Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Selat Hormuz Kembali Ramai, Ekspor Minyak Mentah Tembus 10 Juta Barel per Hari

Kapal Tanker Pertamina Dapat Lampu HijauKapal Tanker Pertamina Dapat Lampu Hijau
LAMPU HIJAU: Kementerian Luar Negeri gerak cepat melakukan diplomasi usai Iran memberi sinyal positif mengizinkan dua kapal Pertamina lewati Selat Hormuz

BANYUMASEKSPRES.ID, Ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz mulai mereda.

Aktivitas pengiriman minyak yang sempat terganggu akibat konflik kini kembali meningkat seiring pulihnya keamanan jalur pelayaran internasional.

Kondisi ini menjadi kabar positif bagi pasar energi global karena berpotensi menstabilkan pasokan minyak dunia sekaligus menekan fluktuasi harga minyak mentah.

Berdasarkan data perusahaan pemantau komoditas Kpler, ekspor gabungan minyak mentah dan kondensat dari lima negara utama di kawasan Teluk, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Irak, dan Iran, mencapai sekitar 10,07 juta barel per hari sepanjang Juni 2026.

Angka tersebut meningkat lebih dari 3,5 juta barel per hari dibandingkan bulan Mei ketika konflik masih berdampak besar terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Sementara itu, lembaga analisis energi Vortexa memperkirakan volume ekspor minyak mencapai sekitar 10,2 juta barel per hari pada Juni.

Peningkatan ini menunjukkan pemulihan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran 7 juta barel per hari.

Meski demikian, angka tersebut masih berada sekitar 40 persen di bawah capaian periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 16,5 juta barel per hari.

Pulihnya ekspor minyak dunia tidak terlepas dari tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni 2026.

Kesepakatan tersebut mengakhiri ketegangan militer sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.

Dengan membaiknya kondisi keamanan di kawasan tersebut, jutaan barel minyak mentah yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia mulai kembali dikirim ke berbagai negara tujuan.

Perkembangan ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar energi yang selama beberapa pekan menghadapi ketidakpastian pasokan akibat konflik.

Analis Kpler, Johannes Rauball, menjelaskan bahwa proses normalisasi pengiriman minyak berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Menurutnya, penumpukan minyak mentah yang sempat terjadi di kawasan Teluk Persia mulai terurai setelah aktivitas pelayaran kembali berjalan secara bertahap.

Meski demikian, Rauball menyebutkan masih terdapat sekitar 23 juta barel minyak mentah yang menunggu giliran untuk melintasi Selat Hormuz.

Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan distribusi energi global masih berlangsung dan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Uni Emirat Arab menjadi negara dengan peningkatan ekspor minyak paling signifikan selama Juni 2026.

Berdasarkan data Kpler, Vortexa, dan LSEG, ekspor minyak UEA mencapai kisaran 3,7 hingga 3,8 juta barel per hari.

Jumlah tersebut meningkat lebih dari satu juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya sekaligus menjadi rekor baru bagi negara tersebut.

Arab Saudi juga mencatat kenaikan ekspor yang cukup besar. Negara penghasil minyak terbesar di kawasan Teluk itu meningkatkan pengiriman minyak sekitar 768 ribu barel per hari sehingga total ekspornya mencapai sekitar 4,52 juta barel per hari.

Bahkan pada pekan terakhir Juni, aktivitas ekspor melalui Pelabuhan Ras Tanura sempat mendekati 6,3 juta barel per hari.

Selama konflik berlangsung, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memanfaatkan jaringan pipa darat sebagai jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Strategi tersebut membantu kedua negara mempertahankan sebagian aktivitas ekspor meskipun jalur laut mengalami gangguan.

Berbeda dengan Arab Saudi dan UEA, Irak serta Kuwait memiliki pilihan jalur distribusi yang lebih terbatas. Akibatnya, pemulihan ekspor kedua negara berlangsung lebih lambat.

Meski demikian, ekspor minyak Irak dan Kuwait mulai meningkat hingga sekitar 800 ribu barel per hari.

Kuwait juga menaikkan produksi minyak menjadi sekitar 1,65 juta barel per hari sepanjang Juni.

Sementara itu, Iran mencatat peningkatan ekspor yang cukup tajam setelah pelonggaran blokade oleh Amerika Serikat.

Volume ekspor minyak Iran meningkat lebih dari 70 persen hingga mencapai sekitar 640 ribu barel per hari.

Kenaikan tersebut turut memperkuat pasokan minyak global yang sebelumnya mengalami tekanan akibat konflik geopolitik.

Meningkatnya ekspor minyak juga diikuti pulihnya aktivitas pelayaran tanker di Selat Hormuz.

Perusahaan pialang kapal BRS mencatat sebanyak 98 kapal tanker melintasi jalur tersebut selama periode 22 hingga 28 Juni atau rata-rata sekitar 14 kapal per hari.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak konflik pecah dan menunjukkan meningkatnya kepercayaan perusahaan pelayaran terhadap keamanan kawasan.

Bertambahnya pasokan minyak dari negara-negara Teluk memberikan dampak positif terhadap pasar energi internasional.

Ketersediaan pasokan yang semakin membaik membantu meredakan tekanan harga minyak dunia sehingga perlahan kembali mendekati level sebelum konflik terjadi.

Jika proses normalisasi terus berlangsung, pasar minyak global diperkirakan akan semakin stabil dengan pasokan yang lebih terjaga dalam beberapa bulan mendatang. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Ounahi Gemilang Antar Maroko Terbang

Maroko Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026 Berkat Brace Azzedine Ounahi

Berita Selanjutnya
1.000 Pendaki Padati Gunung Slamet

Pendaki Tembus 1.000 Orang Saat Libur Sekolah, BPBD Purbalingga Ingatkan Bahaya Karhutla di Gunung Slamet