Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pesona Klenteng Boen Tek Bio Banyumas Menarik Wisatawan dari Eropa

Jejak Budaya Leluhur di Kota LamaJejak Budaya Leluhur di Kota Lama
DESTINASI: Wisatawan asal Perancis berbincang dengan Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas mengenai relevansi klenteng yang tetap diminati hingga kini di kawasan Banyumas Kota Lama

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Banyumas Kota Lama yang semakin ramai dikunjungi wisatawan, Klenteng Boen Tek Bio tetap berdiri kokoh, memancarkan pesona sejarah yang memikat.

Berlokasi di Jalan Pungkuran, Desa Sudagaran, klenteng ini bukan hanya menjadi saksi bisu perjalanan waktu, namun juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Akhir-akhir ini, Klenteng Boen Tek Bio tidak hanya didatangi oleh peziarah dan wisatawan lokal.

Turis mancanegara, termasuk dari Eropa, menunjukkan minat yang tinggi untuk mengunjungi tempat ibadah Tri Dharma (TITD) ini.

Mereka datang bukan sekadar untuk mengabadikan ornamen atau arsitektur kuno, melainkan ingin memahami lebih dalam tentang keberadaan klenteng yang tetap relevan di era modern ini.

“Turis Eropa banyak bertanya, kenapa klenteng di berbagai belahan dunia, termasuk di Banyumas, masih diminati sampai sekarang. Padahal usianya sudah ribuan tahun,” ungkap Sobita Nanda, Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas kepada awak media pada Minggu (1/2).

Sobita menjelaskan bahwa klenteng bukan hanya tempat beribadah tetapi juga rumah budaya yang menyimpan jejak peradaban Tionghoa.

Ia mengajak para wisatawan untuk menyusuri sejarah Tiongkok, mulai dari penanggalan Huang Di Era hingga berkembangnya tradisi pemujaan kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur.

Penghormatan terhadap leluhur menurutnya bukan sekadar ritual semata tetapi lebih sebagai upaya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan generasi pendahulu.

“Leluhur itu penting karena karya dan ajaran merekalah yang membentuk kehidupan bersama. Nilai-nilainya masih dipakai sampai sekarang,” jelasnya.

Di hadapan wisatawan asing, klenteng menawarkan kesempatan belajar lintas budaya.

Banyak pertanyaan diajukan mulai dari alasan penggunaan sumpit dalam budaya makan hingga makna patung-patung dewa dan filosofi tulisan Mandarin yang terpahat di dinding serta altar.

“Kami bangga dengan tradisi yang diajarkan leluhur. Tantangannya sekarang bagaimana merawat rumah budaya ini agar tetap kokoh, menarik, dan sarat nilai,” tambah Sobita penuh semangat.

Sebelum revitalisasi kawasan Banyumas Kota Lama dilakukan, Klenteng Boen Tek Bio sebenarnya telah menjadi destinasi bagi pelancong asing.

Namun setelah penataan kawasan tersebut selesai, jumlah wisatawan asing meningkat secara signifikan.

Tidak hanya turis Eropa yang datang tetapi juga pengunjung dari negara-negara Asia yang memiliki pemahaman lebih dekat karena kesamaan budaya simbolik seperti candi, patung dan ritual.

Daya tarik utama klenteng ini terletak pada akulturasi budayanya yang kuat. Unsur budaya Tionghoa berpadu dengan nilai-nilai Jawa menciptakan identitas khas Banyumas.

Akulturasi inilah yang membuat Boen Tek Bio menarik perhatian tidak hanya para wisatawan namun juga kalangan akademisi.

“Seorang dosen dari Osaka University, Matsumura Toshio, Ph.D., pernah meneliti akulturasi budaya di Klenteng Boen Tek Bio. Sampai sekarang kami masih berkomunikasi,” tutur Sobita mengenang pengalaman tersebut.

Bagi pengurus klenteng peningkatan kunjungan ini adalah berkah sekaligus tanggung jawab besar.

Klenteng tidak hanya menjadi tempat beribadah tetapi juga simpul sejarah dan budaya yang turut menghidupkan Banyumas Kota Lama sebagai destinasi wisata unggulan.

Di sana warisan leluhur tidak dibiarkan membeku melainkan terus berdialog dengan dunia luar yang datang berkunjung.

Sementara itu suasana hangat perbincangan antara wisatawan asal Perancis dengan Sobita memberikan gambaran betapa relevannya klenteng hingga kini di tengah geliat pariwisata Banyumas Kota Lama. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Angin Kencang Terjang Banyumas Raya

Angin Kencang Tumbangkan Pohon di Empat Kecamatan Purbalingga

Berita Selanjutnya
Rute Commuter Line Bandung Sampai Cicalengka

Commuter Line Bandung Raya Resmi Diperpanjang hingga Cicalengka Mulai 1 Februari