BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Pemerintah Kabupaten Temanggung berkomitmen untuk merevitalisasi Alun-alun Temanggung mulai tahun 2027.
Program penataan kawasan ini akan dilakukan secara bertahap dan dijadwalkan rampung pada tahun 2030.
Hal ini menjadi program prioritas mengingat alun-alun merupakan pusat interaksi masyarakat di Temanggung, namun hingga saat ini, fungsinya belum optimal sebagai ruang publik yang mencerminkan kebutuhan dan kehendak masyarakat.
Bupati Temanggung, Agus Setyawan menjelaskan bahwa antara tahun 2026 hingga 2030, pemerintah daerah akan fokus pada penataan kawasan perkotaan.
Berbagai program pembangunan telah direncanakan, di antaranya adalah pengembangan city walk di kawasan Temanggung, Ngadirejo, dan Parakan, serta revitalisasi Alun-alun itu sendiri.
“Tahun 2026 ini, pemda sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,7 miliar untuk melanjutkan pembangunan city walk di kawasan dalam kota (Temanggung). Proyek ini kita lakukan secara bertahap hingga tahun 2030,” ujar Agus Setyawan.
Revitalisasi Alun-alun Temanggung bukan hanya sekadar proyek fisik, tetapi juga merupakan upaya untuk menciptakan ruang publik yang lebih ramah bagi masyarakat.
Selama ini, alun-alun dianggap belum sepenuhnya memenuhi fungsinya sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi sosial.
Dengan penataan yang baik, diharapkan alun-alun dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat yang nyaman dan menarik.
Selain itu, Pemkab juga merencanakan revitalisasi kawasan Pendopo Pengayoman pada tahun 2026.
Penataan kawasan olahraga di Stadion Bhumi Phala juga menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah.
Revitalisasi lapangan sepak bola di stadion tersebut direncanakan dimulai pada tahun 2027.
“Untuk Alun-alun Temanggung rencananya mulai 2027,” jelas bupati menegaskan pentingnya proyek ini bagi masyarakat.
Pengembangan kawasan lainnya juga menjadi perhatian pemerintah daerah dengan rencana pembangunan city walk di wilayah Ngadirejo hingga Jumprit.
Proyek ini diperkirakan akan mulai dikerjakan paling cepat pada tahun 2027 atau maksimal tahun 2028, tergantung pada kemampuan anggaran daerah.
Pembangunan city walk juga direncanakan di kawasan Parakan dengan lokasi semula yang berada di Jalan Diponegoro akan dialihkan ke Jalan Letnan Suwaji, mengingat kondisi jalan yang lebih memadai untuk mendukung proyek ini.
Agus Setyawan menekankan bahwa penataan kawasan kota harus sejalan dengan pembangunan infrastruktur di desa-desa sekitar.
Ia menyadari tantangan yang ada akibat pengurangan dana desa mulai tahun 2026.
“Dana desa sekarang rata-rata berada di bawah Rp400 juta. Ini tentu berdampak pada pembangunan di desa-desa. Sehingga pemerintah kabupaten harus lebih peduli dan hadir untuk membantu,” katanya.
Komitmen pemkab dalam melakukan revitalisasi tidak hanya terbatas pada alun-alun saja tetapi juga mencakup seluruh aspek pengembangan infrastruktur kota agar dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat.
Pembangunan city walk tidak hanya memberikan aksesibilitas yang lebih baik tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta memperkuat interaksi sosial antarwarga.
Melihat ke depan, revitalisasi Alun-alun Temanggung dan proyek-proyek terkait lainnya menunjukkan upaya pemerintah daerah untuk menjawab tantangan modernitas sekaligus mengembalikan fungsi ruang publik sebagai tempat berkumpul dan beraktivitas bagi masyarakat.
Dengan adanya peningkatan kualitas ruang publik seperti alun-alun ini, diharapkan masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari program-program tersebut. (*/stch/dda)
















