BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 5,12 persen.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 menjadi salah satu sinyal bahwa aktivitas ekonomi nasional masih cukup kuat.
Sejumlah faktor menjadi pendorong, mulai dari investasi, konsumsi rumah tangga, hingga kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh kuatnya investasi dan konsumsi rumah tangga.
Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah juga berperan dalam menjaga daya beli serta mendorong aktivitas perekonomian.
“APBN juga terus berperan sebagai instrumen fiskal yang responsif untuk menjaga stabilitas ekonomi, meredam tekanan eksternal, serta mendukung dunia usaha dan pelaksanaan program prioritas nasional,” ujar Purbaya, Jumat (7/8/2026).
Menurut Purbaya, pemerintah akan terus memperkuat berbagai sumber pertumbuhan ekonomi agar momentum positif tersebut dapat dipertahankan.
Sinergi kebijakan dan reformasi struktural menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi tantangan ekonomi global.
“Di tengah tantangan global yang masih tinggi, pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural guna menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi,” katanya.
Salah satu faktor yang dinilai berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi masyarakat.
Pemerintah berupaya mempertahankan daya beli melalui berbagai kebijakan, termasuk penyaluran gaji ke-13, program perlindungan sosial, subsidi, serta pengendalian inflasi.
Ketahanan konsumsi rumah tangga juga terlihat dari meningkatnya sejumlah aktivitas ekonomi.
Beberapa indikator yang menunjukkan kondisi tersebut antara lain peningkatan belanja masyarakat, penjualan listrik, penjualan kendaraan bermotor, serta konsumsi bahan bakar minyak atau BBM.
Kondisi konsumsi masyarakat menjadi penting karena permintaan domestik memiliki peran besar dalam menopang perekonomian Indonesia.
Ketika daya beli tetap terjaga, aktivitas perdagangan dan dunia usaha juga berpeluang terus bergerak.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.
Peningkatan investasi diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian melalui aktivitas produksi, pembukaan lapangan kerja, hingga peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa.
Program prioritas pemerintah juga turut diarahkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Pelaksanaan berbagai program diharapkan tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga mendorong keterlibatan dunia usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Sementara itu, konsumsi pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 15,97 persen secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan tersebut didukung oleh percepatan belanja pemerintah, terutama belanja barang yang tumbuh 92,2 persen dan belanja pegawai sebesar 18,6 persen.
Percepatan belanja pemerintah tersebut sejalan dengan pelaksanaan sejumlah program prioritas nasional.
Beberapa di antaranya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
Pemerintah berharap belanja negara dapat memberikan efek berganda terhadap perekonomian.
Ketika anggaran pemerintah digunakan untuk menjalankan program dan pembangunan, aktivitas tersebut diharapkan ikut meningkatkan kegiatan dunia usaha serta mendorong konsumsi masyarakat.
Efek lanjutan juga diharapkan muncul melalui penciptaan lapangan kerja.
Semakin banyak aktivitas ekonomi yang berjalan, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh pendapatan yang kemudian dapat kembali mendorong konsumsi domestik.
Purbaya menilai penguatan pertumbuhan ekonomi tetap membutuhkan koordinasi berbagai kebijakan.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga berupaya memperkuat investasi, menjaga konsumsi, serta menjalankan reformasi struktural.
Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tersebut menjadi modal untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
Ketidakpastian global dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan, investasi, maupun stabilitas ekonomi sehingga pemerintah perlu menjaga momentum pertumbuhan nasional.
Dengan pertumbuhan sebesar 5,29 persen, pemerintah berharap perekonomian Indonesia dapat terus bergerak positif pada periode berikutnya.
Penguatan daya beli masyarakat, peningkatan investasi, serta efektivitas program pemerintah menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah juga akan terus memanfaatkan APBN sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.
Dengan sinergi kebijakan fiskal dan reformasi struktural, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat meningkat secara berkelanjutan meski kondisi global masih menghadirkan berbagai tantangan. (*/stch/dda)














