BANYUMASEKSPRES.ID, DJ Citra Anidya, yang dikenal publik sebagai kekasih Chef Juna, mengungkap pengalaman traumatis yang pernah dialaminya.
Melalui sejumlah unggahan di Instagram pada 11 dan 12 Agustus 2026, Citra bercerita mengenai pengalaman kekerasan yang membuatnya hingga kini masih berusaha membangun kembali rasa aman.
Citra tidak mengungkap identitas sosok yang disebutnya melakukan kekerasan maupun orang yang belakangan memberikan ancaman.
Ia juga tidak menjelaskan secara rinci kapan peristiwa kekerasan tersebut terjadi.
Namun, melalui unggahannya, Citra menggambarkan bahwa pengalaman masa lalu tersebut masih meninggalkan luka dan memengaruhi responsnya terhadap situasi tertentu.
Citra mengatakan dirinya pernah menjadi korban kekerasan oleh seorang pria yang bahkan tidak dikenalnya.
Pengalaman tersebut disebutnya menjadi salah satu sumber trauma yang masih membekas hingga sekarang.
“Aku pernah mengalami trauma karena pernah dipukul habis-habisan oleh laki-laki yang bahkan nggak aku kenal,” tulis Citra dalam unggahannya.
Dalam ceritanya, Citra mengungkap bahwa setelah mengalami kekerasan, dirinya pernah dibawa ke kantor polisi.
Sang ayah juga disebut datang dalam kondisi emosional setelah mengetahui keadaan yang dialami putrinya.
Peristiwa tersebut kemudian meninggalkan pengalaman traumatis bagi Citra.
Ia mengaku pengalaman itu memengaruhi caranya merespons situasi yang dianggap mengancam keselamatannya.
Belakangan, luka lama tersebut kembali terasa setelah Citra mengaku mendapat ancaman pemukulan dari seseorang.
Ia menyebut ancaman itu justru datang dari sosok yang sebelumnya pernah berjanji akan memberikan perlindungan kepadanya.
Citra tidak menjelaskan identitas orang yang dimaksud. Ia juga tidak menyebut secara rinci bentuk maupun konteks ancaman tersebut.
“Bukan karena aku ingin selalu curiga, tapi karena ada bagian dari diriku yang masih belajar merasa aman,” tulisnya.
Pengalaman tersebut membuat Citra kembali menghadapi perasaan takut yang berkaitan dengan kejadian di masa lalu.
Meski demikian, ia mengatakan sedang berusaha berdamai dengan pengalaman tersebut dan tidak ingin trauma terus mengendalikan kehidupannya.
Citra menjelaskan bahwa berdamai dengan pengalaman buruk bukan berarti melupakan ataupun membenarkan tindakan yang pernah dialaminya.
Baginya, proses tersebut merupakan upaya untuk menerima pengalaman masa lalu tanpa membiarkannya terus menentukan cara menjalani kehidupan.
“Some wounds don’t need to be forgotten. They just need to stop controlling the way we live,” tulis Citra.
Ia juga mengungkap keinginan untuk kembali menjalani kehidupan dengan perasaan aman.
Citra ingin dapat menjalani aktivitas tanpa harus terus berada dalam kondisi waspada atau merasa harus selalu melindungi diri.
“kembali merasa aman, bahkan tanpa harus selalu berada dalam mode bertahan,” tulisnya.
Dalam unggahan berikutnya pada 12 Agustus, Citra kemudian menjelaskan mengenai rekaman yang disimpannya.
Ia menegaskan bahwa dokumentasi tersebut tidak dibuat untuk memperbesar persoalan ataupun menjatuhkan pihak tertentu.
“Aku tidak merekam untuk memperbesar masalah, apalagi untuk menjatuhkan siapa pun,” tulis Citra.
Menurut Citra, keputusan merekam sejumlah kejadian yang dialaminya berkaitan dengan kekhawatiran bahwa peristiwa serupa dapat kembali terjadi.
Karena itu, ia memilih menyimpan dokumentasi sebagai bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri.
“It was never about revenge. It was about protecting myself,” tegasnya.
Citra juga mengatakan rekaman tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman yang diceritakannya bukan sesuatu yang dibuat-buat.
Dokumentasi tersebut, menurutnya, disimpan karena dirinya merasa perlu memiliki perlindungan apabila suatu saat terjadi persoalan kembali.
Di sisi lain, Citra mengaku belakangan lebih banyak memilih diam. Namun, menurutnya, diam bukan berarti rasa takut maupun trauma yang dialami telah hilang sepenuhnya.
Ia bahkan menyinggung sosok yang dimaksud masih dapat tampil di hadapan publik seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
“Seolah nggak pernah terjadi sesuatu,” tulis Citra.
“Some things don’t simply disappear just because the moment has passed,” lanjutnya.
Hingga unggahan tersebut dibagikan, Citra belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai identitas orang yang disebut dalam ceritanya.
Ia juga belum mengonfirmasi apakah telah menempuh langkah hukum terkait dugaan ancaman yang diterimanya.
Curhatan Citra kemudian mendapat perhatian warganet. Sejumlah pengguna Instagram memberikan dukungan setelah membaca pengalaman yang dibagikannya melalui media sosial.
Citra sendiri memilih tidak membeberkan lebih jauh detail mengenai persoalan tersebut.
Unggahannya lebih banyak berisi pengalaman personal mengenai trauma, rasa aman, serta alasan dirinya memilih menyimpan rekaman.
Pada bagian akhir unggahan, Citra menuliskan kalimat mengenai kesetiaan yang menurutnya dapat terlihat ketika seseorang tidak lagi memiliki sesuatu untuk diberikan.
“Pada akhirnya, kesetiaan terlihat jelas ketika tidak ada lagi yang bisa diberikan,” tulis Citra. (*/stch/dda)
















