BANYUMASEKSPRES.ID, ATLANTA – Tim nasional Inggris kini dihadapkan pada tantangan baru saat bersiap untuk mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka dalam ajang Piala Dunia 2026.
Pada babak 32 besar, Inggris akan bertemu dengan wakil Afrika, Republik Demokratik Kongo, di Stadion Mercedes-Benz, pada Rabu (1/7) pukul 23.00 WIB.
Pertandingan ini menjadi ujian penting bagi The Three Lions yang menunjukkan performa meyakinkan sepanjang fase grup.
Dari segi statistik, Inggris memang lebih diunggulkan. Skuad asuhan Thomas Tuchel berhasil lolos sebagai juara Grup L dengan mengumpulkan tujuh poin dari dua kemenangan dan satu hasil imbang.
Mereka memulai turnamen dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia, dilanjutkan dengan hasil imbang tanpa gol melawan Ghana, dan menutup fase grup dengan kemenangan 2-0 atas Panama.
Keberhasilan ini didukung oleh produktivitas lini depan yang menjadi kekuatan utama tim.
Harry Kane, penyerang andalan Inggris, telah mencetak tiga gol, sementara kedalaman skuad yang dihuni pemain-pemain elite Eropa menjadikan Inggris salah satu kandidat kuat untuk melaju jauh dalam turnamen ini.
Namun, pelatih Thomas Tuchel menekankan pentingnya kewaspadaan dan tidak meremehkan lawan.
Hasil imbang melawan Ghana menjadi pengingat bahwa tim-tim asal Afrika dapat memberikan tantangan tersendiri, terutama ketika mereka menerapkan pertahanan solid dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Modal lain yang dimiliki Inggris adalah catatan sejarah yang menguntungkan. Hingga saat ini, Inggris belum pernah kalah melawan wakil Afrika dalam ajang Piala Dunia.
Dari sembilan pertemuan sebelumnya, mereka berhasil meraih lima kemenangan dan empat hasil imbang.
Rekor positif ini dimulai pada Piala Dunia 1986 ketika mereka bermain imbang 0-0 melawan Maroko.
Dalam edisi berikutnya, Inggris mengalahkan Mesir 1-0 di fase grup Piala Dunia 1990 dan menyingkirkan Kamerun dengan skor 3-2 melalui babak perpanjangan waktu di perempat final Piala Dunia 1990.
Selanjutnya, pada Piala Dunia 1998, mereka juga berhasil menaklukkan Tunisia dengan skor 2-0.
Pertemuan terakhir dengan tim asal Afrika terjadi pada edisi Piala Dunia 2026 ketika menghadapi Ghana yang berakhir tanpa gol.
Meskipun memiliki rekor positif tersebut, Inggris menyadari bahwa RD Kongo bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Les Leopards—sebutan untuk timnas RD Kongo—berhasil melaju ke fase gugur setelah finis sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik di Grup K yang dihuni oleh Kolombia, Portugal, dan Uzbekistan.
Mereka memulai turnamen dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal, kemudian kalah tipis 0-1 dari Kolombia sebelum memastikan tiket ke babak 32 besar berkat kemenangan 3-1 atas Uzbekistan.
Keberhasilan menahan Portugal menjadi sinyal bahwa pertahanan RD Kongo layak diwaspadai oleh Inggris.
Bahkan dua tim kuat seperti Portugal dan Kolombia hanya mampu mencetak satu gol ke gawang mereka sepanjang fase grup.
Dari sisi pengalaman kompetisi internasional, kedua tim memang terpaut jauh.
Inggris telah tampil dalam 17 edisi Piala Dunia, sedangkan RD Kongo baru mencicipi putaran final untuk kedua kalinya setelah sebelumnya tampil pada tahun 1974.
Dalam hal kualitas individu, Inggris juga memiliki keunggulan signifikan.
Selain Harry Kane yang merupakan pencetak gol terbanyak klub Tottenham Hotspur itu, skuad Inggris juga diperkuat oleh Jude Bellingham yang menunjukkan bakat luar biasa di lini tengah serta Marcus Rashford dan Noni Madueke yang siap memberikan ancaman dari sektor sayap.
Madueke sendiri baru-baru ini menggantikan Bukayo Saka yang mengalami cedera.
Sementara itu, meskipun berstatus sebagai underdog dalam pertandingan ini, kubu RD Kongo tetap percaya diri akan kemampuan mereka untuk memberikan kejutan kepada lawan-lawan mereka di turnamen ini.
Keberhasilan Maroko menyingkirkan Belanda di babak sebelumnya menjadi inspirasi bagi tim asal Afrika lainnya bahwa mereka memiliki potensi untuk membuat kejutan besar di fase gugur Piala Dunia.
Di sisi lain, pelatih Thomas Tuchel beserta timnya telah mempersiapkan segala kemungkinan untuk menghadapi pertandingan ini.
Termasuk jika harus ditentukan melalui adu penalti. Pemain sayap Noni Madueke menyampaikan bahwa latihan tendangan penalti menjadi fokus utama tim menjelang laga ini.
“Sama seperti semua fase permainan lainnya, kami menanggapi hal ini dengan sangat serius,” ungkap Madueke.
Ia melanjutkan bahwa saat memasuki fase gugur seperti sekarang ini, aspek tendangan penalti menjadi semakin krusial dalam pertandingan: “Jadi seperti setiap bagian permainan kami, kami ingin mencapai level tertinggi.”
Madueke juga mengungkapkan pandangannya mengenai tantangan menghadapi lawan-lawan yang menerapkan strategi bertahan sangat ketat.
“Setiap tim pasti memiliki kesulitan saat berhadapan dengan lawan yang menempatkan sebelas pemainnya di area pertahanan,” tuturnya lebih lanjut.
“Tidak mudah membongkarnya. Kita sudah melihat negara-negara besar lain mengalami hal yang sama.”
Dalam konteks inilah pentingnya bagi timnas Inggris untuk tetap fokus dan tidak lengah.
Sementara itu, para penyerang RD Kongo tetap optimistis bahwa mereka mampu memberikan kejutan meski menyadari kualitas tinggi dari lawan mereka.
Mereka yakin bahwa disiplin bertahan serta efektivitas serangan balik dapat dijadikan senjata utama dalam menghentikan laju The Three Lions menuju babak selanjutnya.
Jika inggris berhasil mempertahankan rekor positif mereka atas wakil Afrika dalam ajang Piala Dunia kali ini, maka langkah menuju babak 16 besar akan semakin mantap dengan kepercayaan diri tinggi dari para pemainnya.
Namun apabila RD Kongo kembali menunjukkan performa solid seperti saat menahan Portugal sebelumnya, bukan tidak mungkin kejutan besar akan kembali terlahir di ajang bergengsi ini.
Dengan berbagai persiapan dan antisipasi matang dari kedua kubu menjelang pertandingan tersebut, seluruh penggemar sepak bola dunia tentu menunggu-nunggu aksi menarik antara dua tim yang penuh semangat ini. (*/stch/dda)
















