BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Purbalingga, sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Tengah, kini merasakan dampak langsung dari kenaikan harga minyak dunia, yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Kenaikan harga solar industri menjadi salah satu isu krusial yang dapat menekan iklim usaha di daerah ini.
Hal ini berpotensi menciptakan efek domino yang merugikan, terutama bagi sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar solar.
Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, mengungkapkan keprihatinan terkait kondisi ini.
Ia menyatakan bahwa meningkatnya beban operasional perusahaan akibat naiknya harga solar bisa memicu langkah efisiensi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
“Kondisi ini sangat rawan dan perlu diwaspadai oleh semua pihak,” ujarnya dengan nada serius.
Menyadari potensi dampak sosial yang dapat muncul dari situasi ini, ia juga mengingatkan pemerintah daerah untuk bersiap-siap dalam menghadapi konsekuensi tersebut.
Dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat, Dimas Prasetyahani meminta agar pengawasan terhadap penggunaan solar bersubsidi diperketat. Hal ini dianggap perlu untuk mencegah potensi penyalahgunaan oleh pelaku industri.
“Karena kondisi saat ini rawan terjadi penyalahgunaan solar bersubsidi untuk kepentingan industri,” tambahnya saat menghadiri kegiatan Tactical Floor Game (TFG) di Pendapa Dipokusumo pada Selasa (21/4/2026).
Kegiatan TFG tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mempersiapkan respons terhadap berbagai kemungkinan unjuk rasa yang mungkin terjadi menjelang peringatan Hari Buruh atau May Day pada 1 Mei 2026.
Dimas mengungkapkan harapannya agar aksi-aksi tersebut dapat berjalan dengan aman dan kondusif tanpa ada intervensi dari kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan pribadi.
Menyikapi potensi unjuk rasa itu, Wakapolres Purbalingga, Kompol Agus Amjat Purnomo, menjelaskan bahwa pihak kepolisian telah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Salah satu langkah preventif yang diambil adalah melalui pelaksanaan kegiatan Tactical Floor Game (TFG).
“Kegiatan Tactical Floor Game (TFG) dilaksanakan sebagai salah satu langkah penanganan unjuk rasa massa terkait Hari Buruh,” jelas Kompol Agus.
Ia menambahkan bahwa setelah TFG, akan dilanjutkan dengan simulasi penanganan unjuk rasa untuk memastikan kesiapan aparat keamanan dalam menghadapi situasi tersebut.
Kegiatan simulasi dijadwalkan berlangsung pada Kamis (23/4/2026). Dalam konteks ini, Kompol Agus menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah.
Dalam situasi seperti ini, dimana harga minyak dunia berfluktuasi secara signifikan karena faktor eksternal yang berada di luar kendali lokal, penting bagi semua stakeholder untuk saling mendukung.
Kebijakan pemerintah setempat dalam mengawasi penggunaan solar bersubsidi harus diperkuat agar tidak ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat luas.
Dibidang industri, jika perusahaan-perusahaan mulai melakukan efisiensi dengan cara memangkas jumlah tenaga kerja untuk mempertahankan kelangsungan operasional mereka, maka hal ini tentunya akan berdampak besar bagi perekonomian daerah serta kesejahteraan masyarakat Purbalingga secara keseluruhan.
Terlebih lagi menjelang Hari Buruh yang menjadi momentum bagi pekerja untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Perlu dicatat bahwa unjuk rasa adalah hak konstitusi setiap warga negara sebagai bentuk pengungkapan pendapat.
Namun demikian, situasi saat ini harus dikelola dengan bijaksana agar tidak terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Dalam hal ini, komunikasi dua arah antara pemerintah daerah dan para buruh serta elemen masyarakat lainnya sangatlah penting guna menciptakan suasana damai dan penuh pengertian.
Dalam aktivitas TFG tersebut, para peserta diajarkan tentang bagaimana menangani berbagai situasi darurat termasuk potensi kerusuhan massa selama unjuk rasa berlangsung.
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan aparat keamanan dalam merespons dengan cepat dan tepat dalam berbagai situasi sehingga bisa menghindari kemungkinan terjadinya kekacauan.
Menjelang Hari Buruh tahun 2026 nanti, tantangan bagi pemerintah dan aparat keamanan semakin berat dengan adanya latar belakang ekonomi yang kurang stabil akibat kenaikan harga bahan bakar.
Diharapkan semua pihak dapat berkolaborasi secara konstruktif untuk mendorong terciptanya solusi terbaik bagi semua pihak tanpa ada yang dirugikan. (tya/stch/dda)
















