BANYUMASEKSPRES.ID, Pengusaha sekaligus influencer Nadya Shavira atau yang dikenal dengan nama Nadshav mendapat pesan langsung (DM) dari seorang netizen yang meminta bantuan uang sebesar Rp1,5 juta.
Permintaan tersebut disebut untuk membayar kontrakan dan memenuhi kebutuhan anak.
Namun, pesan tersebut tidak mendapat respons dari Nadshav. Netizen yang merasa permintaannya tidak ditanggapi kemudian mengirimkan pesan bernada negatif dan melontarkan sejumlah komentar yang menyerang sang influencer.
Percakapan tersebut kemudian dibagikan Nadshav melalui tangkapan layar dan menjadi perhatian warganet.
Pesan itu memperlihatkan bagaimana permintaan bantuan yang awalnya disampaikan secara langsung berubah menjadi hujatan setelah tidak mendapat balasan.
Dalam pesan yang beredar, netizen tersebut terlebih dahulu menyinggung citra Nadshav yang selama ini dikenal sebagai sosok yang kerap membantu orang lain.
“Orang-orang pada percaya lagi kalau kamu si paling dermawan dan baik hati, aku aja ketipu kirain iya suka bantu orang susah lain,” tulis netizen tersebut.
Netizen itu kemudian menjelaskan nominal uang yang sebelumnya dimintanya kepada Nadshav.
Ia mengaku hanya meminta bantuan sebesar Rp1,5 juta untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan anaknya.
“Padahal cuma dimintain tolong Rp1,5 juta buat bayar kontrakan sama kebutuhan anak aku, tapi pelitnya minta ampun,” lanjutnya.
Pesan tersebut kemudian berubah menjadi serangan personal. Netizen itu bahkan membawa kondisi keluarga Nadshav ke dalam persoalan permintaan bantuan yang tidak mendapat respons.
Dalam tangkapan layar yang beredar, pengirim pesan menyinggung anak pertama Nadshav yang memiliki kebutuhan khusus.
Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi Nadshav sebagai seorang ibu.
“Curiga deh kamu kaya tapi anak kamu kayak si bibu. Padahal anak yang cewek kamu normal lho,” tulisnya.
Tidak berhenti di situ, netizen tersebut juga melontarkan tudingan lain terkait kondisi anak Nadshav.
“Apa jangan-jangan kamu ngorbanin si bibu biar jadi kaya, Nad?” tambahnya.
Komentar tersebut kemudian menuai perhatian karena membawa kondisi anak ke dalam persoalan pribadi antara pengirim pesan dan Nadshav.
Padahal, permasalahan awal dalam percakapan tersebut berkaitan dengan permintaan bantuan uang.
Menanggapi pesan bernada negatif tersebut, Nadshav tampaknya memilih tidak memberikan penjelasan panjang.
Ia hanya menuliskan kalimat singkat pada tangkapan layar percakapan yang dibagikannya.
“Istighfar mbak,” tulis Nadshav.
Unggahan tersebut kemudian menjadi perhatian di media sosial. Tangkapan layar percakapan itu salah satunya beredar setelah diunggah ulang oleh akun X @KemangiLalapan.
Peredaran tangkapan layar tersebut membuat warganet ikut memberikan komentar.
Sejumlah pengguna media sosial menyayangkan sikap pengirim pesan yang berubah menjadi menyerang setelah permintaan bantuan tidak mendapat respons.
Sebagian warganet juga menilai persoalan permintaan bantuan seharusnya tidak dibawa ke ranah keluarga, terlebih dengan menyinggung kondisi anak Nadshav.
Perhatian warganet terutama tertuju pada bagian pesan yang membawa kondisi anak Nadshav.
Sejumlah komentar menyebut anak tidak seharusnya menjadi sasaran dalam persoalan antara dua orang dewasa.
Warganet menilai seseorang memiliki hak untuk menentukan apakah dirinya akan memberikan bantuan atau tidak.
Tidak adanya respons terhadap permintaan uang juga tidak secara otomatis menjadi alasan untuk melontarkan hinaan atau menyerang anggota keluarganya.
Kasus tersebut kemudian menjadi contoh bagaimana komunikasi melalui pesan pribadi dapat berubah menjadi konsumsi publik ketika tangkapan layarnya disebarkan ke media sosial.
Permintaan bantuan kepada figur publik memang bukan hal baru. Influencer yang dikenal memiliki kehidupan mapan atau kerap berbagi aktivitas sosial sering kali mendapat pesan dari masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Namun, kemampuan seseorang untuk membantu tidak berarti setiap permintaan harus dipenuhi.
Dalam situasi tersebut, keputusan untuk memberikan bantuan tetap menjadi pilihan pribadi pemilik akun.
Sementara itu, hingga pesan tersebut beredar, Nadshav tidak terlihat memberikan respons panjang terhadap tudingan yang disampaikan pengirim DM.
Ia hanya menanggapi bagian percakapan tersebut dengan kalimat singkat.
Perbincangan mengenai Nadshav dan DM permintaan uang Rp1,5 juta pun akhirnya berkembang di media sosial.
Sorotan tidak lagi hanya tertuju pada permintaan bantuan, tetapi juga pada batas antara meminta pertolongan, memberikan kritik, dan menyerang kehidupan pribadi seseorang.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan bagaimana komentar di media sosial dapat dengan cepat menyebar ketika menyangkut figur publik.
Apalagi ketika persoalan pribadi sudah membawa nama anggota keluarga yang tidak berkaitan langsung dengan masalah tersebut. (*/stch/dda)
















