Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Burn Out Parah, Nirina Zubir Sempat Tak Mau Keluar Rumah
Mibot Mobil Listrik Murah Buatan Jepang Seharga 100Jutaan Laris! Penjualannya Kalahkan EV Toyota
Pasokan Aman, Harga Bahan Pokok Naik di Cilacap Pasca Demo Truk ODOL

Mibot Mobil Listrik Murah Buatan Jepang Seharga 100Jutaan Laris! Penjualannya Kalahkan EV Toyota

Mobil listrik murah buatan jepang larisMobil listrik murah buatan jepang laris

BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah persaingan ketat pasar kendaraan listrik global, sebuah perusahaan rintisan asal Jepang, KG Motors, mencuri perhatian lewat gebrakan unik: sebuah mobil listrik mungil satu penumpang dengan harga super terjangkau, hanya sekitar Rp 120 jutaan.

Mobil ini dikembangkan di pinggiran kota Hiroshima oleh KG Motors, perusahaan start-up yang ingin menjawab kebutuhan mobilitas urban dengan pendekatan berbeda. Diberi nama Mibot, mobil listrik ini menyasar konsumen yang mencari kendaraan hemat energi, praktis, dan tidak memakan tempat.

Dengan ukuran tinggi di bawah 1,5 meter, Mibot dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi jalanan kota-kota padat seperti Tokyo dan Osaka. Kendaraan ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 60 km/jam. Dalam sekali pengisian daya, Mibot bisa menempuh jarak hingga 100 kilometer. Proses pengisian dayanya membutuhkan waktu sekitar lima jam.

Produksi resmi mobil listrik Mibot akan dimulai Oktober mendatang di fasilitas baru milik KG Motors.

Harga produksinya ditetapkan sebesar 1 juta yen sebelum pajak, atau setara Rp 112 jutaan jika menggunakan kurs yen saat ini (1 yen = Rp 112,5). Setelah pajak, harganya menjadi sekitar 1,1 juta yen, atau sekitar Rp 123 jutaan.

Harga ini membuat Mibot tampil sangat kompetitif di pasar. Sebagai perbandingan, harga mobil listrik Nissan Sakura yang saat ini menjadi salah satu mobil listrik paling populer di Jepang, masih dua kali lipat lebih mahal.

Keunggulan harga bukan satu-satunya alasan Mibot mencuri perhatian. Data menunjukkan bahwa sebanyak 3.300 unit kendaraan ini telah disiapkan untuk didistribusikan ke konsumen hingga Maret 2027, dan menariknya, separuh dari total unit tersebut sudah ludes dipesan.

Tingginya minat pasar terhadap Mibot membuat KG Motors mencatatkan prestasi yang cukup mengejutkan.

Hingga pertengahan 2024, penjualannya mengalahkan Toyota yang hanya berhasil menjual sekitar 2.000 unit mobil listrik sepanjang tahun berjalan.

Dalam lanskap otomotif Jepang yang masih konservatif terhadap kendaraan listrik—dengan kontribusi penjualan EV yang masih berada di angka 3,5 persen dari total pasar atau sekitar 140 ribu unit—kehadiran Mibot menjadi angin segar.

Mobil ini hadir sebagai simbol perubahan cara pandang terhadap mobilitas, terutama di kawasan urban.

Kazunari Kusunoki, pendiri sekaligus CEO KG Motors, punya visi jelas di balik desain mungil Mibot. Ia mengaku frustrasi dengan dominasi mobil-mobil besar yang kurang cocok untuk lalu lintas kota yang sempit.

“Mobil-mobil ini terlalu besar,” ujar Kusunoki.

“Melihat begitu banyak mobil besar melintasi jalan-jalan sempit di Jepang—itulah awal mula bagi saya (mengembangkan mobil),” lanjutnya.

Mibot hadir sebagai solusi inovatif untuk kota-kota besar yang semakin padat. Dengan harga mobil listrik Jepang yang kini makin kompetitif, Mibot bisa menjadi pilihan ideal bagi kalangan muda, pengguna transportasi jarak pendek, maupun masyarakat yang ingin beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Tantangan tentu masih ada, terutama dalam membangun kepercayaan konsumen Jepang yang masih cenderung memilih kendaraan konvensional. Namun, kesuksesan awal Mibot bisa menjadi pertanda bahwa ceruk pasar untuk mobil listrik murah dengan desain praktis mulai terbuka.

Dengan penjualan yang mengesankan, efisiensi penggunaan energi, serta strategi harga yang agresif, KG Motors menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi juga pemahaman mendalam terhadap kebutuhan lokal.

Apabila tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin mobil listrik satu penumpang seperti Mibot akan menjadi wajah baru mobilitas masa depan di Jepang—dan mungkin juga di pasar global yang sedang mencari alternatif kendaraan ringkas dan ramah lingkungan. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Sempat tak mau keluar rumah

Burn Out Parah, Nirina Zubir Sempat Tak Mau Keluar Rumah

Berita Selanjutnya
Pedagang sayur di pasar cilacap

Pasokan Aman, Harga Bahan Pokok Naik di Cilacap Pasca Demo Truk ODOL