BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah suasana libur sekolah, seorang remaja tampak asyik duduk di sudut Klenteng Boen Tek Bio Banyumas.
Tangannya lincah memainkan wayang, sesekali ia berhenti untuk memperbaiki suara dan irama.
Di tempat ini, ia bukan sekadar anak sekolah biasa. Ia adalah dalang cilik berusia 15 tahun dengan impian besar yang ingin diwujudkan.
Syafathur Dwi Aprian, atau akrab dipanggil Fathur, merupakan sosok yang menunjukkan bahwa passion dan dedikasi dapat mengatasi berbagai rintangan.
Keinginan Fathur untuk menjadi dalang tidaklah mudah. Harapan yang diimpikan oleh sang ibu sering kali bertolak belakang dengan cita-citanya.
Di rumah, panggung wayang tidak dianggap sebagai masa depan yang menjanjikan. Sang ibu mengharapkan Fathur memilih jalur lain dalam hidupnya.
“Ibu tidak mendukung saya mengikuti festival dalang cilik karena berharap anaknya menjadi wartawan,” ungkap Fathur dengan nada melankolis.
Situasi ini sempat membuat Fathur goyah dan merasa tertekan. Setiap latihan yang ia jalani seolah tidak pernah benar-benar sampai ke hati orang yang paling ingin ia bahagiakan, yaitu ibunya.
Jarak emosional di antara mereka pun terasa semakin melebar. Meskipun demikian, di tengah kondisi tersebut, Fathur memilih untuk tetap berjuang demi mimpi yang ia cintai.
Dalam perjalanan ini, Fathur menemukan sosok penting bagi hidupnya, yaitu Edy Sumarno, yang ia anggap sebagai bapak angkat.
Dari Edy Sumarno inilah Fathur mendapatkan dorongan dan motivasi untuk tidak menyerah.
“Bapak Marno memotivasi agar jangan menyerah karena keadaan, tetap optimis dan giat berlatih,” kata Fathur mengenang dukungan tersebut.
Lingkungan Paguyuban Genta Sentramas menjadi ruang bagi Fathur untuk tumbuh dan berkembang dalam dunia pedalangan.
Ia berlatih lebih tekun dan memperdalam gaya pedalangan Gagrag Banyumasan—sebuah gaya khas yang sayangnya perlahan mulai jarang dikenal oleh generasi muda saat ini.
Dalam proses belajar ini, Fathur tidak hanya belajar tentang teknik bermain wayang, tetapi juga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Waktu berlalu dengan cepat dan kesempatan terakhirnya sebagai dalang cilik datang melalui Festival Dalang Cilik Nasional 2025.
Ajang bergengsi ini menjadi panggung bagi Fathur untuk membuktikan pilihannya dalam dunia pedalangan.
Dengan penuh percaya diri, ia membawakan lakon Bima Bungkus di hadapan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Hasil penampilannya sungguh mengejutkan; ia berhasil meraih predikat Dalang Cilik Mumpuni, penghargaan tertinggi dalam festival tersebut.
“Tidak menyangka bisa mendapat penghargaan tertinggi di kesempatan pertama dan terakhir,” kenangnya dengan wajah berseri-seri saat menceritakan pengalamannya di panggung tersebut.
Festival itu digelar di Taman Mini Indonesia Indah dan Fathur berhasil mengungguli 28 peserta dari sembilan provinsi lainnya.
Kemenangan ini bukan hanya sekadar prestasi bagi Fathur; ada hal lain yang lebih berarti baginya—pengakuan dari ibunya.
Perlahan-lahan, perjuangan yang telah dilaluinya mulai dipahami oleh sang ibu. Restu yang dulunya terasa jauh kini semakin mendekat dan memberikan harapan baru bagi hubungan mereka.
“Tahun ini saya masuk kategori dalang remaja. Ibu sudah mengizinkan dan mendukung,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Fathur mengenal dunia wayang sejak kecil dari sang simbah (kakek). Dari situlah kecintaannya terhadap seni tradisional ini tumbuh dan terus dijaga hingga sekarang.
Ia telah beberapa kali tampil di berbagai pentas budaya di Banyumas maupun daerah lain, membawa gaya Banyumasan yang telah menjadi ciri khas dirinya.
Menjadi dalang bagi Fathur bukan sekadar soal tampil di atas panggung; lebih dari itu, ada tanggung jawab besar untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan dalam masyarakat modern saat ini.
Wayang merupakan salah satu bentuk kesenian yang kaya akan nilai-nilai filosofi dan kearifan lokal Indonesia, termasuk dalam konteks sosial dan budaya masyarakat.
Dari sudut klenteng hingga panggung nasional, perjalanan karier Fathur mungkin masih panjang dan penuh tantangan ke depan.
Namun satu hal telah terbukti: mimpi dapat terjaga dan direalisasikan meskipun harus melalui perjuangan keras tanpa restu dari orang terdekat sekalipun.
Fathur adalah contoh nyata bahwa ketekunan dan semangat juang dapat membawa seseorang meraih impian mereka meski ada berbagai hambatan di sepanjang jalan.
Dengan dukungan komunitas seperti Paguyuban Genta Sentramas dan motivasi dari sosok-sosok inspiratif seperti Edy Sumarno, langkahnya ke depan semakin mantap. (fij/stch/dda)
















