Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Begini Cara Mudah Cek Online Penyaluran Bansos Beras 20 Kg Tahun 2025
Mengenal Seni Tradisi Kotekan Lesung di Desa Onje Purbalingga – Budaya Agraris yang Mulai Terlupakan di Tengah Modernisasi
Kesempatan Kerja di Luar Negeri: Jepang Butuh 639 Ribu Tenaga Kerja, Ini Informasi Resminya

Mengenal Seni Tradisi Kotekan Lesung di Desa Onje Purbalingga – Budaya Agraris yang Mulai Terlupakan di Tengah Modernisasi

Budaya agraris yang mulai terlupakan di tengah modernisasiBudaya agraris yang mulai terlupakan di tengah modernisasi
SEMANGAT: Lomba kotekan lesung antar RT di Desa Onje, kecamatan Mrebet.

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Desa Onje yang terletak di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, dikenal sebagai salah satu desa tertua yang masih memelihara tradisi seni kotekan lesung.

Tradisi ini kembali mengemuka setiap musim panen dan menjadi bagian dari identitas budaya agraris yang kuat di wilayah tersebut.

Pada Kamis malam, 21 Agustus 2025, suara merdu tabuhan lesung menggema di Balai Desa Onje. Suara ini berasal dari Lomba Kotekan Lesung Antar-RT yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Onje.

Kepala Desa Onje, Mugi Ari Purnomo, menekankan bahwa lomba ini merupakan upaya untuk melestarikan budaya leluhur masyarakat agraris.

“Leluhur kita hingga sekarang dikenal sebagai petani yang ulung. Nah, lesung ini merupakan salah satu simbol dari majunya budaya agraris di negara kita,” ujarnya dengan bangga.

Seni kotekan lesung memiliki sejarah panjang sebagai hiburan bagi para petani pada masa lalu. Ketika menumbuk padi menjadi beras menggunakan lesung dan alu, para petani akan memainkan alat musik sederhana ini untuk mengusir kejenuhan.

Lesung itu sendiri adalah wadah dari batang pohon besar yang digunakan untuk menumbuk padi, sementara alu adalah sebatang kayu yang digunakan untuk menumbuk padi dalam lesung tersebut.

“Sambil menumbuk padi para petani juga memukul-mukulkan alu pada lesung secara berirama sehingga menghasilkan irama tabuhan yang menarik,” jelas Mugi Ari Purnomo lebih lanjut.

Irama yang tercipta saat alat-alat tersebut dimainkan tidak hanya sekedar bunyi tetapi juga merupakan cara untuk menyemarakkan suasana kerja dengan nyanyian dan tarian sederhana.

Namun demikian, tradisi kotekan lesung kini semakin jarang terdengar di Desa Onje seiring dengan modernisasi pertanian.

Penggunaan mesin penggiling padi telah menggantikan fungsi tradisional dari lesung dan alu.

Meskipun demikian, kotekan lesung tetap dimainkan pada acara-acara tertentu seperti Festival Desa Onje yang digelar setiap tahun.

Untuk menghidupkan kembali tradisi ini dan memperkenalkannya kepada generasi muda, Pemerintah Desa Onje menyelenggarakan lomba kotekan lesung dengan peserta anak-anak hingga remaja berusia 21 tahun.

“Dengan demikian ke depan mereka bisa melestarikan kesenian ini. Apalagi Desa Onje adalah desa wisata budaya sehingga selaras dengan visi misi pembangunan di desa kami,” tambah Kepala Desa.

Surotomo, salah satu juri lomba ini, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara tersebut karena kebanyakan pesertanya adalah anak-anak yang menjadi target utama dalam pengenalan kesenian tradisional Purbalingga.

“Generasi muda di Desa Onje bisa kembali menikmati seni tradisi nenek moyang mereka sehingga kesenian tradisi ini bisa tetap lestari di Desa Onje,” katanya penuh harap.

Lomba kotekan lesung antar-RT ini tak hanya menjadi sarana pelestarian budaya tetapi juga ajang untuk merajut kebersamaan warga. Semangat gotong royong dan partisipasi aktif dari berbagai kalangan usia menjadi warna tersendiri dalam acara tersebut.

Dalam konteks pariwisata budaya, kegiatan seperti ini juga mendukung upaya meningkatkan daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara ke wilayah Purbalingga khususnya Desa Onje.

Keunikan dan nilai historis kotekan lesung dapat menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang ingin mendalami kearifan lokal serta menikmati pengalaman budaya yang autentik.

Para peserta lomba tidak sekadar berkompetisi untuk memenangkan hadiah tetapi lebih dari itu mereka mendapatkan kesempatan langka belajar langsung tentang cara memainkan alat musik tradisional tersebut dari para tetua desa yang kaya akan pengetahuan dan pengalaman tentang seni ini.

Selain itu peran orang tua dan pendamping sangat penting dalam proses pembelajaran keterampilan memainkan kotekan lesung bagi anak-anak mereka sehingga warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman modernisasi.

Kesadaran kolektif inilah yang perlu terus dipupuk agar warisan nenek moyang berupa seni kotekan lesung dapat terus hidup dan berkembang seiring waktu serta relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi sejarahnya.

Semangat melestarikan tradisi kuno melalui kegiatan lomba semacam ini harus mendapat dukungan semua pihak baik pemerintah daerah masyarakat maupun institusi pendidikan agar nilai-nilai luhur budaya lokal tetap terjaga keberlangsungannya demi generasi mendatang.

Maka, tradisi ini bukan hanya sebagai hiburan belaka atau sekedar ritual tahunan saja, tetapi lebih jauh lagi ia menjadi sarana edukasi efektif bagi generasi penerus bangsa sekaligus medium mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam bingkai harmonisasi sosial-budaya masyarakat pedesaan Indonesia. (tya/stch)

Berita Sebelumnya
Penyaluran bansos beras 20 kg dilakukan pemerintah sebagai upaya ketahanan pangan

Begini Cara Mudah Cek Online Penyaluran Bansos Beras 20 Kg Tahun 2025

Berita Selanjutnya
Jepang butuh 639 ribu tenaga kerja

Kesempatan Kerja di Luar Negeri: Jepang Butuh 639 Ribu Tenaga Kerja, Ini Informasi Resminya