
Ia meyakini bahwa ada aspek mental yang terbentuk melalui aktivitas fisik. Latihan yang konsisten diyakininya mampu meningkatkan hormon endorfin yang berdampak positif pada rasa percaya diri seseorang.
“Dengan olahraga, perempuan jadi lebih percaya diri, berkembang, dan berani berkarya,” tegasnya.
Ungkapan ini mencerminkan pandangannya yang optimis mengenai peran perempuan dalam masyarakat modern.
Perjalanan karier Lukita tidak terjadi secara instan. Sebelum terjun ke dunia fitness secara profesional, ia sudah akrab dengan berbagai jenis olahraga kardio seperti bersepeda dan aerobik sejak usia remaja.
Namun, pada tahun 2019, ia mulai fokus pada latihan beban dan memperdalam pengetahuannya tentang fitness.
Dari pengalaman tersebut, ia melakukan penataan ulang pola hidup yang melibatkan jadwal latihan ketat serta asupan nutrisi yang seimbang.
Disiplin adalah kunci utama dalam setiap langkahnya. Menjelang kompetisi binaraga, ia menjalani program latihan intensif disertai dengan diet ketat yang harus dijalani selama beberapa bulan.
Dalam proses tersebut, ia menghindari berbagai bahan makanan seperti garam, gula, minyak dan tepung untuk menggantinya dengan menu yang lebih sehat seperti dada ayam, sayur-sayuran serta buah-buahan segar.
“Kalau mau tanding, memang harus total. Latihan keras dan diet ketat,” kata Lukita menjelaskan betapa kerasnya usaha yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.
Kerja keras dan dedikasinya tidak sia-sia. Berkat disiplin dan komitmennya dalam berlatih serta pola makan sehat, Lukita berhasil meraih sejumlah prestasi di bidang binaraga.
Ia pernah menempati peringkat keempat dalam ajang FORNAS Mandalika dan meraih juara kedua dalam kejuaraan nasional di Solo serta Pra-PON di Bengkulu.
Keberhasilannya itu bahkan membawanya untuk mewakili Jawa Tengah dalam cabang binaragawati pada PON 2024 mendatang di Aceh-Sumatera Utara.
Namun di balik prestasi gemilang tersebut terdapat cerita kehidupan sehari-hari Lukita sebagai seorang ibu dari lima anak sekaligus nenek dari satu cucu.
Rutinitas hariannya dimulai sejak pagi hari hingga malam tiba dan diatur dengan disiplin waktu yang sangat ketat demi menjaga keseimbangan antara kegiatan latihan dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
“Pukul 6 pagi sudah di tempat latihan, malam harus istirahat. Anak-anak saya juga sudah mandiri,” ujarnya menegaskan pentingnya manajemen waktu dalam kehidupannya.
Meskipun demikian, perjalanan yang dilalui Lukita tidak selalu mulus tanpa rintangan.
Ia kerap menghadapi stigma negatif terhadap perempuan bertubuh berotot dalam masyarakat yang masih menganggap hal tersebut tidak lazim atau bahkan tabu.
Namun alih-alih merasa tertekan oleh pandangan tersebut, stigma itu justru menjadi pendorong bagi Lukita untuk terus maju dan mengajak perempuan lainnya untuk lebih mencintai diri sendiri melalui olahraga.
Momentum Hari Kartini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa perjuangan perempuan masa kini hadir dalam berbagai bentuk—termasuk keberanian untuk merawat tubuh dan mengejar mimpi-mimpi besar mereka sendiri.
“Untuk ibu-ibu, jangan berkecil hati. Tetap cintai diri sendiri dengan olahraga. Latihan beban itu aset seumur hidup,” pesan inspiratifnya bagi seluruh perempuan di luar sana.
Bagi Nurani Lukita Martini, menjadi seorang ibu bukanlah batasan bagi dirinya untuk mengejar impian besar dalam hidupnya.
Justru peran tersebut memberinya kekuatan tersendiri untuk membuktikan bahwa Kartini masa kini dapat hadir dalam wujud-wujud tak terduga sekaligus memberikan inspirasi kepada banyak orang di sekitarnya.
Kisah perjuangan Nurani Lukita Martini tidak hanya menggambarkan dedikasinya dalam dunia fitness namun juga menyampaikan pesan kuat tentang keberanian perempuan untuk mengambil tempat mereka di masyarakat modern ini tanpa merasa terbatasi oleh stereotip atau norma-norma kuno yang ada.
Melalui ruang gym sederhana tempatnya berlatih dan melatih orang lain, ia membangun mimpi besar serta memberikan contoh nyata bahwa setiap individu—terutama perempuan—harus memiliki kesempatan untuk mengejar impian mereka tanpa rasa takut atau khawatir akan penilaian orang lain.
Di era modern ini, kisah-kisah inspiratif seperti milik Nurani Lukita Martini sangatlah penting untuk diceritakan agar semakin banyak orang memahami bahwa keberhasilan dapat diraih dari berbagai latar belakang dan keadaan sekalipun.
Dengan tekad serta usaha keras yang disertai dengan cinta terhadap diri sendiri serta dukungan dari lingkungan sekitar akan menciptakan perubahan positif yang signifikan. (dms/stch/dda)
















