Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Cara Daftar Magang Nasional 2026 Tahap II di MagangHub, Simak Panduannya
Mengenal Jenis-Jenis Gunung Api di Indonesia, Anak Krakatau Termasuk Tipe A

Mengenal Jenis-Jenis Gunung Api di Indonesia, Anak Krakatau Termasuk Tipe A

Jenis Gunung ApiJenis Gunung Api

BANYUMASEKSPRES.ID, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak gunung api. Berdasarkan data Badan Geologi, terdapat 127 gunung yang masuk dalam klasifikasi gunung api di Indonesia.

Setiap gunung api memiliki riwayat erupsi, kondisi, dan tingkat aktivitas vulkanik yang berbeda. Karena itu, Badan Geologi membaginya berdasarkan riwayat erupsi serta tanda-tanda aktivitas vulkanik yang masih ditemukan.

Kategori yang dijelaskan meliputi tipe A, tipe B, dan tipe C. Selain itu, terdapat tipe D yang belum tercatat meletus sejak 1600, tetapi menunjukkan kegiatan solfatara berupa gas atau uap belerang.

Gunung Api Tipe A

Dari total 127 gunung api, sebanyak 76 di antaranya masuk kategori tipe A. Kelompok ini memiliki catatan erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sejak 1600.

Gunung api tipe A tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sumatra mempunyai 12 gunung tipe A, Jawa 19 gunung, Bali-Nusa Tenggara 22 gunung, Sulawesi 11 gunung, dan Maluku 13 gunung.

Sejumlah gunung api yang dikenal masyarakat termasuk kategori ini, seperti Gunung Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Marapi, Kerinci, Sinabung, Gede, Tangkuban Parahu, hingga Lewotobi Laki-laki.

Anak Krakatau termasuk gunung api tipe A karena memiliki catatan erupsi magmatik dalam klasifikasi yang digunakan Badan Geologi.

Riwayat erupsi membuat gunung api tipe A mendapatkan pemantauan aktivitas secara intensif melalui jaringan pemantauan gunung api. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik.

Gunung Api Tipe B

Sebanyak 30 dari 127 gunung api masuk kategori tipe B. Gunung api dalam kelompok ini setelah 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik, tetapi masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik.

Salah satu bentuk aktivitas yang dapat ditemukan adalah kegiatan solfatara. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya manifestasi aktivitas vulkanik meskipun tidak terdapat catatan erupsi magmatik setelah 1600.

Gunung tipe B tersebar di Sumatra sebanyak 12 gunung dan Jawa sebanyak 10 gunung. Kemudian, terdapat dua gunung di Bali-Nusa Tenggara, dua di Sulawesi, dan tiga di Maluku.

Beberapa contoh gunung api tipe B adalah Gunung Sibayak, Argopura, Patuha, Merbabu, Lawu, Rajabasa, Ungaran, Sumbing, dan Klabat.

Meskipun tidak menunjukkan catatan erupsi magmatik setelah 1600, gunung tipe B tetap masuk klasifikasi gunung api Indonesia. Manifestasi aktivitas vulkanik membuat gunung-gunung tersebut tetap menjadi bagian dari pemantauan pemerintah.

Gunung Api Tipe C

Sebanyak 21 gunung api dikategorikan sebagai tipe C. Gunung api tipe ini tidak diketahui pernah mengalami erupsi dalam sejarah manusia, tetapi masih memiliki tanda-tanda kegiatan masa lampau.

Tanda tersebut berupa lapangan solfatara atau fumarola pada tingkat lemah. Kondisi inilah yang membuat gunung tipe C tetap masuk dalam klasifikasi gunung api.

Sebaran gunung tipe C meliputi enam gunung di Sumatra, lima di Jawa, lima di Bali-Nusa Tenggara, dan lima di Sulawesi. Sementara itu, tidak ada catatan mengenai gunung tipe C di Maluku.

Beberapa contoh gunung api tipe C adalah Jaboi, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Poco Leok, dan Lahendong.

Klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api tidak hanya dilihat dari ada atau tidaknya erupsi yang sedang berlangsung. Tanda aktivitas vulkanik dalam tingkat tertentu juga menjadi bagian dari penilaian kondisi gunung.

Memahami Aktivitas Gunung Api di Indonesia

Memahami jenis gunung api di Indonesia penting karena setiap kategori memiliki karakteristik berbeda.

Tipe A memiliki catatan erupsi magmatik sekurang-kurangnya sejak 1600, sedangkan tipe B tidak memiliki catatan erupsi magmatik setelah 1600 tetapi masih menunjukkan gejala aktivitas vulkanik.

Tipe C tidak memiliki catatan sejarah erupsi yang diketahui manusia, tetapi masih menunjukkan jejak atau tanda aktivitas vulkanik pada tingkat lemah.

Sementara itu, tipe D belum pernah tercatat meletus sejak 1600, tetapi menunjukkan kegiatan solfatara berupa gas atau uap belerang.

Karena itu, istilah gunung api aktif tidak selalu berarti gunung tersebut sedang mengalami erupsi. Status dan kondisi gunung berkaitan dengan riwayat letusan serta berbagai tanda aktivitas vulkanik yang masih ditemukan.

Masyarakat juga perlu memahami informasi mengenai erupsi gunung berapi secara tepat. Kondisi gunung tidak sebaiknya hanya dinilai dari apakah sedang terjadi letusan atau tidak.

Aktivitas gunung api dapat berubah setiap saat. Oleh karena itu, pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik yang terjadi.

Informasi resmi dari Badan Geologi menjadi rujukan penting dalam memahami kondisi gunung api Indonesia.

Dengan mengetahui perbedaan tipe A, tipe B, dan tipe C, masyarakat dapat memahami bahwa setiap gunung memiliki riwayat serta karakter aktivitas yang tidak sama.

Anak Krakatau termasuk kelompok tipe A bersama sejumlah gunung api lain yang mempunyai catatan erupsi.

Klasifikasi tersebut menjadi bagian dari gambaran mengenai riwayat aktivitas gunung api yang digunakan dalam pemantauan gunung berapi di Indonesia.

Mengenal jenis gunung api di Indonesia bukan hanya soal mengetahui nama dan lokasi gunung.

Informasi tersebut juga membantu masyarakat memahami riwayat erupsi, aktivitas vulkanik, serta pentingnya mengikuti informasi resmi mengenai kondisi gunung api.

Dengan pemantauan dan informasi yang tepat, masyarakat dapat lebih memahami karakteristik gunung api di sekitarnya tanpa menyamakan seluruh gunung berdasarkan apakah sedang erupsi atau tidak.(taa)

Berita Sebelumnya
Magang Nasional

Cara Daftar Magang Nasional 2026 Tahap II di MagangHub, Simak Panduannya