BANYUMASEKSPRES.ID, Seorang wanita yang diduga terlibat dalam skema pemerasan terhadap Son Heung-min, kapten timnas Korea Selatan, kini harus menghadapi konsekuensi hukum.
Pengadilan Distrik Pusat Seoul telah menjatuhkan hukuman penjara kepada wanita berinisial Yang setelah menyatakan dirinya bersalah karena mencoba memeras Son dengan cerita palsu mengenai kehamilan.
Kasus ini menyoroti bahaya dari penyalahgunaan ketenaran dan kerentanan individu, terutama bagi para selebritas seperti Son yang dikenal luas tidak hanya di Korea tetapi juga di panggung internasional.
Jaksa penuntut menggambarkan Yang sebagai seseorang yang bercita-cita menjalani kehidupan glamor, layaknya pasangan pesepak bola ternama.
Dalam usahanya tersebut, ia berhasil menipu mantan bintang Tottenham Hotspur itu hingga mencapai 300 juta won atau sekitar Rp3,4 miliar.
Modus operandi yang digunakan adalah dengan mengirimkan gambar hasil USG sembari mengancam akan menyebarluaskan klaim bahwa ia sedang mengandung anak Son jika tidak diberi uang.
Menurut laporan dari kantor berita Yonhap, uang tersebut kemudian dihabiskan oleh Yang untuk membeli barang-barang mewah, menggambarkan keserakahan yang sering kali menjadi akar dari kejahatan seperti ini.
Akan tetapi, cerita ini tidak berhenti di situ. Tahun ini, Yang bersama seorang rekan pria berinisial Yong kembali meminta tambahan uang sebesar 70 juta won dari Son.
Upaya mereka untuk mendapatkan lebih banyak uang akhirnya membawa kasus ini ke ranah hukum. Pengadilan memutuskan hukuman empat tahun penjara bagi Yang dan dua tahun untuk Yong.
Keduanya telah ditahan sejak Mei lalu, menunjukkan bahwa hukum di Korea Selatan serius dalam menindak kejahatan semacam ini.
Hakim Im Jeong-bin yang memimpin sidang menekankan bahwa tindakan Yang bukanlah sekadar ancaman biasa.
Ia bahkan berusaha menyebarkan informasi palsu kepada media dan agensi periklanan dengan tujuan agar Son memenuhi tuntutannya.
“Terdakwa mengambil langkah ekstrem yang merusak reputasi Son,” ujar hakim Im dalam putusannya. Lebih lanjut, sang hakim juga menegaskan bahwa kasus ini menimbulkan “tekanan psikologis yang signifikan” bagi pemain internasional tersebut.
Son Heung-min sendiri saat ini bermain untuk Los Angeles FC setelah pindah dari Tottenham dengan rekor transfer Major League Soccer (MLS) awal tahun ini.
Kehadirannya di salah satu sidang tertutup bulan lalu untuk memberikan kesaksian menunjukkan betapa pentingnya masalah ini bagi dirinya secara pribadi dan profesional.
Pengadilan juga memaparkan bahwa Yang tidak pernah bisa memastikan siapa ayah dari bayi yang diklaim sedang dikandungnya.
Bahkan masih belum jelas apakah kehamilannya itu benar-benar ada atau hanya bagian dari rencana pemerasan.
Spekulasi media lokal menyebutkan kemungkinan bahwa kehamilan tersebut mungkin telah diakhiri, meski belum ada konfirmasi resmi mengenai hal itu.
Namun demikian, kasus ini telah mencoreng nama baik Son dan menambah beban psikologis pada dirinya.
Agensi pemain sepak bola berusia 33 tahun itu sebelumnya sudah menjelaskan bahwa meskipun Son pernah mengenal Yang, permintaan uang tersebut berasal dari “bahan-bahan yang direkayasa.”
Kasus pemerasan ini menjadi pengingat bagi banyak selebritas dan tokoh publik lainnya tentang risiko ketenaran yang dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.
Ini juga mencerminkan bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai alat manipulasi dalam bentuk ancaman digital seperti gambar hasil USG palsu.
Selain itu, insiden ini membuka diskusi lebih luas tentang perlunya perlindungan hukum yang lebih kuat bagi korban pemerasan, terutama mereka yang berada dalam posisi rentan akibat ketenaran atau kekayaan mereka.
Hukum perlu terus berkembang seiring dengan cara-cara baru yang digunakan pelaku kriminal untuk mengeksploitasi orang lain.
Bagi Son Heung-min sendiri, meski menghadapi cobaan berat akibat skandal ini, ia tetap menjadi salah satu pemain sepak bola paling dihormati di dunia olahraga internasional saat ini. (*/stch/dda)
















