BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Pasca aksi demonstrasi oleh sopir truk terkait muatan berlebih di Cilacap, harga kebutuhan pokok, terutama sayuran, mengalami kenaikan yang signifikan.
Fenomena ini mendorong Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Kabupaten Cilacap untuk mengaktifkan kembali program Gerakan Pangan Murah untuk Masyarakat (Gapura Mas).
Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau di tengah lonjakan harga yang terjadi.
Kepala Dishanpan Cilacap, Sigit Widayanto, mengungkapkan bahwa pelaksanaan program Gapura Mas dimulai bersamaan dengan acara PKK yang berlangsung di alun-alun Cilacap pada hari Minggu, 22 Juni.
“Minggu kemarin bareng acara PKK, kebetulan dibarengi dengan demo sopir truk terkait muatan jadi membuat harga bahan pokok naik,” ujar Sigit pada Selasa, 24 Juni.
Demonstrasi yang dilakukan oleh para sopir truk berdampak langsung pada kelangkaan sayuran yang biasanya diangkut dari luar Kabupaten Cilacap. Akibatnya, harga beberapa jenis sayuran seperti cabai dan lainnya mengalami lonjakan tajam.
Sebagai contoh, harga cabai merah di Pasar Gede mencapai Rp100 ribu per kilogram. Namun, melalui Gapura Mas, cabai merah dijual dengan harga Rp40 ribu per kilogram.
“Itu yang membuat Gapura Mas diserbu masyarakat,” tambah Sigit.
Di Pasar Kroya, fenomena serupa juga terjadi. Harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp45 ribu per kilogram dan bawang merah dijual seharga Rp44 ribu per kilogram.
Kenaikan ini tidak hanya terbatas pada cabai dan bawang merah saja; beberapa komoditas sayuran lain seperti tomat, wortel, dan kubis juga mengalami peningkatan harga.
Rini, seorang pedagang sayur setempat, menjelaskan bahwa harga tomat kini mencapai Rp12 ribu per kilogram dari sebelumnya hanya Rp8 ribu.
“Wortel juga naik jadi Rp13 ribu, padahal minggu lalu masih Rp10 ribu,” ungkap Rini.
Sigit menjelaskan bahwa bahan baku sayuran dalam program Gapura Mas berasal dari petani lokal di Cilacap.
Dengan memanfaatkan hasil pertanian dari Kecamatan Maos, Adipala, dan wilayah sekitarnya, Dishanpan mampu memangkas biaya distribusi sehingga harga yang ditawarkan bisa lebih rendah dibandingkan pasar umum.
“Kita ambil bahan sayuran dari petani di Kecamatan Maos, Adipala dan wilayah sekitar dan itu bisa memangkas ongkos distribusi jadi harga dapat lebih rendah dari pasaran,” tandasnya.
Program Gapura Mas tidak hanya menjadi solusi jangka pendek bagi masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga pangan akibat aksi demonstrasi ini tetapi juga memberikan dampak positif bagi petani lokal dengan meningkatkan penjualan hasil panen mereka secara langsung kepada konsumen.
Ke depan, Dishanpan berencana untuk mengadakan Gapura Mas di setiap wilayah kecamatan meskipun dalam skala kecil terlebih dahulu agar lebih banyak masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Situasi ini menggambarkan betapa pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan di tengah situasi krisis seperti aksi demonstrasi atau gangguan lainnya dalam rantai pasokan.
Masyarakat berharap bahwa inisiatif seperti Gapura Mas dapat terus berlanjut dan berkembang agar kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi semua kalangan.
Sebagai warga negara yang peduli akan kondisi ekonomi saat ini, kita perlu mendukung upaya pemerintah dalam menstabilkan harga pangan sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam program-program semacam ini.
Di sisi lain, ada harapan agar pemerintah juga dapat mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah distribusi pangan yang seringkali menjadi penyebab utama kenaikan harga barang-barang pokok.
Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama demi mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan serta menjaga kesejahteraan masyarakat luas.
Inisiatif seperti Gapura Mas harus didukung penuh agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak yang terlibat. (jul/ray/stch)
















