BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kisah inspiratif datang dari Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Banyumas, di mana Tirwan (49), seorang YouTuber lokal, membuktikan bahwa kesederhanaan dapat menjadi daya tarik tersendiri di dunia digital.
Kanal YouTube miliknya, Angger Pradesa, kini telah menarik perhatian lebih dari 233 ribu subscriber melalui konten-konten yang menggambarkan kehidupan desa terutama dalam bidang pertanian dan kuliner.
Dikenal sebagai “kampung YouTuber,” Desa Cilongok bukan hanya rumah bagi Siboen Nugroho yang terkenal dengan konten perbengkelannya tetapi juga bagi Tirwan yang mengangkat potensi daerahnya dengan cara berbeda.
Lebih dari 500 video telah ia produksi dan unggah ke kanalnya. Konten-konten tersebut tidak menawarkan sensasi berlebihan tetapi justru cerita-cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari di desa.
Mulai dari kegiatan berkebun hingga proses memasak bersama sang istri. Saat ditemui awak media di rumahnya pada Senin (12/1), Tirwan tengah memberi makan kucing peliharaannya dan menunda sementara aktivitas berkebun serta pembuatan konten akibat cuaca yang kurang bersahabat.
Ia bercerita bahwa terakhir kali ia membuat konten adalah sepuluh hari lalu ketika ia dan istrinya memanen lompong padi lalu memasaknya dengan sambal petai, sebuah video yang menarik puluhan ribu penonton.
Empat tahun silam, Tirwan memulai perjalanannya sebagai seorang YouTuber bukan untuk mengejar popularitas tetapi untuk menambah penghasilan keluarga.
Sehari-hari, ia memproduksi cilok dan siomay rumahan sebagai sumber pendapatan utama.
“Besar kecilnya hasil dari YouTube disyukuri. YouTuber bukan sumber penghasilan utama,” ungkapnya dengan tulus.
Dalam hal peralatan, Tirwan tidak menggunakan perangkat mewah. Ia hanya memanfaatkan satu ponsel yang dibeli dengan harga di bawah Rp 2 juta dan dibantu sang istri sebagai kameraman.
“Tidak ada device khusus. Yang sudah saya punya dengan dibantu istri jalan,” jelasnya sembari menegaskan bahwa kualitas konten tidak selalu berkaitan erat dengan mahalnya perangkat yang digunakan.
Namun demikian, tantangan tetap ada terutama dengan semakin banyaknya kreator konten baru yang bermunculan.
Menyadari hal ini, Tirwan tetap konsisten menjaga keunikan tema kanalnya yaitu potensi pertanian dan kuliner desa.
Ia belajar dari pengalaman saudaranya, Siboen Nugroho, serta mengikuti perkembangan aturan-aturan baru dari YouTube agar tetap relevan dan menarik bagi audiens.
Dua tahun lalu, kerja keras Tirwan membuahkan hasil ketika ia menerima Silver Play Button dari YouTube sebagai penghargaan atas pencapaiannya meraih 100 ribu subscriber.
“Alhamdulillah sekitar dua tahun lalu Silver Play Button saya terima untuk capaian 100 ribu subscriber. Ke depan tidak neko-neko selain terus memproduksi konten seputar desa,” ujarnya penuh syukur.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali glamor dan penuh persaingan sengit, Tirwan memilih jalur sunyi namun bermakna.
Ia mengangkat potensi desanya melalui cara-cara sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.
Keputusan ini membuktikan bahwa meski tanpa gemerlap sensasi atau kontroversi, kesederhanaan mampu menemukan tempat tersendiri di hati penontonnya.
Tirwan adalah contoh nyata bagaimana kreativitas dan ketekunan dapat membawa seseorang menuju kesuksesan meski dimulai dari sesuatu yang tampak kecil dan sederhana.
Dengan dukungan sang istri yang setia menjadi kameraman setiap kali mereka beraksi di depan kamera ponsel mereka, pasangan ini terus melangkah maju menghadapi tantangan dunia digital dengan penuh semangat dan optimisme.
Kisah sukses Tirwan dalam membangun kanal YouTube-nya memberikan inspirasi sekaligus pelajaran berharga bagi siapa saja bahwa dengan tekad kuat serta fokus pada kekhasan lokal, setiap orang memiliki peluang untuk meraih kesuksesan tanpa harus meninggalkan akar tradisi ataupun jati diri mereka sendiri. (yda/stch/dda)
















